Bacaan dan Renungan Sabtu 21 Agustus 2021 Pekan Biasa XX

Naomi mempunyai seorang sanak dari pihak suaminya, seorang yang kaya raya dari kaum Elimelekh, namanya Boas. Pada suatu hari Rut, wanita Moab itu, berkata kepada Naomi, “Ijinkanlah aku pergi ke ladang memungut bulir-bulir jelai di belakang orang yang murah hati kepadaku.” Sahut Naomi, “Pergilah, anakku.”

Maka pergilah Rut ke ladang dan memungut jelai di belakang para penyabit. Kebetulan ia berada di tanah milik Boas, yang berasal dari kaum Elimelekh. Maka berkatalah Boas kepada Rut, “Dengarlah, anakku. Tidak usah engkau pergi memungut jelai ke ladang lain, dan tidak usah juga engkau pergi dari sini, tetapi tetaplah dekat pekerja-pekerjaaku wanita. Lihatlah ladang yang sedang disabit ini. Ikutilah wanita-wanita itu dari belakang. Sebab aku telah berpesan kepada para pekerja laki-laki, supaya mereka jangan mengganggu engkau. Jika engkau haus, pergilah ke tempayan-tempayan itu, dan minumlah air yang dicedok oleh para pekerja itu.”

Lalu sujudlah Rut menyembah dengan mukanya sampai ke tanah dan berkata, “Bagaimana mungkin aku mendapat belaskasih Tuan, sehingga Tuan memperhatikan daku, padahal aku ini seorang asing?” Boas menjawab, “Aku telah mendengar kabar tentang segala sesuatu yang kaulakukan kepada mertuamu sesudah suamimu meninggal dunia, dan bagaimana engkau meninggalkan ibu bapamu dan tanah kelahiranmu serta pergi kepada suatu bangsa yang belum kaukenal.” Beberapa waktu berselang Boas memperisteri Rut dan menghampirinya. Maka atas karunia Tuhan, Rut mengandung, lalu melahirkan seorang anak laki-laki. Sebab itu para wanita berkata kepada Naomi, “Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus. Semoga anak ini menjadi termasyhur di Israel. Dialah yang akan menyegarkan jiwamu dan memelihara engkau pada waktu rambutmu telah putih. Sebab menantumu yang sayang padamu telah melahirkannya. Dia lebih berharga bagimu daripada tujuh anak laki-laki.” Dan Naomi mengambil anak itu serta meletakkannya di pangkuannya, dan dialah yang mengasuhnya.

Lalu wanita-wanita tetangga memberi nama kepada anak itu dengan berkata, “Seorang anak laki-laki telah lahir bagi Naomi.” Anak itu mereka beri nama Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

Berbahagialah orang yang takwa kepada Tuhan, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau menikmati hasil jerih payahmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu!Isterimu akan menjadi laksana pohon anggur subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu!Sungguh, demikianlah akan diberkati Tuhan orang laki-laki yang takwa hidupnya.Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion: boleh melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu,Sekali peristiwa berkatalah Yesus kepada orang banyak dan murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi
telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kalian turuti perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya, tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang. Mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang. Mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kalian, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satulah Rabimu, dan kalian semua adalah saudara. Dan janganlah kalian menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah pula kalian disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Kristus. Siapa pun yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Barangsiapa meninggikan diri, akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, akan ditinggikan.”

Tuhan berdaulat dalam menyatakan dan mewujudkan rencana-Nya lewat berbagai aspek kehidupan. Dari kitab Hakim-hakim kita belajar bahwa Dia bisa memakai bangsa asing, untuk menghukum umat-Nya, demi pertobatan mereka. Dia juga bisa memakai para hakim untuk membebaskan umat-Nya dari penjajahan bangsa musuh, demi kesetiaan-Nya pada Perjanjian Sinai.
Cerita ini terjalin sangat indah. Sengaja penulis Rut menyebutkan adanya relasi keluarga antara Elimelekh dengan Boas (ayat 1) untuk menunjukkan bagaimana Tuhan berkarya lewat sanak keluarga untuk memelihara dua janda miskin. Penulis kemudian memakai istilah “kebetulan”, untuk membangun nuansa di hati pembaca melihat bagaimana Rut “tanpa sengaja” masuk ke ladang Boas. Saat kisah ini berlangsung, para pelakunya, Rut dan Boas, tidak menyadari tangan kedaulatan Tuhanlah yang merajut pertemuan itu.

Kedaulatan Tuhan tidak mengurangi tanggung jawab manusia. Respons iman Rut, yang berwujud kepedulian pada Naomi, membawanya ke ladang Boas (ayat 2-3). Demikian juga, walau kaya raya, respons iman Boas yang ramah kepada karyawan-karyawannya, serta menjalankan kewajiban terhadap orang miskin itulah yang mempertemukannya dengan Rut (ayat 4-5). Sikap Boas kepada Rut kemudian sangat sesuai dengan kebesaran hatinya (ayat 11-12) yang melampaui prasangka rasial (di ayat 13, Rut mengaku perempuan asing).

Dua hal yang bisa kita pelajari lewat perikop ini. Pertama, Tuhan berkarya lewat tanggapan iman anak-anak-Nya. Tangan kuasa dan pengasihan-Nya sampai sekarang aktif bekerja. Apakah kita proaktif dengan karya-Nya? Kedua, Tuhan bekerja lewat sarana konvensional, seperti keluarga dan komunitas yang tidak dibatasi prasangka manusia. Tuhan memakai bangunan kasih persaudaraan untuk menolong orang yang membutuhkannya. Seberapa jauh kita menyatakan kepedulian kita kepada orang-orang di sekeliling kita tanpa membeda-bedakan?

Pertolongan Tuhan tak pernah tanggung-tanggung. Dia tidak hanya menyelamatkan dari kehancuran, Dia memulihkan dan mengurapi hamba-Nya untuk ambil bagian dalam rencana kudus-Nya. Lewat Boas, yang tindakan imannya sangat bertanggung jawab, Tuhan menggenapkan karya agung-Nya. Di akhir kisah ini kita mengerti bahwa dari keluarga Elimelekhlah Daud lahir. Daud adalah raja Israel yang Tuhan pakai untuk memimpin Israel dan melahirkan pemimpin agung bukan hanya untuk Israel tetapi untuk bangsa-bangsa lainnya. Semua ini diteguhkan lewat ikatan perjanjian Tuhan dengan Daud (lih. 2Sam. 7).

Seperti Tuhan berkarya maksimal, Boas pun tak separuh-separuh. Dia tahu masih ada kerabat yang lebih dekat dengan keluarga Elimelekh dibandingkan dirinya. Karena itu, dengan strategi jitu ia berhasil mendapatkan hak menanggung kewajiban menolong keluarga Elimelekh. Bagi kerabat itu, menebus ladang Elimelekh bisa jadi menguntungkan. Ia akan beroleh hak untuk mengelola tanah, dan itu akan menguntungkan meski harus menanggung biaya hidup Rut dan Naomi. Lain masalah bila ia harus mengawini Rut. Segalanya akan kacau. Ini berkaitan dengan hukum levirat yang diatur dalam Taurat (Ul. 25:5-10). Hukum ini mewajibkan sanak terdekat dari keluarga yang ditinggal mati kepala keluarganya, untuk mengawini janda kepala keluarga itu demi meneruskan namanya. Kalau si kerabat menikahi Rut, ia akan mengacaukan harta pusakanya sendiri. Bila kemudian lahir anak dari pernikahan dia dengan Rut, maka harta si kerabat bisa beratasnamakan Elimelekh. Sebab pernikahan mereka adalah untuk menegakkan nama Elimelekh. Si kerabat memperhitungkan bahwa hal itu akan merugikan dia.

Dalam hal ini, Boas tidak hitung-hitungan seperti si kerabat. Inilah respons Boas yang dipakai Tuhan untuk menyatakan anugerah dan belas kasih-Nya pada umat manusia. Betapa berkuasanya Allah yang mengatur segala sesuatu bagi penggenapan rencana-Nya.

Mazmur 128 ini dekat dengan mazmur sebelumnya karena membicarakan berkat Tuhan atas keluarga dan kerja keras (lih. 127:2). Mazmur 128 menekankan sikap “takut akan Tuhan” (1, 4) sebagai dasar berkat dalam keluarga. Sama seperti mazmur sebelumnya, mazmur ziarah ini bisa dikategorikan mazmur hikmat (band. Ams. 1:7). Ada banyak penafsir yang percaya bahwa mazmur ini juga dipakai sebagai doa bagi pasangan baru dalam acara pernikahan tradisi Israel.

Bagian pertama dari mazmur ini (ay. 1-4) berbicara mengenai akibat hidup takut akan Tuhan. Mereka yang takut akan Tuhan dan bekerja keras akan diberkati (1-2). Iman seseorang kepada pemeliharaan Allah, dan ketekunannya dalam berusaha mendatangkan berkat yang berkecukupan. Keluarga pun ikut diberkati (3) dengan kebahagiaan yang bersumber dari Tuhan sendiri (5a; dari Sion, tempat kediaman Allah). Bagian kedua dari mazmur ini (ay. 5-6) memberikan nuansa yang meluas karena berkat bagi mereka yang takut akan Tuhan bukan hanya dirasakan dalam lingkup rumah tangga, tetapi juga dalam masyarakat dan bangsa. Keluarga yang takut akan Tuhan merupakan pilar-pilar pembentuk bangsa yang kokoh (5) dan membawa kesejahteraan bagi generasi yang akan datang (6).

Di tengah keterpurukan moral bangsa kita, kita harus ingat betapa eratnya hubungan antara iman dan keadaan bangsa ini. Iman yang didasarkan pada takut akan Tuhan akan menghasilkan bangsa yang kuat dan sejahtera. Setiap orang Kristen dipanggil menjadi agen perubahan di tengah-tengah bangsa yang korup ini. Tuhan Yesus Kristus akan mencurahkan berkat-Nya yang melimpah kepada setiap kita yang takut kepada-Nya (Ef. 1:3).
Keluarga-keluarga Kristen agar menjalankan prinsip firman Tuhan: “takut akan Tuhan” sehingga menjadi kesaksian bagi masyarakat luas dan ikut serta mereformasi kehidupan bangsa agar lebih bermoral dan berintegritas.
Injil hari ini, Pemain sandiwara.

Banyak kelebihan orang Farisi dan ahli Taurat. Tuhan Yesus tak segan mengakui bahwa ajaran mereka tentang Taurat harus didengar oleh para pengikut-Nya. Ketekunan dan kesetiaan mereka mengajarkan hukum-hukum Tuhan itu sedemikian cermat sampai dijuluki menduduki kursi Musa. Sayangnya mereka sendiri tidak melakukan yang mereka ajarkan. Mereka tepat disebut sebagai aktor rohani (ayat 5-10). Mereka tidak patut disebut rabbi sebab tidak memberlakukan kebenaran yang mereka ketahui dan ajarkan kepada orang lain lebih dulu pada diri sendiri.

Belajar pada Allah. Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang lebih dulu dipimpin Allah baru kemudian memimpin orang lain. Guru rohani yang benar pun demikian. Lebih dari sekadar tahu kebenaran sebagai pengetahuan, guru rohani harus lebih dulu tahu kebenaran sebagai pengalaman dan penghayatan nyata. Pemimpin dan guru yang demikian akan bersikap rendah hati dan tunduk kepada Allah; dan memandu umat Tuhan untuk mengasihi dan menaati Allah saja.


Renungkan: Imani dan ikuti Yesus Kristus, Pemimpin dan Guru sejati yang memungkinkan kita menaati hukum Allah.

Doa: Ya Tuhanku dan Allahku, pimpinlah aku sedemikian rupa sehingga keteladanan dan kepemimpinan mengalir wajar dari dalam hidupku, semoga apa yang kukatakan dan kulakukan sungguh memproklamasikan Injil-Mu. Amin.



Mat 23:1-12
Mereka mengajarkan, tetapi tidak melakukan.


Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.