Bacaan dan Renungan Sabtu 16 Januari 2021

Marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian.

Saudara-saudara, sabda Allah itu hidup dan kuat, lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun! Sabda itu menusuk amat dalam, sampai ke batas jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum! Sabda itu sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Kita sekarang mempunyai Imam Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah. Maka baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Agung yang kita punya, bukanlah imam agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita! Sebaliknya Ia sama dengan kita! Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita menghampiri takhta kerahiman Allah dengan penuh keberanian, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya.

Ref: Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.

Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak bersahaja.Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata ceria.Takut akan Tuhan itu suci, tetap untuk selamanya; hukum-hukum Tuhan itu benar, adil selamanya.Lebih indah daripada emas, bahkan daripada emas tua; dan lebih manis daripada madu, bahkan daripada madu-tetesan dari sarang lebah.

Tuhan mengutus Aku mewartakan Injil kepada orang yang hina-dina dan memberitakan pembebasan kepada orang tawanan.


Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.

Sekali peristiwa Yesus pergi lagi ke pantai Danau Galilea, dan semua orang datang kepada-Nya. Yesus lalu mengajar mereka. Kemudian ketika meninggalkan tempat itu, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai, Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi, lalu mengikuti Yesus. Kemudian, ketika Yesus makan di rumah Lewi, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia. Waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Yesus makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya, “Mengapa Gurumu makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengar pertanyaan itu dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit! Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa!”

Dr. Lie Dharmawan adalah seorang dokter yang sungguh dermawan sesuai namanya. Dia mendirikan Rumah Sakit Apung untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat di daerah miskin dan terpencil di Indonesia yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan. Dr. Lie pernah berujar: “kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang miskin. Mungkin mereka bisa membayar kamu berapapun. Tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras”. Dr. Lie menjalankan misi kemanusiaan, menyelamatkan nyawa orang sakit yang tak punya biaya berobat.

Injil Markus (2:17), Yesus menegaskan misinya: menyelamatkan jiwa yang sakit karena dosa. Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat mengkritik Yesus yang mendekati para pemungut cukai dan orang berdosa. Bagi kaum pengkritik Yesus, para pemungut cukai dan orang berdosa adalah masyarakat terbuang dalam agama Yahudi. Mereka tak pantas diselamatkan karena dianggap tidak taat pada Taurat. Para pemungut cukai dibenci karena menjadi kaki tangan penjajah dan pengkhianat bangsa sendiri. Tokoh agama yang seharusnya membawa orang-orang yang terbuang itu malah makin menjauhkan mereka dari bait Allah. Yesus menegur cara pandang keliru itu dengan menyatakan maksud kedatangan-Nya yaitu menyelamatkan orang berdosa.

Kehadiran Gereja adalah kehadiran yang menyelamatkan bukan menyingkirkan mereka yang imannya mulai lemah. Para pengikut Kristus harus sadar akan tugasnya yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa yang mulai jauh dari Tuhan. Terkadang kita menjadi seperti orang Farisi dan para ahli Taurat. Kita suka menggosipkan mereka yang mulai tidak aktif di Gereja. Tanpa sadar kita membiarkan mereka makin jauh dari lingkungan Gereja. Hendaknya kita tidak memelihara kesombongan rohani tetapi selalu mau merangkul mereka yang mulai kehilangan arah. Tugas kita menjadi dokter yang murah hati bagi mereka yang sakit imannya. (JCS)


Renungan diambil dari : Percikan Hati Vol 19 No.5 Januari 2021



Mrk 2:13-17
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.