Bacaan dan Renungan Selasa 05 Oktober 2021|Pekan Biasa XXVII

Penduduk Niniwe berbalik dari tingkah lakunya yang jahat,dan Tuhan menaruh belas kasih.

3:1 Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: 3:2 “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” 3:3 Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. 3:4 Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” 3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. 3:6 Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. 3:7 Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. 3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang dilakukannya. 3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” 3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.



Ref:Jika Engkau mengingat-ngingat kesalahan, ya Tuhan,siapakah yang dapat tahan?

Dari jurang yang dalam aku berseru kepada-Mu, ya Tuhan! Tuhan, dengarkanlah suaraku! Biarlah telinga-Mu menaruh perhatian kepada suara permohonanku.Jika Engkau mengingat-ingat kesalahan, ya Tuhan, siapakah yang dapat tahan? Tetapi pada-Mu ada pengampunan, supaya Engkau ditakuti orang.Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel! Sebab pada Tuhan ada kasih setia, dan Ia banyak kali mengadakan pembebasan. Dialah yang akan membebaskan Israel dari segala kesalahannya.

Berbahagialah yang mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.



Marta menerima Yesus di rumahnya. Maria telah memilih bagian yang paling baik.

10:38 Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah kampung. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. 10:39 Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, 10:40 sedang Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata: “Tuhan, tidakkah Engkau peduli, bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” 10:41 Tetapi Tuhan menjawabnya: “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, 10:42 tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.”

Bacaan pertama menunjukkan betapa besar belas kasihan Allah kepada umat manusia. Kejahatan Niniwe sampai di telinga Allah. Tetapi sebelum melaksanakan hukuman, Allah hendak memperingatkan mereka. Untuk itu Yunus diutus kembali. Yunus hanya menyampaikan berita penghukuman yang akan Allah jatuhkan, dan sama sekali tidak menyinggung agar mereka bertobat dari tingkah langkah mereka yang jahat (ayat 4). Hal ini menunjukkan bahwa kesediaannya adalah karena terpaksa. Ia memang lebih mengharap bangsa itu dihukum daripada bertobat dan diampuni. Tetapi yang di luar harapan Yunus justru terjadi. Bukan hanya raja dan rakyat yang berkabung tetapi juga binatang peliharaan.

Ada lagi hal lain yang mengejutkan dan yang kelak akan membuat Yunus protes kepada Allah. Di luar harapan Yunus, ternyata Allah menyesal ketika melihat pertobatan orang Niniwe. Karenanya Ia tidak jadi membinasakan mereka (ayat 10). Dilibatkannya binatang peliharaan untuk berkabung dan berpuasa mungkin dapat mengindikasikan bahwa orang Niniwe sendiri tidak yakin bahwa Allah akan sudi mengampuni mereka (ayat 7-8). Itulah sebabnya ada kemungkinan bahwa penyesalan Allah adalah sesuatu yang tidak diduga oleh orang Niniwe.

Sepertinya cerita ini banyak berisi hal-hal yang tidak terduga. Di satu sisi Yunus tidak menduga bahwa orang Niniwe akan menanggapi pemberitaannya, dan di lain sisi orang Niniwe sendiri tidak menduga bahwa Allah akan menanggapi juga perkabungan mereka. Benarlah firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba (Yes. 1:18).” Allah tidak pernah menolak mereka yang menyesali dosanya. Sekalipun kita merasa bahwa kita sudah sangat jauh dari Tuhan, tetapi sesungguhnya Ia tidak pernah berlambat-lambat untuk mendengar seruan umat-Nya.

Bacaan Injil hari ini menampilkan Marta yang marah pada Tuhan. “Melayani Tuhan” jelas merupakan aktivitas yang mulia, apapun bentuknya. Oleh karena itu seharusnya dilakukan dengan sikap yang benar pula. Namun kadang kala orang mengalami disorientasi (kesamaran arah) sehingga tidak dapat bersikap sebagaimana seharusnya.

Kisah Maria dan Marta bisa dilihat sebagai dua cara yang bisa dipilih untuk menghayati hidup Kristen; aktif atau kontemplatif. Aktif seperti Marta; dan hidup kontemplatif dicontohkan Maria.

Dikatakan bahwa Maria “duduk dekat kaki Tuhan” (ay. 39). Apa artinya ini? Disini Maria bukanlah terkagum-kagum pada pujaannya, lalu berusaha berada dekat sang idola. Menarik memperhatikan, Paulus juga dikatakan “dididik dekat kaki Gamaliel” (Kis 22:3). Dalam terjemahan Indonesia, kata “dekat kaki” memang tidak ada. Yang kita temukan adalah kalimat “dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel”. Secara sederhana, istilah “dekat kaki” ini mau menunjuk sikap seorang yang ingin menjadi murid seorang rabi, dan kelak juga menjadi rabi.

Inilah mungkin yang terjadi pada Marta. Kedatangan Yesus dan murid-murid membuat Marta merasa wajib menjadi tuan rumah yang baik. Tetapi Maria, saudaranya, tidak membantu. Dia malah duduk dengan tenangnya di kaki Yesus. Ini membuat Marta tidak dapat mengendalikan dirinya. Bagaimana mungkin Maria membebankan semua kerepotan itu di pundaknya saja, seolah-olah hanya dia yang berkewajiban mempersiapkan suguhan bagi para tamu? Marta juga menujukan kemarahannya pada Tuhan (40). Namun respons Yesus menunjukkan bahwa Ia bukan tidak peduli pada Marta yang bersusah payah menjadi tuan rumah yang baik. Hanya saja Yesus melihat bahwa Maria yang duduk di kaki-Nya, yang menyambut Dia dengan tepat. Marta ditegur karena telah khawatir dan menyusahkan diri dengan hal-hal yang tidak hakiki (41). Maria telah memilih yang terbaik (42), yaitu membiarkan Tuhan melayaninya. Jika Marta disibukkan dengan pelayanannya kepada Yesus maka Maria disibukkan oleh pelayanan Yesus baginya. Inilah sikap yang dihargai oleh Yesus yaitu sikap seorang murid, yang mau belajar dan mau mendengar.

Sudahkah sikap sebagai murid juga menjadi sikap kita? harus kita ketahui bahwa menjadi murid bukan berarti menyerahkan diri pada kesibukan pelayanan saja! Tetapi jangan sampai kita menempatkan sesuatu yang baik (pelayanan) lebih utama daripada yang terbaik yaitu berpaut pada Allah dengan belajar dan mendengar firman-Nya. Ingatlah bahwa kesibukan melayani Tuhan bukanlah alasan untuk tidak punya waktu merenungkan firman Tuhan.


Luk 10:38-42 Marta menerima Yesus di rumahnya. Maria telah memilih bagian yang paling baik.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.