Bacaan dan Renungan Sabtu 11 September 2021 Pekan Biasa III

Saudaraku terkasih, sabda ini benar dan patut diterima sepenuhnya,yaitu bahwa Kristus Yesus telah datang ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Dari antara mereka itu akulah yang paling berdosa. Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku sebagai orang paling berdosa ini Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan memperoleh hidup yang kekal. Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa. Amin.

Pujilah, hai hamba-hamba Tuhan, pujilah nama Tuhan! Kiranya nama Tuhan dimasyhurkan, sekarang dan selama-lamanya.Dari terbitnya matahari sampai pada terbenamnya terpujilah nama Tuhan. Tuhan tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit.Siapakah seperti Tuhan, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi,yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur.Yesus menyampaikan wejangan ini kepada murid-murid-Nya, “Tidak ada pohon baik yang menghasilkan buah yang tidak baik. Dan tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal dari buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri orang tidak memetik buah anggur. Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik. Tetapi orang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaan hatinya yang jahat. Sebab yang diucapkan mulut meluap dari hati.

Mengapa kalian berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ padahal kalian tidak melakukan apa yang Kukatakan? Setiap orang yang datang kepada-Ku dan mendengarkan sabda-Ku serta melakukannya,- Aku menyatakan dengan siapa ia dapat disamakan — Dia itu sama dengan orang yang mendirikan rumah. Ia menggali dalam-dalam dan meletakkan dasarnya di atas batu. Ketika datang air bah dan banjir melanda rumah itu, rumah itu tidak dapat digoyahkan, karena dibangun dengan kokoh. Sebaliknya barangsiapa mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang mendirikan rumah di atas tanah tanpa dasar. Ketika dilanda banjir, rumah itu segera roboh,dan hebatlah kerusakannya.”


Demikianlah Injil Tuhan

Paulus dalam perikop singkat ini menyampaikan pentingnya kesetiaan dalam melayani Tuhan. Kesetiaan adalah pemberitaan Paulus yang patut diterima sepenuhnya.” Pemberitaan tersebut bukan hanya suatu perkataan Paulus belaka, melainkan berlandaskan pada kata-kata yang diucapkan Kristus (Luk. 19:10). dan memiliki nilai yang sama dengan kebenaran Injil. Hal itu muncul di sini dan dalam 4:9. Dengan kata-kata yang sederhana, perkataan ini benar, (di 3:1; II Tim. 2:11; Tit. 3:8, sebagaimana di dalam ayat 15 ini). Paulus menggarisbawahi keadaannya yang terhilang. Di antara orang berdosa, akulah yang paling berdosa. Ungkapan ini sama dengan penghujat, penganiaya, dan ganas; dan sifatnya semakin memuncak.

Namun dari tindakan Saulus pada masa lalu sebagai penganiaya dan orang ganas terhadap umat Kristen perdana, Tuhan membalas dengan mengasihani dan memberkati Saulus. Maka kembali Paulus menyajikan kontras yang dramatis di antara ketidaklayakannya dengan kemurahan Kristus, dengan tambahan karena itu yang menjelaskan kata agar: agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Paulus memaksudkan kesaksiannya untuk menjadi pendorong semangat bagi Timotius, yang menghadapi dosa yang disebutkan di atas, ditambah dengan ajaran palsu di dalam gereja. Paulus sebenarnya mengatakan, “Jika Tuhan menyelamatkan aku, orang yang pernah lebih buruk daripada yang lain, maka tidak ada yang perlu putus asa; dan kamu bisa yakin bahwa Tuhanku bisa memampukan kamu juga.”

Terhadap kesaksian ganda yang baru saja dikemukakan, doksologi (Pujian) ini muncul sebagai klimaks dan luapan pemujaan dan rasa bersyukur Paulus yang amat dalam. Allah Bapa tidak disebutkan di dalam konteks ini sehingga doksologi tersebut mungkin dapat dianggap sebagai pujian kepada Kristus atau Allah Tritunggal.

Mazmur ini merupakan rangkuman dari kedua mazmur sebelumnya dan menjadi satu pujian bersama yang dinaikkan oleh jemaat. Pemazmur menyebut jemaat dengan sebutan hamba-hamba-Nya. Hamba di sini dikaitkan dengan ketaatan kepada tuannya. Hanya mereka yang taat kepada Tuhan dapat memuji-Nya dengan benar.

“Diberkatilah nama Tuhan” mungkin terdengar janggal bagi kita karena biasanya kitalah yang diberkati oleh Tuhan. Memberkati Tuhan adalah respons pujian kita yang telah lebih dulu diberkati-Nya. Pemazmur berkomitmen untuk mulai memuji Tuhan dan tak akan henti-henti memuji-Nya sampai selamanya (ayat 2-3). Ini berarti ibadah merupakan satu gaya hidup yang menjadi keutuhan dalam hidup kita. Kemudian, pemazmur menyatakan kemuliaan Tuhan yang jauh lebih tinggi daripada kemuliaan bangsa-bangsa. Ia lebih tinggi daripada kemuliaan terbesar yang dapat diraih oleh manusia, dan daripada langit, yang mewakili ketinggian maksimal dalam ciptaan (ayat 4).

Kekaguman pemazmur kepada Tuhan semakin bertambah dengan merenungkan kenyataan-kenyataan paradoks. Allah yang Mahatinggi sudi merendah ke bumi (ayat 5-6) untuk memperhatikan orang miskin, hina, dan tersingkir, serta mengangkat mereka sederajat dengan orang-orang yang kaya, mulia, dan terpandang (ayat 7-9). Inilah berkat Tuhan yang dialami orang-orang yang sadar dirinya tak berdaya dalam kerendahannya. Hal itu tidak mungkin dipahami atau dinikmati oleh orang-orang yang merasa “kaya,” “mulia,” dan “terpandang” oleh usaha sendiri.


Tak ada respons yang lebih tepat selain memuji Tuhan atas semua perbuatan tangan-Nya yang ajaib, tak terduga, dan indah. Kita tak perlu merasa hina di dunia yang mengutamakan kemegahan lahiriah, karena kesukaan kita ada di dalam Dia.



Pujian yang dipanjatkan tulus memancarkan kemuliaan Allah yang mengenyahkan kegelapan dunia ini.

Rangkaian pengajaran Yesus kepada para murid-Nya ditutup dengan dorongan untuk menghasilkan buah sebagai tanda kesejatian kemuridan mereka. Tak ada cara lain untuk menunjukkan kesejatian itu kecuali hidup yang bisa dilihat, sebagai kesaksian benar akan Kristus, dan dirasakan, sebagai perwujudan nyata kasih Kristiani.

Yang baik selalu melahirkan yang baik pula (43-44), ini prinsip yang tidak bisa ditawar-tawar. Sungguh menyedihkan dan terbukti palsu kalau mulut mengatakan hal-hal manis, tetapi hati penuh kedengkian dan kejahatan. Paling-paling hanya sesaat kesaksian palsu itu bertahan. Ketika tekanan datang, segera kelihatan belangnya.

Ilustrasi yang Yesus pakai di akhir rangkaian pengajaran-Nya ini sungguh tepat untuk membongkar kepalsuan yang ada dan meneguhkan kesejatian murid Tuhan. Hanya murid Tuhan sejati, yang fondasi kehidupannya dibangun berdasar pada firman Tuhan, yang akan bertahan menghadapi badai kehidupan (47-48). Sebaliknya, seseorang yang mengaku murid Tuhan, yang mulut bibirnya menyebut-nyebut Tuhan, akan terbukti kepalsuannya melalui dua hal. Pertama, ia tidak melakukan firman Tuhan. Lain mulut dengan perbuatan. Mengapa demikian? Karena firman Tuhan tidak ada dalam kehidupannya. Fondasi hidupnya bukan firman Tuhan, melainkan pada kekosongan atau hal-hal lain yang tidak benar. Akibatnya, kedua, ketika badai kehidupan menerpa dirinya, bangunan hidupnya dan kesaksian palsunya, akan roboh dan rusak berat.

Hal pertama yang harus Anda evaluasi dalam hidup ini, adalah bukan penampilan Anda sudah Kristen atau belum. Yang utama adalah apakah Kristus dan firman-Nya menjadi dasar hidup Anda. Ingat kemuridan Anda sejati atau palsu, akan terbukti saat kesulitan menerpa hidup Anda.



Camkan: Jangan tunggu sampai hidup Anda hancur-hancuran. Segera jadikan Kristus dan firman-Nya fondasi hidup Anda!


16


Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.