Bacaan dan Renungan Selasa 05 November 2019 Pekan Biasa XXXI

Kita masing-masing adalah anggota satu sama lain.


Saudara-saudara,kita ini, walaupun banyak, merupakan satu tubuh dalam Kristus, masing-masing adalah anggota satu sama lain.Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.Jika karunia itu untuk bernubuat,baiklah kita bernubuat sesuai dengan iman kita.Jika untuk melayani, baiklah kita melayani.Jika untuk mengajar, baiklah kita mengajar.jika untuk menasihati, baiklah kita menasihati.Siapa yang membagi-bagikan sesuatu,hendaklah ia membagi-bagi dengan hati yang ikhlas.Siapa yang memberi pimpinan,hendaklah ia memimpin dengan rajin.Siapa yang menunjukkan kemurahan hati,hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.


Kasihmu janganlah pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.Hendaklah kalian saling menaruh kasih sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.Janganlah kerajinanmu berkurang,biarlah rohmu bernyala-nyala, dan layanilah Tuhan.Bersukacitalah dalam pengharapan,sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa.Bantulah orang-orang kudus dalam kekurangan dan berusahalah selalu memberikan tumpangan!


Berkatilah orang yang menganiaya kalian! Berkatilah dan jangan mengutuk!Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita,dan menangislah dengan orang yang menangis.Hendaklah kalian sehati sebudi dalam hidupmu bersama.Janganlah kalian memikirkan yang muluk-muluk,tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana.



Tuhan, lindungilah aku dalam damai-Mu.

Tuhan, aku tidak tinggi hati,dan tidak memandang dengan sombong;aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku.Sungguh, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku;seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya,ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.Berharaplah kepada Tuhan, hai Israel,dari sekarang sampai selama-lamanya!

Datanglah kepada-Ku semua yang letih lesu dan bebeban berat.Aku akan memberikan kelegaan kepada kalian.



Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk,karena rumahku harus penuh.


Pada waktu itu Yesus diundang makan oleh seorang Farisi.Sementara perjamuan berlangsung,seorang dari tamu-tamu berkata kepada Yesus,”Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.”


Tetapi Yesus berkata kepadanya,”Ada seorang mengadakan perjamuan besar.Ia mengundang banyak orang.Menjelang perjamuan dimulai,ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan,’Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap.’Tetapi mereka semua minta dimaafkan. Yang pertama berkata,’Aku baru membeli ladang dan harus pergi melihatnya;aku minta dimaafkan.’Yang lain berkata,’Aku baru membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya;aku minta dimaafkan.’Yang lain lagi berkata,’Aku baru saja menikah,dan karena itu aku tidak dapat datang.’


Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semua itu kepada tuannya.Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya, ‘Pergilah segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan cacat,orang-orang buta dan lumpuh.’Kemudian hamba itu melaporkan,’Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan.Sekalipun demikian, masih ada tempat.’Maka tuan itu berkata,’Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk,karena rumahku harus penuh.’Sebab Aku berkata kepadamu,Tidak ada seorang pun dari para undangan itu akan menikmati jamuan-Ku.”


Mengapa orang bisa sombong akan kelebihan dirinya? Mengapa orang sulit membagi ilmu atau keahliannya kepada orang lain? Mengapa warga gereja pasif sehingga kehidupan gereja tidak dinamis? Sebab tidak sungguh menghayati bahwa karunia adalah pemberian Allah bukan miliknya sendiri. Jika tiap orang Kristen menyadari kebenaran ini, pastilah kualitas pelayanan gereja akan berbeda dari yang kini kita miliki. Memang di sana sini kita temui gereja yang maju karena cukup banyak warganya yang menggunakan berbagai karunia yang mereka miliki dalam berbagai pelayanan. Namun mengingat tiap orang pasti memiliki karunia yang berbeda, kita harus lebih mengajarkan dan mempraktekkan karunia-karunia yang Tuhan berikan demi kemajuan Gereja-Nya.


Karunia yang berlainan. Talenta, bakat atau kemampuan, adalah karunia yang berasal dari Tuhan untuk kepentingan bersama yaitu Gereja-Nya. Tuhan yang maha bijak pasti memberi karunia-karunia yang berbeda-beda itu dengan maksud tertentu. Sebab itu jangan kita abaikan apalagi salahgunakan. Yang diberi karunia bernubuat harus melakukan dengan iman. Nubuat tidak sama dengan ramalan. Ramalan bersifat spekulatif, tidak didasari iman yang benar, Bernubuat atau menyuarakan suara kenabian adalah tindakan iman taat kepada Tuhan yang memberikan pesan yang bersifat teguran, penghiburan, peringatan, petunjuk, selalu dengan tujuan membangun dan menguatkan baik jemaat secara keseluruhan maupun seseorang secara pribadi. Juga karunia melayani, mengajar, menasihati, dll. harus dilakukan dengan sikap benar dan dengan tujuan membangun Gereja Tuhan.


Kasih tak boleh pura-pura, sebab bila demikian kita menipu diri sendiri, mendustai orang yang kita kasihi. Hal itu ditolak Tuhan, sebab mengasihi sesama adalah perintah Tuhan yang harus ditaati. Di dalam Tubuh Kristus, kasih harus aktif timbal balik. Kasih yang sudah kita terima dari Tuhan, dan yang menjadi teladan bagi kita mempersatukan kita dalam suatu persekutuan kasih yaitu Gereja-Nya. Sikap Kristen, baik dalam kalangan sendiri, dan terlebih lagi keluar adalah aktif pro kasih.


Bantulah orang-orang kudus. Membantu para hamba Tuhan dalam kebutuhan hidup mereka, terutama yang sedang kekurangan berarti turut serta menunjang pekerjaan Tuhan. Sikap dan tindakan kasih itu pasti sangat diperhatikan oleh Tuhan sebab mengandung nilai sebagai persembahan kepada Tuhan sendiri (Mat. 25:40).


Balaslah kejahatan dengan kebaikan. Lakukan kebaikan, utamakan hidup damai dan berilah tempat kepada murka Allah. Dengan hati lembut, kita bawa permasalahan dalam doa kepada Tuhan. Biar Tuhan yang akan mengadili dengan kebijaksanaan-Nya yang dalam itu. Bila musuh yang lapar kita beri makan, dan yang haus kita beri minum, mereka akan takjub diperhadapkan dengan sifat-sifat Allah sendiri.


Rendah hati bukan saja merupakan kualitas moral, tetapi ungkapan sikap iman di hadapan Tuhan. Kerendahan hati seorang Kristen melambangkan sikap hatinya di hadapan manusia maupun Tuhan. Di hadapan manusia ia tidak merasa diri lebih baik atau lebih tinggi, di hadapan Tuhan ia tunduk pada kedaulatan dan hikmat-Nya.


Pernyataan pemazmur bahwa dirinya tidak tinggi hati dan sombong (1) adalah sikap komitmennya untuk menjaga diri rendah hati di hadapan Tuhan. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kesombongan membawa kepada kehancuran (Ams. 18:12). Hal-hal yang besar dan ajaib yang dilakukan manusia merupakan bentuk kesombongan. Sikap seperti demikian dilihat melawan Allah atau menganggap diri sebagai Allah.


Pemazmur mengambil sikap menenangkan jiwa dan rendah hati (Mzm. 131:2). Ia merefleksikan keberadaan dirinya di hadapan Allah. Melaluinya ia menyadari bahwa dirinya seperti seorang anak kecil yang masih menyusu bergantung penuh pada ibunya. Demikian seharusnya ia bersandar penuh hanya kepada Allah. Pemazmur kemudian mengajak bangsanya untuk merendahkan diri dan berharap kepada-Nya (3), dengan tidak melakukan hal-hal yang sombong dan besar, tapi menenangkan diri dan berserah kepada Allah. Hanya dengan dua sikap hati inilah, bangsa Israel akan diberkati oleh Tuhan untuk selama-lamanya.


Banyak pemimpin baik umum maupun rohani yang jatuh karena kesombongan. Mereka tidak lagi mau mendengar apalagi menyimak keluhan bawahan atau orang yang dipimpinnya. Nasihat orang berpengalaman, kritikan dari pihak lawan, bahkan teguran Tuhan sekalipun diabaikannya. Orang sombong sebenarnya sasaran empuk Iblis karena ia mengandalkan diri sendiri dan menjauhkan diri dari Tuhan.



Renungkan: Orang yang bersandar pada Tuhan mendapatkan kekuatan dan kemenangan karena Tuhan pasti akan membelanya!


Bila kita mengadakan pesta namun lupa mengundang seorang kerabat, niscaya kita akan menerima keluhannya yang mempertanyakan alasan tidak mengundang dia. Begitu pula sebaliknya, ketika orang lain mengadakan pesta dan kita tidak diundang. Ini terjadi karena kita menganggap undangan sebagai penghargaan dari si pengundang bagi kita. Tetapi bukan demikian yang terjadi dalam nas hari ini.


Saat itu Yesus masih berada di rumah seorang pemimpin dari orang-orang Farisi. Seseorang yang ikut mendengar pemaparan Yesus, berkomentar tentang bahagianya orang-orang yang dijamu dalam Kerajaan Allah (15). Ia berkata demikian seolah memiliki pemahaman bahwa hal itu merupakan anugerah. Tetapi menurut Yesus tidak semua orang akan menghargai anugerah itu. Melalui perumpamaan, Dia berkisah tentang mereka yang diundang datang ke perjamuan namun memiliki 1001 macam alasan untuk tidak hadir. Mungkin menurut mereka, undangan itu tidaklah penting karena masih ada hal lain yang harus mereka lakukan (18-20). Tetapi perjamuan harus tetap dilaksanakan, tidak bisa ditunda! Kemudian undangan tersebut disebarluaskan kepada orang-orang lainnya, meskipun tadinya mereka dianggap tak layak. Mereka merespons undangan ini dengan sukacita, bagaikan mendapat sebuah anugerah. Kesempatan yang sudah disia-siakan oleh sebagian orang, membuat anugerah tersebut diperluas kepada lebih banyak orang.


Kita pun diundang untuk menerima keselamatan yang Allah tawarkan pada kita. Ini merupakan anugerah, karena sebenarnya bukan sesuatu yang sepantasnya kita miliki. Menolak anugerah Allah berarti bencana dan merupakan penghinaan bagi Dia yang telah membayar harga yang sangat mahal untuk menyediakan anugerah itu bagi kita. Karena itu, dengarlah undangan-Nya sekarang dan berilah respons positif! Jangan ditunda!


DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena dalam doa kami Engkau telah memanggil kami ke dalam persahabatan dengan diri-Mu. Berbicaralah, ya Tuhan. Kami ada di sini untuk mendengarkan Engkau. Buatlah kami utuh dengan sabda-Mu. Amin.(Lucas Margono)


Luk 14:15-24 Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk, karena rumahku harus penuh.

Luk 14:15-24
Pergilah ke semua jalan dan persimpangan
dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk,
karena rumahku harus penuh.

” data-medium-file=”https://carekaindo.files.wordpress.com/2019/11/05-nov-2019.jpg?w=300″ data-large-file=”https://carekaindo.files.wordpress.com/2019/11/05-nov-2019.jpg?w=955″>

Luk 14:15-24 Pergilah ke semua jalan dan persimpangan dan paksalah orang-orang yang ada di situ masuk, karena rumahku harus penuh.

Bacaan dan renungan ini diambil dari Carekaindo

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.