Bacaan dan Renungan Sabtu 30 Januari 2021 Pekan Biasa III

Abraham menantikan kota yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri.

Saudara-saudara, iman adalah dasar dari segala yang kita harapkan dan bukti dari segala yang tidak kita lihat. Sebab oleh imanlah telah diberikan kesaksian kepada nenek moyang kita. Karena iman, Abraham taat ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya; ia berangkat tanpa mengetahui tempat yang ia tuju. Karena iman, ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing, dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang beralas kokoh, yang dirancang dan dibangun oleh Allah sendiri.

Karena iman pula Abraham dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia yakin bahwa Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, dari satu orang, yang malahan telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya.

Dalam iman, mereka semua telah mati sebagai orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi hanya dari jauh mereka melihatnya; dan melambai-lambai kepadanya dan mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. Andaikata dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan, maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke sana. Tetapi yang mereka rindukan adalah tanah air yang lebih baik, yaitu tanah air surgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena Ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka.

Karena iman, Abraham rela mempersembahkan Ishak tatkala ia dicobai, Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” Abraham percaya bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang sekalipun mereka sudah mati! Dan dari sana ia seakan-akan telah menerimanya kembali.

Ia mengangkat bagi kita seorang penyelamat yang gagah perkasa, putera Daud, hamba-Nya. Seperti dijanjikan-Nya dari sediakala, dengan perantaraan para nabi-Nya yang kudus.Untuk menyelamatkan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua lawan yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada leluhur kita dan mengindahkan perjanjian-Nya yang kudus.Sebab Ia telah bersumpah kepada Abraham, bapa kita, akan membebaskan kita dari tangan musuh. Agar kita dapat mengabdi kepada-Nya tanpa takut dan berlaku kudus dan jujur di hadapan-Nya seumur hidup.

Demikian besar kasih Allah kepada dunia, sehingga Ia menyerahkan Anak-Nya yang tunggal. Setiap orang yang percaya kepada-Nya memiliki hidup abadi.


Angin dan danau pun taat kepada Yesus.

Pada suatu hari, ketika hari sudah petang, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak yang ada di sana lalu bertolak, dan membawa Yesus dalam perahu itu di mana Ia telah duduk; dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah taufan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu,sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan di sebuah tilam. Maka murid-murid membangunkan Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?” Yesus pun bangun, menghardik angin itu dan berkata kepada danau, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau pun menjadi teduh sekali. Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa gerangan orang ini? Angin dan danau pun taat kepada-Nya?”


Situasi pandemi Covid-19 membuat banyak orang mengalami ketakutan yang luar biasa. Takut terpapar atau menyebarkan virus itu kepada anggota keluarga, teman, tetangga, dll. Pengalaman serupa pernah dialami para murid ketika menghadapi badai dan gelombang. Mereka panik, takut, dan cemas yang luar biasa.

Pengalaman para murid yang menghadapi taufan dalam kecemasan itu berbeda jauh dengan pengalaman Abraham yang menghadapi “badai kehidupan” untuk mempersembahkan Ishak. Kita bisa membayangkan betapa galaunya hati Abraham bahwa Anak satu-satunya yang ditunggu di masa tuanya harus dikurbankan. Namun, karena ketaatan iman itulah maka Abraham mengalami kemurahan Allah. Salah satu berkatnya adalah Sara, istrinya, pada usia tuanya masih bisa mengandung.

Hidup kita tidak mungkin tidak ada masalah dalam pergulatan. Namun, sebagai murid Yesus, apa pun persoalan dalam hidup kita pasti akan berlalu dan kita akan berdiri sebagai pemenang. Yesus menjanjikan kita bahwa Ia selalu menyertai kita dalam situasi apa pun: saat kita tertawa, saat kita menangis, saat kita terluka, saat kita bergumul, dan sepanjang hidup kita  Ia terus menyertai. Yang dituntut dari pihak adalah iman yang teguh dan kasih yang sempurna.

Tuhan Yesus, Engkaulah andalan kami, sertailah kami dan berilah kami ketenangan tatkala kami mengalami badai dalam perjalanan hidup kami. Kami sungguh percaya bahwa Engkau tak pernah membiarkan kami dihempas oleh badai persoalan yang terjadi sepanjang lorong kehidupan ini. Amin


Sumber Renungan: Ziarah Batin 2021


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.