Bacaan dan Renungan Sabtu 09 Februari 2019|Pekan Biasa IV

Semoga Allah damai sejahtera memperlengkapi kamu dengan segala yang baik


13:15 Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya. 13:16 Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. 13:17 Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.
13:20 Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita, 13:21 kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.



Refren: Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan.


Mazmur:

Tuhanlah gembalaku, aku takkan berkekurangan. Ia membaringkan daku di padang rumput yang hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang, dan menyegarkan daku.Ia menuntun aku di jalan yang lurus, demi nama-Nya yang kudus. Sekalipun berjalan dalam lembah yang kelam, aku tidak takut bahaya, sebab Rngkau besertaku. Tongkat gembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku,Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan segala lawanku. Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak, pialaku penuh berlimpah.Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku seumur hiduplu. Aku akan diam di dalam rumah Tuhan sepanjang masa.

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, Sabda Tuhan. Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku



Mereka itu bagaikan domba-domba tak bergembala


6:30 Kemudian rasul-rasul itu kembali berkumpul dengan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan. 6:31 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!” Sebab memang begitu banyaknya orang yang datang dan yang pergi, sehingga makanpun mereka tidak sempat. 6:32 Maka berangkatlah mereka untuk mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. 6:33 Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat segeralah datang orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka. 6:34 Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.


Paulus dalam nasehatnya kepada jemaat Ibrani menyatakan bahwa, korban Kristus di salib telah mendamaikan Allah dengan manusia. Hubungan manusia dengan Allah dipulihkan berkat penebusan-Nya. Maka kepada para pembaca suratnya, Paulus . meminta para jemaat Kristen untuk senantiasa bersyukur dalam doa dengan memuliakan Allah dan hidup benar. Ini semua menjadi korban persembahan yang sungguh berkenan kepada Allah. .


Yesus Kristus sebagai Gembala dan Imam Agung yang menjadi perantara manusia dengan Allah, telah melakukan persembahan penghapus dosa kepada Allah bukan dengan darah binatang melainkan dengan darah-Nya sendiri, sekali untuk selama-lamanya. Sehingga Kristus dengan darah perjanjian-Nya yang telah dicurahkan-Nya di kayu salib, membawa kembali umat manusia dari jurang kematian kepada kehidupan kekal. Maka umat Kristen harus menanggapi kasih Allah itu dengan hidup yang berkenan kepada Allah dengan segala perbuatan baik.


Sebagai orang beriman kita harus bersyukur dan berterima kasih atas berbagai anugerah yang kita terima dari Allah melalui orang-orang yang telah berbuat baik kepada kita dalam berbagai kesempatan sampai kini. Syukur dan terima kasih tersebut kemudian kita teruskan kepada saudara-saudari kita dengan ‘berbuat baik dan memberi bantuan’ bagi mereka yang sungguh membutuhkan. “Sithik ora ditampik, akeh soyo pikoleh” = sedikit tidak ditolak, banyak lebih baik, demikian motto berbuat baik yang pernah disampaikan oleh Mgr. Ignasius Suharyo Pr. Uskup Agung Semarang (sekarang Uskup Jakarta) dalam himbauan beliau umat katolik terlibat dan rela membantu orang lain. Diharapkan kebiasaan berbuat baik dan memberi bantuan ini sedini mungkin dibiasakan pada anak-anak di dalam keluarga dan diperdalam di sekolah-sekolah, tentu saja dengan teladan konkret dari para orangtua maupun pendidik/guru. Marilah kita sadari dan hayati bahwa kita dapat tumbuh berkembang seperti apa adanya saat ini, karena kebaikan dan bantuan begitu banyak orang, dan selayaknya kita juga suka berbuat baik dan memberi bantuan.


Menanggapi panggilan Allah dengan hidup sebagai pastor/ romo, bruder atau suster alias tidak menikah pada umumnya memang dapat membaktikan diri seutuhnya bagi pelayanan orang banyak, tanpa pandang bulu. Mereka terpanggil untuk meneladan Yesus yang ‘tergerak hatiNya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala’. Hati yang tergerak kepada keselamatan jiwa manusia, sehingga hatinya tertambat pada Allah sepenuhnya, itulah yang dialami atau dinikmati oleh mereka yang terpanggil secara khusus untuk hidup tidak menikah. “Hati yang tergerak oleh belas kasihan” kiranya juga menjadi panggilan kita semua umat beriman, orang yang percaya kepada Allah. “Compassion”, kepedulian kepada orang lain, lebih-lebih mereka yang miskin dan menderita itulah yang harus kita hayati, perdalam dan sebar-luaskan.


Marilah kita perhatikan anak-anak atau sesama kita yang kurang memperoleh perhatian kasih sayang dari orangtua mereka atau saudara-saudarinya, sehingga mereka harus menggelandang atau menjadi anak jalanan. Dengan jujur kita melihat banyak orang yang mau peduli dengan mereka, dengan berbagai tindakan nyata misalnya memberikan uang secara spontan,tapi banyak juga yang memikirkan hari depan mereka dengan menampung, memberikan pendidikan dan mengasuh mereka dengan baik. Hal ini sebagai wujud kepedulian kita terhadap orang lain. Tentu saja ini panggilan khusus untuk mereka yang memiliki kemampuan dan kepeduliaan/ . Perikop Injil hari ini memperingatkan kita, mengajak siapapun yang cukup berada atau kaya akan harta benda dan uang untuk tidak serakah dan berfoya-foya, melainkan peduli terhadap mereka yang miskin, berkekurangan dan menderita.


Jika Yesus dapat melakukan hal yang luar biasa pada sumber yang begitu terbatas, Ia pun dapat melakukan hal yang sama bagi hidup kita. Jika kita memiliki sesuatu yang kita anggap tidak berarti, tetapi kita ingin melayani orang lain melalui milik kita itu, kita bisa letakkan di tangan Yesus. Ia dapat melakukan hal besar dengan karunia dan talenta yang ada pada kita untuk menyentuh hidup orang lain.


DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa tanpa Engkau aku tidak ubahnya seperti seekor domba tanpa gembala. Aku menyadari bahwa aku tidak dapat hidup sendiri dan tidak dapat mengandalkan kekuatanku sendiri dalam menghadapi berbagai godaan. Tetaplah bersama-Mu, ya Tuhan dan Juruselamatku. Amin. (Lucas Margono)


Mrk 6:30-34 Mereka itu bagaikan domba-domba tak bergembala



Aku bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, karena Engkau memelihara hidupku. Ampunilah aku yang kerap lebih mementingkan diri sendiri ketimbang Engkau dan sesama. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.