Bacaan dan Renungan Rabu 19 Februari 2020, Pekan Biasa VI

Ketika tiba di Betsaida, Yesus diminta menyembuhkan orang buta

Ketika tiba di Betsaida, Yesus diminta menyembuhkan orang buta

Hendaknya kalian menjadi pelaksana sabda,dan bukan hanya pendengar.

Saudara-saudara yang terkasih, ingatlah hal ini:setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah. Sebab amarah manusia tidak dibenarkan oleh Allah.Maka buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang demikian banyak itu,dan terimalah dengan lemah lembut sabda yang tertanam dalam hatimu,yang berkuasa menyelamatkan jiwamu.

Hendaklah kalian menjadi pelaksana sabda,dan bukan hanya pendengar.Sebab jika tidak demikian, kalian menipu diri sendiri.Sebab jika orang hanya mendengar sabda saja dan tidak melakukannya, ia itu seumpama orang yang sedang mengamat-amati mukanya dalam cermin.Sesudah memandangi dirinya sesaat, ia lalu pergi, dan segera lupalah ia bagaimana rupanya.Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna,yaitu hukum yang memerdekakan orang,dan ia bertekun di dalamnya,jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya,tetapi sungguh-sungguh melaksanakannya,ia akan berbahagia oleh perbuatannya.

Kalau ada orang yang menganggap dirinya beribadah,tetapi tidak mengekang lidahnya,ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.Ibadah sejati dan tidak tercela di hadapan Allah, Bapa kita ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka,dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemari oleh dunia.

Ref:Tuhan, siapa boleh diam di gunung-Mu yang kudus?

Yaitu orang yang berlaku tidak bercela,yang melakukan apa yang adil dan mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya,yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya.Yang tidak berbuat jahat terhadap teman,dan tidak menimpakan cela kepada tetangganya;yang memandang hina orang-orang tercela tetapi menjunjung tinggi orang-orang yang takwa.Yang tidak meminjamkan uang dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.Siapa yang berlaku demikian,tidak akan goyah selama-lamanya.

Semoga Bapa Tuhan kita Yesus Kristus menerangi kata hati kita, supaya kita memahami pengharapan yang terkandung dalam panggilan kita.

Si buta itu sembuh, dan dapat melihat segala sesuatu dngan jelas.

Pada suatu hari Yesus dan murid-murid-Nya tiba di Betsaida. Di situ orang membawa kepada Yesus seorang buta dan mereka memohon supaya Ia menjamah dia.Yesus lalu memegang tangan orang buta itu dan membawa dia ke luar kampung. Lalu Ia meludahi mata si buta, dan meletakkan tangan di atasnya. Ia bertanya, “Sudahkah kaulihat sesuatu?”Orang itu memandang ke depan, lalu berkata,”Aku melihat orang!Kulihat mereka berjalan-jalan,tetapi tampaknya seperti pohon-pohon yang berjalan.”Yesus kemudian meletakkan tangan-Nya lagi pada mata orang itu.Maka orang itu sungguh-sungguh melihat dan telah sembuh,sehingga ia dapat melihat segala sesuatu dengan jelas.Sesudah itu Yesus menyuruh dia pulang ke rumahnyadan berkata, “Jangan masuk ke kampung!”

Suatu ketika saya mengunjungi teman yang sedang sakit. Satu harapan dari teman itu ialah kesembuhan. Ia berkata bahwa ia sudah berulang kali ke dokter tetapi sampai saat ini tak kunjung sembuh. Lalu saya berkata bahwa kesembuhan itu membutuhkan proses dan ketekunan.

Saudara terkasih, bacaan Injil mengisahkan Yesus berada di Betsaida bersama murid-muridnya dan banyak orang datang menjumpai Yesus. Mengapa terjadi demikian? Orang banyak membutuhkan masihat, merindukan ajaran Yesus serta kesembuhan bagi yang sakit. Salah satunya ialah seorang buta yang dibawa kepada Yesus dan memohon agar disembuhkan. Ia memohon seraya menunjukkan sikap kerendahan hati untuk datang dan menaruh harapan pada Yesus. Mereka percaya bahwa hanya karena Yesus, orang buta itu akan mendapatkan kesembuhan. Karena belaskasih dari Yesus maka orang buta itu dijamah-Nya. Yesus memegang tangan orang buta itu dan membawa dia keluar dari kampung. Di sanalah Yesus meludahi mata orang buta itu dan meletakkan tangannya atas orang itu. Namun orang buta itu tidak serta merta langsung sembuh. Ia baru bisa melihat dengan samar-samar. Setelah Yesus meletakkan tangan-Nya untuk kedua kalinya, barulah orang buta itu dapat melihat dengan jelas.

Saudara terkasih, kisah ini mengajarkan beberapa hal kepada kita;

Yesus selalu membuka diri-Nya bagi orang yang datang memohon kepada-Nya. Ia tidak pernah menolak orang yang ingin menjumpai-Nyasegala  sesuatu memerlukan waktu. Ada proses atau tahap untuk mencapai kesembuhan. Ibarat orang sakit ke dokter, mendapatkan obat dan membiarkan obat itu bekerja menyembuhkan penyakit.kita tetap setia kepada Yesus.  Tindakan ini mengajarkan kepada kita supaya kita tetap bersabar bila keinginan kita belum terpenuhi. Bisa saja Tuhan menunda kesembuhan ataupun keberhasilan kita. Bukan berarti Tuhan meninggalkan kita tetapi Dia ingin agar kita tetap setia seperti Dia setia kepada kita. Marilah kita datang kepada Yesus, menaruh harapan kepada-Nya serta memohon agar Yesus selalu hadir memberikan perlindungan serta pertolongan. (YT dalam Percikan Hati Vol 18 No 6, Februari 2020 hal 29)

View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.