Bacaan dan Renungan Rabu 18 Agustus 2021 Pekan Biasa XX

Sekali peristiwa berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo. Mereka menobatkan Abimelekh menjadi raja di dekat pohon tarbantin di dekat tugu peringatan yang ada di Sikhem. Hal itu dikabarkan kepada Yotam.
Maka pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya. Lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka, “Dengarkanlah aku, kalian warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kalian juga. Sekali peristiwa pohon-pohon pergi hendak mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun, ‘Jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka, ‘Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon ara itu, ‘Masakan aku meninggalkan manisanku dan buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Tetapi jawab pohon anggur, ‘Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon?’ Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri, ‘Mari, jadilah raja atas kami!’ Jawab semak duri itu, ‘Jika kalian sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kalian, datanglah berlindung di bawah naunganku. Tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri, dan memakan habis pohon-pohon aras di gunung Libanon’.”

Tuhan, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa girang hatinya karena kemenangan yang Kauberikan! Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak.Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya. Hidup dimintanya dari pada-Mu dan Engkau memberikannya: Umur panjang untuk selama-lamanya.Besarlah kemuliaannya karena kemenangan yang Kauberikan; keagungan dan semarak Kaukaruniakan kepadanya. Engkau membuat dia menjadi berkat abadi, Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.Sekali peristiwa Yesus mengemukakan perumpamaan berikut kepada murid-murid-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah sepakat dengan para pekerja mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula, dan dilihatnya ada orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka, “Pergi jugalah kalian ke kebun anggurku, dan aku akan memberimu apa yang pantas.”  Dan mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga sore ia keluar pula, dan berbuat seperti tadi. Kira-kira pukul lima sore ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula; lalu katanya kepada mereka, ‘Mengapa kalian menganggur saja di sini sepanjang hari?’ Jawab mereka, “Tidak ada orang yang mengupah kami.’Kata orang itu, ‘Pergilah kalian juga ke kebun anggurku.’

Ketika hari sudah malam berkatalah tuan itu kepada mandornya, ‘Panggillah sekalian pekerja dan bayarlah upahnya, mulai dari yang masuk terakhir sampai kepada yang masuk terdahulu. Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima sore, dan mereka masing-masing menerima satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu. Mereka mengira akan mendapat lebih besar. Tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, katanya, ‘Mereka yang masuk paling akhir ini hanya bekerja satu jam, dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi tuan itu menjawab salah seorang dari mereka, ‘Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadapmu. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah. Aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau karena aku murah hati?’ Demikianlah yang terakhir menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu menjadi yang terakhir.”

Meskipun Gideon adalah pemimpin Israel, tetapi ia tidak mau memerintah sebagai raja (Hak. 8:23). Allah pun tidak menetapkan sistem pemerintahan monarki bagi Israel. Allah saja yang menjadi Raja atas Israel. Akan tetapi, Abimelekh berbeda dari ayahnya. Ia justru menginginkan kedudukan yang ditempati Allah itu. Menyadari posisinya yang lemah karena ia hanyalah anak gundik (Hak. 8:31), Abimelekh mencari dukungan saudara-saudara dari pihak ibunya, yang berada di Sikhem (salah satu kota di Kanaan). Tentu saja orang-orang Sikhem lebih suka bila Abimelekh yang menjadi raja, daripada bila orang Israel sendiri yang menduduki jabatan tersebut. Itu akan menguntungkan posisi mereka. Kepentingan diri telah membuat orang Sikhem mendukung Abimelekh, meski mereka tidak tahu apakah Abimelekh benar-benar seorang pemimpin bangsa sejati. Selanjutnya, mereka pun memberi dukungan dan menobatkan Abimelekh menjadi raja (ayat 6). Bagi Abimelekh, semua itu masih belum cukup. Ia ingin memuluskan jalan menuju tahta dan mengamankan posisinya kelak. Sebab itu, dengan memakai orang-orang bayaran, Abimelekh tega membunuh 70 orang saudaranya seayah. Namun Yotam berhasil luput (ayat 5).

Yotam, yang berhasil melarikan diri, tidak tinggal diam. Ia memberi peringatan kepada orang-orang Sikhem. Melalui perumpamaan pemimpin pohon-pohon, ia ingin menyatakan bahwa Abimelekh adalah pemimpin yang nantinya akan menjadi bumerang, berbalik menyakiti rakyat yang telah mendukung dia (ayat 7-15). Bila ia adalah seorang yang baik dan berpotensi, ia tentu tidak akan bernafsu mewujudkan ambisi negatif melainkan akan memilih untuk berkarya bagi rakyat. Memilih seorang pemimpin rakyat memang tidak bisa sembarangan. Perlu pertimbangan matang. Pilih pemimpin yang bukan hanya ingin menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya, walau kita termasuk kelompok yang mendukung dia. Pertimbangkanlah pemimpin yang memiliki hati untuk kesejahteraan dan kemajuan rakyat.


Bangsa Israel secara tidak langsung menganut sistem pemerintahan yang bersifat teokrasi. Karena meskipun ada raja yang memerintah mereka, raja tetap harus tunduk kepada Allah. Rakyat pun, baik secara langsung maupun tidak langsung, harus tunduk juga pada Allah.

Dalam pemerintahan teokratis, raja tahu bahwa kemenangan yang diperoleh di dalam peperangan merupakan anugerah Allah. Allah memberkati raja dengan kehadiran-Nya dan memahkotai dia dengan sukacita. Allah juga tidak membiarkan dia turun takhta (ayat 1Sam. 23:2, 4; 1Sam. 30:8, 2Sam. 5:19). Bahkan setelah kemenangan yang dia raih, Daud tetap menunjukkan kepercayaan dan ketergantungannya pada Tuhan dengan kembali bertanya (ayat 2Sam. 5:23). Dengan ketaatan, ia melakukan apa yang ditunjukkan Tuhan.

Seorang pemimpin bangsa memang seharusnya memercayai Allah dan hidup takut akan Dia, karena sesungguhnya Allah sajalah yang berdaulat atas negara dan rakyat yang dia pimpin. Namun terlalu banyak pemimpin yang memercayai dirinya sendiri dalam hal kepiawaian berstrategi, kharisma dalam memimpin rakyat, kepopuleran untuk menarik hati rakyat, atau karena peroleh dukungan militer. Akan tetapi, Allah berada di atas semua itu. Jika Anda ingin jadi pemimpin, atau sedang menyusun langkah dan mempersiapkan diri untuk itu, jadikanlah Tuhan sebagai yang utama dalam hidup Anda. Bergantunglah hanya kepada Dia dalam setiap aspek hidup Anda. Hikmat-Nya adalah kekuatan terbaik yang dapat Anda miliki.

Seperti halnya para pendengar ajaran Yesus, kita bisa berpikir bahwa mengikut Yesus sekian lama membuat kita layak beroleh upah. Upah itu adalah hak masuk sorga dan karunia kemuliaan sorgawi lainnya. Perumpamaan ini kembali menegaskan bahwa hak masuk sorga itu adalah karunia Allah; bukan upah dari Allah atas usaha moral atau agama yang kita lakukan. Panggilan Injil Kristus yang mencari, menemukan dan merubah kita. Orang bisa beriman, bertobat, berubah sifat, semata karena karunia Allah. Karena itu alasan untuk kita taat dan melayani Tuhan hanya satu: bersyukur dan mengasihi Tuhan yang telah lebih dulu mengasihi.

Sama di hadapan karunia Allah. Bagian firman ini menolak anggapan bahwa karunia Allah membuat orang ayal-ayalan. Sebaliknya karunia Allah mengharuskan orang menjalani hidup sebagai murid Yesus yang tulus dan tekun dalam kebaikan serta pelayanan. Namun seluruh kebaikan dan pelayanan itu adalah hasil menerima dan mensyukuri karunia Allah. Di hadapan Allah, baik Kristen asal Yahudi (lebih dulu mengenal Yesus) maupun Kristen asal kafir (kemudian mengenal Yesus), sama tidak dapat membanggakan apa pun dari dirinya.


Renungkan: Allah bukanlah manusia yang tawar menawar dan timbal balik. Allah selalu berprakarsa dan menyelesaikan rencana-Nya

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Bakarlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin.



Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.