Bacaan dan Renungan Rabu 24 Maret 2021 Prapaskah V

Mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.

Sekali peristiwa berkatalah Nebukadnezar, raja Babel, kepada Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, “Apakah benar, bahwa kamu tidak memuja dewaku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, demi mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian, sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, seketika itu juga kamu akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?” Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab, “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya Raja. Tetapi seandainya tidak, hendaklah Tuanku mengetahui, bahwa kami tidak akan memuja dewa Tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”

Maka meluaplah kegeraman Nebukadnezar. Air mukanya berubah terhadap Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Lalu diperintahkannya supaya perapian itu dibuat tujuh kali lebih panas dari yang biasa. Kepada beberapa orang yang sangat kuat dari tentaranya dititahkannya untuk mengikat Sadrakh, Mesakh dan Abednego, dan mencampakkan mereka ke dalam perapian yang menyala-nyala itu.

Tetapi terkejutlah Raja Nebukadnezar, lalu bangun dengan segera. Berkatalah ia kepada para menterinya,  “Bukankah tiga orang yang telah kita campakkan dengan terikat ke dalam api itu?” Jawab mereka kepada raja, “Benar, ya Raja!” Kata raja, “Tetapi ada empat orang kulihat berjalan-jalan dengan bebas di tengah-tengah api itu. Mereka tidak terluka,
dan yang keempat itu rupanya seperti anak dewa!”

Maka berkatalah Nebukadnezar, “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya
dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, tetapi melanggar titah raja, yang menyerahkan tubuh mereka karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.”


Ref:

Terpujilah Engkau, Tuhan, Allah leluhur kami. U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.Terpujilah nama-Mu yang mulia dan kudus. U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.Terpujilah Engkau dalam Bait-Mu yang mulia dan kudus.   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.Terpujilah Engkau di atas takhta kerajaan-Mu.    U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.Terpujilah Engkau yang mendugai samudera raya.    U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.Terpujilah Engkau di bentangan langit.   U: Kepada-Mulah pujian selama segala abad.

Berbahagialah orang yang menyimpan sabda Allah dalam hati yang baik dan menghasilkan buah dalam ketekunan.


Apabila Anak memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka.


Sekali peristiwaYesus berkata kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepada-Nya, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”

Jawab mereka, “Kami adalah keturunan Abraham, dan tidak pernah menjadi hamba siapa pun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?” Kata Yesus kepada mereka, ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa, dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah; yang tetap tinggal dalam rumah adalah anak. Tetapi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamu pun benar-benar merdeka. Aku tahu, bahwa kamu adalah keturunan Abraham, tetapi kamu berusaha untuk membunuh Aku karena firman-Ku tidak beroleh tempat di dalam kamu. Apa yang Kulihat pada Bapa, itulah yang Kukatakan, seperti halnya kamu melakukan apa yang kamu dengar dari bapamu.”

Jawab mereka kepada-Nya, “Bapa kami ialah Abraham.” Kata Yesus kepada mereka, “Sekiranya kamu anak-anak Abraham, tentulah kamu mengerjakan pekerjaan yang dikerjakan oleh Abraham. Tetapi yang kamu kerjakan ialah berusaha membunuh Aku; Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah! Pekerjaan yang demikian tidak dikerjakan oleh Abraham. Kamu mengerjakan pekerjaan bapamu sendiri.”

Jawab mereka, “Kami tidak dilahirkan dari zinah. Bapa kami satu, yaitu Allah.” Kata Yesus kepada mereka, “Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.”

Dua bacaan yang hari kita dengar dari bacaan liturgi kita sama-sama mengatakan tentang kemerdekaan. Di bacaan pertama dari Kitab Daniel kita mendengar kisah yang menarik tentang tiga pemuda dalam tanur api. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Raja Nebukhadnezar memaksa mereka untuk menyembah berhala yaitu menyembah patung emas buatannya. Kalau mereka tidak menyembah berhala maka mereka patut dimasukkan dalam dapur api yang menyalah.

Sadrakh, Mesakh, dan Abednego diberi kesempatan untuk memilih. Menaati perintah raja Nebukadnezar yang berarti mendapat pengampunan, atau taat kepada Allah yang disembahnya, dengan menanggung segala risiko. Itulah pilihan bersyarat yang harus mereka pilih, untuk mengubah sikap dan pendirian mereka. Tentu, di dalamnya terkandung maksud agar mereka mengubah ketaatannya kepada Allah yang hidup, dan memuja allah yang bisu alias mati. Bila kesempatan dalam situasi terjepit ini mereka tolak, maka kobaran nyala api yang dahsyat menanti mereka.

Ketiga pemuda ini menolak suruhan raja. Mereka percaya bahwa Allah yang mereka imani akan membebaskan mereka dari siksaan api. Ketiga pemuda itu akhirnya di masukan di dalam dapur api yang menyala-nyala dengan harapan pasti bahwa Tuhan akan membebaskan mereka melalu malaikatNya. Pada akhirnya Nebukhadnezar memuji Allahnya ketiga orang muda itu setelah melihat dalam dapur api bukan lagi tiga orang melainkan empat orang yang berjalan bebas. Ia berkata: “Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Ia telah mengutus malaikatNya untuk melepaskan hamba-hambanNya, yang telah menaruh percaya kepadaNya tetapi melanggar titah raja, yang menyerahkan tubuh mereka karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah mana pun kecuali Allah mereka.”

Teladan iman yang terpuji. Prasyarat yang diperhadapkan tidak mampu mengubah keyakinan Sadrakh dkk. Suatu sikap iman yang terpuji. Amarah sang raja, tidak menggetarkan komitmen untuk tetap setia menyembah Allah yang hidup. Komitmen itu sama sekali tidak dikaitkan dengan kepentingan dan keselamatan diri, yang sifatnya sementara, melainkan didasarkan pada kehendak dan kemuliaan Allah (16-18). Sikap iman inilah yang membuat raja Nebukadnezar mengakui kemuliaan Allah.

Allah kita luar biasa. Ia mengutus malaikatNya untuk membebaskan ketiga pemuda yang menderita di tangan raja yang lalim yakni Nebukhadnezar. Kemerdekaan adalah anugerah istimewa dari Yahweh kepada mereka. Kemerdekaan sebagai anugerah bukan milik pribadi setiap orang. Kemerdekaan berasal dari iman. Iman kepada Yahwe membuat orang menjadi lebih berani. Orang berani untuk menghadapi kesulitan-kesulitan hidup bahkan kematian sekali pun. Keberanian yang tidak bersifat mencobai Tuhan Allah. Kemerdekaan orang beriman juga menjadi kesaksian yang bagus bahkan bagi orang-orang yang tidak percaya. Kemerdekaan lalu menjadi sebuah komitmen untuk kemuliaan Allah.

Renungkan: Kini kita hidup dalam zaman yang tidak kurang bahayanya. Banyak situasi yang intinya menggoda atau memaksa kita untuk menyembah ilah. Ingatlah bahwa yang mengalahkan maut dan yang dapat membinasakan nyawa adalah Kristus.

Yesus dalam Injil Yohanes mengatakan kata-kata yang keras kepada orang-orang Yahudi, teristimewa orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya: “Jikalau kamu tetap dalam firmanKu, maka kamu benar-benar muridKu dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran akan memerdekakan kamu” Kata-kata Yesus ini mendorong komunitas gereja perdana untuk mengimani Yesus yang memerdekakan dari dosa. Di samping itu mereka akan mengalami banyak kesulitan dalam usaha untuk menjadi murid Kristus yang sejati.

Orang-orang Yahudi pada saat itu kelihatan memiliki kesombongan tertentu. Dengan hanya mendengar kata-kata Yesus tentang kebenaran yang memerdekakan, orang Yahudi itu langsung mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Padahal yang Yesus maksudkan dengan kebenaran yang memerdekakan adalah mereka merdeka dari dosa dan salah. Yesus berkata: “Sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa. Hamba tidak tetap tinggal di dalam rumah, anaklah yang tinggal di dalam rumah. Kalau anak memerdekakan kamu maka kamu sungguh menjadi orang  merdeka”. Meskipun Yesus menjelaskan lebih sederhana identitasNya tetapi mereka tetap tidak mengerti dan percaya. Hati mereka tetap tertutup dan hanya berbangga bahwa Abraham adalah Bapa mereka. Padahal Abraham juga percaya kepada Allah maka konsekuensinya mereka juga harus percaya pada Allah di dalam diri Yesus Kristus.

Yesus sedang berbicara kepada orang-orang Yahudi yang percaya kepadaNya. Lihatlah bahwa mulut boleh mengakui, belum tentu sikap dan perbuatan mengikuti perkataan yang keluar dari mulut. Mereka adalah orang Yahudi yang percaya kepadaNya tetapi seolah-olah Yesus tidak berarti bagi mereka. Ini adalah tantangan tersendiri bagi kita. Apa sajakah tantangan-tentangan itu?

Pertama, kita sudah dibaptis maka hidup kita hendaknya sungguh-sungguh mengikuti Kristus. Dengan mengakui diri sebagai pengikut Kristus maka sikap hidup hendaknya menyerupai Kristus. Misalnya, Apakah anda bisa mengampuni musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiayamu?

Kedua, Orang-orang Yahudi memiliki kesombongan rohani bahwa mereka memiliki Abraham sebagai Bapa. Banyak orang katolik juga memiliki kesombongan rohani, bahkan ada yang lebih dari itu. Misalnya, ketika mereka masuk dalam suatu persekutuan doa, mereka baru mulai belajar doa dan meditasi misalnya, sudah ada perasaan lebih dari orang lain. Ada juga yang merasa diri lebih kaya atau pintar padahal di hadapan Tuhan kita semua sama.

Kata-kata Yesus yang meneguhkan kita semua pada hari ini dari Injil adalah: “Jikalau Allah adalah Bapamu , kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah. Aku datang bukan karena kehendakKu sendiri tetapi kehendak Dia yang mengutus Aku”. Hanya Yesus saja yang memerdekakan kita dari dosa. Mari kita berusaha untuk semakin mencintai Yesus dengan pertobatan kita. Bertobatlah, baharuilah hatimu. Sabda Tuhan juga mengingatkan kita untuk setia kepada Allah. Dialah yang melindungi dan memerdekakan kita dalam Yesus sang Kebenaran sejati.

Doa: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih karena Engkau mengingatkan kami pada hari ini untuk mencintai Engkau sebagai Utusan Bapa yang memerdekakan kami dari perbudakan Dosa.



Baca sumber renungan harian Katolik disini

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.