Bacaan dan Renungan Sabtu 03 Oktober 2020, Pekan Biasa XXVI

Sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Maka aku mencabut perkataanku.

Ayub berkata kepada Tuhan, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal. Sabda-Mu: Siapakah dia yang menyelubungi keputusan tanpa pengetahuan? Itulah sebabnya, tanpa pengertian aku telah berceritera tentang hal-hal yang sangat ajaib bagiku dan yang tidak kuketahui. Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu.”

Maka Tuhan memberkati Ayub dalam kelanjutan hidupnya lebih daripada dalam hidup yang dahulu. Ayub mendapat empat belas ribu ekor kambing domba, dan enam ribu unta, seribu pasang lembu, dan seribu ekor keledai betina. Ia juga mendapat tujuh orang anak laki-laki dan tiga orang anak perempuan. Anak perempuan yang pertama diberinya nama Yemima, yang kedua Kezia dan yang ketiga Kerenhapukh. Di seluruh negeri tidak terdapat wanita yang secantik anak-anak Ayub. Ayub mewariskan kepada mereka bagian milik pusaka seperti kepada anak-anaknya laki-laki. Sesudah itu Ayub masih hidup seratus empat puluh tahun lamanya. ia melihat anak-anaknya dan cucu-cucunya sampai keturunan yang keempat. Maka Ayub meninggal dunia pada usia yang tua dan lanjut.


Ref:Sinarilah hamba-Mu, ya Tuhan, dengan wajah-Mu.

Ajarkanlah kepadaku kebijaksanaan dan pengetahuan yang baik,sebab aku percaya pada perintah-perintah-Mu.Memang baik bahwa aku tertindas,supaya aku belajar memahami ketetapan-ketetapan-Mu.Aku tahu, ya Tuhan, bahwa hukum-hukum-Mu adil;dan memang tepat bahwa Engkau telah menyiksa aku.Menurut hukum-hukum-Mu sekarang semuanya itu ada,sebab segala sesuatu melayani Engkau.Hamba-Mulah aku ini, buatlah aku mengerti, supaya aku paham akan peringatan-peringatan-Mu.Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang,memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Terpujilah Engkau, Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada orang kecil.


Bersukacitalah karena nama-Mu terdaftar di surga.

Pada waktu itu ketujuh puluh dua murid Yesus kembali dari perutusannya dengan gembira dan berkata, “Tuhan, setan-setan pun takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kalian kuasa untuk menginjak-injak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tiada yang dapat membahayakan kalian. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu terdaftar di surga.”

Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Kausembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi Kaunyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan di hati-Mu.
Segala sesuatu telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tiada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak berkenan menyatakannya.”

Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada para murid dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kalian lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kalian lihat, tetapi tidak melihatnya dan ingin mendengar apa yang kalian dengar,
tetapi tidak mendengarnya.”

Ayub mengakhiri pergumulan hidupnya dengan merefleksikan hidupnya dalam terang jawaban Allah. Titik balik kehidupan Ayub dimulai dari pengakuannya bahwa Allah sanggup melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana-Nya (ayat 1). Kemudian, Ayub pun mencabut semua gugatannya terhadap Allah dengan kesadaran yang penuh penyesalan (ayat 6).

Ayub juga sadar bahwa selama ini ia hanya mendengar kata orang tentang Allah (ayat 5a). Selama ini Ayub memahami Allah melalui tradisi. Justru melalui pergumulan penderitaan, Ayub secara langsung berjumpa dengan Allah (ayat 5b). Ayub mengetahui bahwa Ia juga turut serta di dalam penderitaannya. Pengalaman inilah yang mengubah pandangan Ayub atas kehidupannya dan terhadap Allah. Setelah berdamai dengan Allah dengan mencabut gugatan serta mengakui kedaulatan Allah, Ayub pun berdamai dengan ketiga temannya. Ayub mengampuni kesalahan mereka, mendoakan, serta mempersembahkan kurban bakaran kepada Allah demi mereka (ayat 9b-10a). Tuhan memulihkan Ayub dan keadaannya bukan hanya kembali seperti dahulu melainkan berlimpah-limpah (ayat 10b-17).

Allah tidak menjawab pertanyaan “mengapa Ayub menderita.” Ayub pun tidak mempermasalahkan lagi hal tersebut. Bagi Ayub, mengenal dan mengetahui Allah berdaulat dan peduli sudah cukup untuk menerima dan menjalani penderitaan itu. Kita, yang mengikuti drama Ayub sejak permulaan (pasal 1-2), mengetahui bahwa penderitaan Ayub adalah batu uji imannya. Saat Ayub menang, ia tetap tinggal saleh. Ujian selesai, ia dipulihkan. Ujian iman terhadap kita berpola yang sama. Saat kita mengakui kedaulatan Allah atas hidup kita, saat itu penderitaan tidak lagi relevan. Itulah saat pemulihan terjadi, yang terutama pemulihan dengan Allah, kemudian dengan diri sendiri, dan akhirnya dengan sesama.

Sukacita bisa muncul karena berbagai sebab. Ada sukacita yang muncul sebab berhasil menyelesaikan dengan baik tugas yang telah dipercayakan. Ada juga yang menyertai sukacita itu dengan rasa bangga yang tidak tepat.

Para murid telah menyelesaikan misi yang dipercayakan pada mereka (17). Mereka mengalami euforia (perasaan gembira yang berlebihan) karena menurut mereka hasilnya luar biasa! Mereka dapat mengalahkan setan-setan! Padahal sebelumnya murid-murid lain gagal melakukannya (Luk. 9:37-43a). Itu artinya mereka memiliki otoritas yang lebih besar di dalam nama Tuhan Yesus, dan mereka bersukacita karena hal itu! Tetapi menurut Yesus, sukacita mereka tidak pada tempatnya. Melayani Allah memang merupakan hak istimewa dan memiliki kuasa Allah untuk mengusir Iblis dapat dianggap sebagai keajaiban. Yesus memang melihat bahwa apa yang telah mereka lakukan merupakan kekalahan Iblis (18) dan digenapinya janji mesianis, yakni kemenangan Kristus atas kuasa kegelapan. Namun alasan terbesar untuk bersukacita seharusnya adalah karena mereka memiliki hidup yang kekal! Yang utama bukan bersukacita karena telah mampu mengusir Iblis, tetapi lebih baik bersukacita karena telah memiliki keselamatan. Sebab sukacita orang percaya bukan terutama terletak pada kehancuran Iblis tetapi pada fakta bahwa orang percaya telah menjadi milik Allah dan nama mereka telah tercatat di surga (20).

Ini jugalah yang menjadi sukacita Yesus, yakni bahwa Allah menyatakan diri dan karya-Nya kepada para murid. Itu sebabnya para murid harus bersukacita karena banyak orang di masa silam yang ingin mengalami karya keselamatan Allah seperti yang telah dialami murid-murid namun mereka tidak memiliki kesempatan itu.

Syukuri: Bagi kita yang hidup di zaman ini pun dapat mengalami sukacita keselamatan seperti yang Yesus katakan, yaitu bagi kita yang percaya bahwa Tuhan Yesus adalah Juruselamat.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus penuhilah diriku dengan cintakasih-Mu agar dengan demikian aku dapat mengasihi orang-orang lain seperti Yesus mengasihi mereka. Berikanlah kepadaku hasrat-Mu bahwa orang-orang lain akan mengenal Engkau. Gunakanlah aku untuk membuat diri-Mu dikenal oleh mereka. Tariklah orang-orang ke dalam Kerajaan-Mu. Amin.



Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.