Bacaan dan Renungan Sabtu 04 September 2021 Pekan Biasa XXII

Allah telah mendamaikan kalian, agar kalian ditempatkan di hadapan-Nya dalam keadaan kudus dan tak bercela.

1:21 Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, 1:22 sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. 1:23 Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.


Refren: Allahlah penolongku.


Mazmur:

Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku!Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, aku akan bersyukur sebab baiklah nama-Mu, ya TUHAN.

Akulah jalan, kebenaran dan sumber kehidupan, sabda Tuhan.hanya melalui Aku orang sampai kepada Bapa.



Mengapa kalian melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?

6:1 Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya, sementara mereka menggisarnya dengan tangannya. 6:2 Tetapi beberapa orang Farisi berkata: “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” 6:3 Lalu Yesus menjawab mereka: “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, 6:4 bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam?” 6:5 Kata Yesus lagi kepada mereka: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”

Fakta bahwa Allah begitu mengasihi kita tidak berarti kita memperoleh hak penuh untuk melakukan apa saja yang diinginkan. Ada konsekuensi-konsekuensi yang harus kita penuhi sebagai respons atas prakarsa pendamaian Allah tersebut. Hal inilah yang dikatakan Paulus kepada jemaat Kolose. Paulus mengingatkan bahwa kasih Allah itu di satu sisi memberi umat kristiani rasa aman, mengangkat rasa takut kita akan Dia, dan memastikan bahwa kita bukan lagi musuh Allah. Tetapi di sisi lain pendamaian itu berdampak munculnya banyak pergumulan dan kontradiksi baru karena menempatkan kita pada konsekuensi-konsekuensi iman. Benarkah orang Kristen mengalami kesulitan untuk menjalankan konsekuensi dari pendamaian Allah?

Sebelum menentukan jawaban seharusnyalah kita memahami dengan benar maksud pendamaian Allah, sehingga kita mengerti mengapa harus ada kewajiban-kewajiban yang harus kita penuhi. (ayat 1) Melalui pendamaian, Allah menginginkan respons manusia untuk berdiri teguh di dalam iman dan tidak melepaskan pengharapan akan Injil; (ayat 2) Melalui pendamaian, Allah memberi keyakinan kepada kita agar tidak pernah kehilangan keyakinan akan kasih-Nya. (ayat 3). Melalui pendamaian, Allah melahirkan kekuatan di dalam diri orang Kristen untuk memiliki kesetiaan yang tak tergoyahkan dan pengharapan yang tak dapat ditaklukkan.

Kini jelas bahwa seharusnyalah orang-orang percaya senantiasa siap menghadapi konsekuensi dari pendamaian yang Allah prakarsai. Memang banyak sekali tantangan, cobaan, dan pergumulan yang terjadi di sekitar kita yang berusaha melunturkan semangat juang iman. Tetapi cobalah untuk menjadikannya bukan sebagai penghalang tetapi sebagai pendorong dan batu uji untuk tetap setia kepada Yesus Kristus, agar kita semakin kudus, tidak bercela, dan tidak bercacat di hadapan-Nya.

Tidak ada alasan bagi orang Katolik untuk menghindari dan tidak siap menghadapi segala konsekuensi hidup iman kristen, karena di dalam kesetiaan dan ketaatan kita nyata kekuatan dan penyertaan-Nya. Tiada cara lain yang dapat menjadi batu loncatan bagi jemaat untuk menjaga hidupnya semakin layak di hadapan-Nya, kecuali berani meninggalkan segala kenikmatan dosa dan menerima segala risiko ketaatan dan kesetiaan kepada Kristus.

Mungkin kita masih bisa memahami bila orang yang kita anggap musuh menjahati kita. Namun bila seorang saudara mengkhianati kita, tentu akan sangat menyakitkan.

Daud dikhianati oleh orang Zifi (ayat 1Sam. 23:14-28). Sesungguhnya orang-orang Zifi adalah orang Yehuda, jadi masih bagian dari umat Allah. Namun karena mereka telah bertindak jahat maka mereka dapat disebut sebagai orang asing atau orang angkuh dan orang sombong.

Waktu itu Daud sedang bersembunyi dari kejaran Saul. Namun orang Zifi malah memberitahu Saul tentang keberadaan Daud di padang gurun Zif (ayat 1Sam. 23:14, 19). Sebab itu Daud berdoa supaya Allah menyelamatkan dan memberikan keadilan kepada dia (ayat 3). Keyakinan Daud menunjukkan bahwa ia berada di pihak yang benar. Ia pun dengan tegas menyatakan bahwa Allah adalah penolongnya (ayat 6). Ia berdoa supaya kejahatan orang-orang yang mengkhianati dia berbalik kepada mereka, dan supaya Tuhan membinasakan mereka (ayat 7). Daud kemudian dengan yakin dan syukur mengatakan bahwa ia akan mempersembahkan korban kepada Tuhan yang telah melepaskan ia dari kesesakan (ayat 8-9).

Mungkin bagi kita doa Daud terlalu kejam. Namun kita perlu menyadari bahwa yang diminta Daud adalah keadilan Tuhan, dan ini harus dilihat sebagai hal yang baik dan benar, bukan sebagai kekejaman. Ketika Yesus mengajarkan kita mengampuni musuh-musuh kita, bukan berarti keadilan tidak perlu ditegakkan. Tuhan Yesus sendiri pun akan memberikan penghakiman yang adil kepada Iblis, yang merupakan musuh Tuhan Yesus. Ketika kita dimusuhi atau ditindas oleh orang fasik, tentu saja kita boleh berdoa meminta Tuhan menyatakan keadilan kepada kita, yang benar dinyatakan kebenarannya dan yang salah menerima ganjarannya. Meski demikian, masih ada juga kemungkinan lain, yaitu kita berdoa supaya orang-orang fasik tersebut bertobat.

Pada masa hidup Yesus, ajaran ahli Taurat tentang hukum keempat, “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat” (Kel. 20:8-11), difokuskan pada larangan melakukan berbagai kegiatan yang mereka artikan sebagai “bekerja”. Ada 39 kelompok kegiatan yang mereka tetapkan sebagai “melakukan pekerjaan,” misalnya: menabur benih, menuai, membuat roti, membuat simpul benang, melepaskan simpul, menulis dua huruf, menyalakan api, memadamkan api, atau memindahkan suatu benda dari satu tempat ke tempat lain. Setiap kelompok ini masih dirinci lagi sampai detail. Akhirnya, yang mereka utamakan bukan lagi memahami makna dan tujuan Sabat sebagai hari perhentian serta pemulihan jasmani dan rohani umat Allah, melainkan ketaatan kepada peraturan tersebut. Rasa syukur dan sukacita yang seharusnya mengiring hari Sabat sebagai anugerah Allah bagi umat-Nya, telah diganti dengan beban kewajiban menaati berbagai larangan dan ajang mencari kesalahan.

Yesus mengoreksi konsep keliru ini dengan menyatakan bahwa Dialah “Tuhan atas hari Sabat” (5). Dia, yang diurapi dan diutus Roh Allah, adalah satu-satunya yang mampu meluruskan makna Sabat sesuai dengan tujuan dan maksud Bapa-Nya. Yesus membuktikan kebenaran pernyataan-Nya itu dengan memperlihatkan kuasa-Nya dalam penyembuhan orang yang mati tangan kanannya (6-10).

Lukas memakai kata “pulihlah” untuk “sembuhlah” (10). Kata ini dipakai dalam Perjanjian Lama untuk pemulihan umat Israel setelah menjalani hukuman atas dosa mereka. Dengan menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat, Yesus mewujudkan makna dan tujuan Sabat, yakni pemulihan umat Allah kepada keutuhan mereka lahir dan batin sebagai bagian dari ciptaan Allah yang indah. Menghormati Sabat diterapkan oleh Yesus dalam tindakan “berbuat baik dan menyelamatkan nyawa” mereka yang perlu ditolong (9).



Renungkan: Kiranya kita secara konkret menghayati Sabat sebagai pemulihan diri kita maupun dengan sesama kita.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin. (Lucas Margono)



Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.