Bacaan dan Renungan Rabu 13 Oktober 2021|Pekan Biasa XXVIII

Allah membalas setiap orang menurut perbuatannya.

2:1 Karena itu, hai manusia, siapapun juga engkau, yang menghakimi orang lain, engkau sendiri tidak bebas dari salah. Sebab, dalam menghakimi orang lain, engkau menghakimi dirimu sendiri, karena engkau yang menghakimi orang lain, melakukan hal-hal yang sama. 2:2 Tetapi kita tahu, bahwa hukuman Allah berlangsung secara jujur atas mereka yang berbuat demikian. 2:3 Dan engkau, hai manusia, engkau yang menghakimi mereka yang berbuat demikian, sedangkan engkau sendiri melakukannya juga, adakah engkau sangka, bahwa engkau akan luput dari hukuman Allah? 2:4 Maukah engkau menganggap sepi kekayaan kemurahan-Nya, kesabaran-Nya dan kelapangan hati-Nya? Tidakkah engkau tahu, bahwa maksud kemurahan Allah ialah menuntun engkau kepada pertobatan? 2:5 Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. 2:6 Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, 2:7 yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, 2:8 tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. 2:9 Penderitaan dan kesesakan akan menimpa setiap orang yang hidup yang berbuat jahat, pertama-tama orang Yahudi dan juga orang Yunani, 2:10 tetapi kemuliaan, kehormatan dan damai sejahtera akan diperoleh semua orang yang berbuat baik, pertama-tama orang Yahudi, dan juga orang Yunani. 2:11 Sebab Allah tidak memandang bulu.



Refren: Tuhan, Engkau membalas setiap orang menurut perbuatannya.


Mazmur:

Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku, hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.Hanya pada Allah saja aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku, hanya Dialah gunung batu dan keselamatanku; hanya Dialah kota bentengku, aku tidak akan goyah.Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan;Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.



Celakalah kalian, hai orang-orang Farisi!Celakahlah kalian, hai ahli-ahli kitab!

11:42 Tetapi celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu membayar persepuluhan dari selasih, inggu dan segala jenis sayuran, tetapi kamu mengabaikan keadilan dan kasih Allah. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. 11:43 Celakalah kamu, hai orang-orang Farisi, sebab kamu suka duduk di tempat terdepan di rumah ibadat dan suka menerima penghormatan di pasar. 11:44 Celakalah kamu, sebab kamu sama seperti kubur yang tidak memakai tanda; orang-orang yang berjalan di atasnya, tidak mengetahuinya.” 11:45 Seorang dari antara ahli-ahli Taurat itu menjawab dan berkata kepada-Nya: “Guru, dengan berkata demikian, Engkau menghina kami juga.” 11:46 Tetapi Ia menjawab: “Celakalah kamu juga, hai ahli-ahli Taurat, sebab kamu meletakkan beban-beban yang tak terpikul pada orang, tetapi kamu sendiri tidak menyentuh beban itu dengan satu jaripun.


Standar kekudusan Allah adalah standar tertinggi yang sulit dicapai manusia. Alangkah beratnya bila manusia dihakimi berdasarkan standar Allah. Namun tidak demikian.

Paulus mengatakan bahwa orang dihakimi berdasarkan ukuran yang dia buat sendiri (ayat 1). Mengapa demikian? Orang biasanya memandang diri sendiri benar dan senang menghakimi orang lain. Maka ukuran yang dipakai untuk menghakimi orang lain itulah yang akan dipakai Tuhan untuk menghakimi manusia. Orang juga dihakimi berdasarkan perbuatannya (ayat 5-10). Perbuatan seseorang menunjukkan imannya, maka atas dasar itulah dia dihakimi. Selain itu orang dihakimi berdasarkan penyataan Ilahi yang dia ketahui atau pahami (ayat 12). Misalnya orang Yahudi. Mereka memiliki Hukum Taurat. Maka mereka akan dihakimi berdasarkan Hukum Taurat. Sementara bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki Hukum Taurat tidak akan dihakimi berdasarkan Hukum tersebut. Dengan demikian tiap orang akan dihakimi secara adil.

Dalam menghakimi, Allah tidak pandang bulu (ayat 11). Ia tidak pernah menganakemaskan siapapun. Walau orang Yahudi merasa diri istimewa sebagai bangsa pilihan dan keturunan Abraham, mereka tidak bisa menuntut perlakuan istimewa dari Allah karena hal itu. Tidak ada seorang pun yang masuk surga hanya karena Abraham adalah bapaknya. Penghakiman bukan hanya menyangkut hukuman bagi yang bersalah (ayat 8-9), tetapi juga imbalan bagi yang berbuat baik (ayat 7, 10). Kita memang diselamatkan bukan karena perbuatan baik, tetapi ketika kita menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah, pasti kita akan berusaha menyenangkan Dia dengan melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Kita tidak bisa main-main dengan penghakiman Allah. Suatu saat waktunya akan tiba. Bila terasa begitu lama, bukan untuk membiarkan orang punya lebih banyak waktu untuk berbuat dosa melainkan agar orang punya kesempatan untuk bertobat. Orang yang mengeraskan hati dan tidak mau bertobat akan menuai murka Allah pada saatnya kelak.

Mazmur ini membeberkan keyakinan Daud kepada Tuhan saat ia menghadapi persepakatan politik yang ingin menjatuhkannya (ayat 2-5). Dengan keyakinannya, ia mengajak umat-Nya bersandar kepada Tuhan (ayat 6-9). Karena ia menyadari bahwa segala kejayaan manusia adalah rapuh di hadapan Tuhan (ayat 10-11), tetapi kuasa, kasih setia, dan keadilan Tuhan yang diberikan kepadanya adalah teguh (ayat 12-13). Situasi saat itu bukanlah keadaan yang aman bagi Daud. Ia menyadari bahwa dirinya seperti dinding miring yang segera akan roboh (ayat 4), yang sedang dikerumuni oleh mereka yang ingin menghempaskannya. Ia mengetahui bahwa dirinya didustai oleh mereka yang berkata manis, padahal di dalam hati mengutukinya (ayat 5). Namun dalam situasi yang terhimpit ini, Daud tetap diliputi rasa aman dan tenang teduh karena berada dekat dengan Allah, satu- satunya sumber pengharapan yang dapat diandalkan (ayat 2-3,6-7). Kedekatannya dan pemahamannya akan Tuhan merupakan jangkar bagi keyakinannya yang kokoh. Kedekatannya kepada Tuhan tidaklah terlepas dari pemahamannya tentang Tuhan sebagai sumber keselamatan (ayat 2b), pengharapan (6b,7), dan kemuliaannya (ayat 8), Ia adalah tempat perlindungan yang teguh, yang menyediakan diri-Nya sebagai tempat perlindungan bagi umat-Nya untuk mencurahkan isi hati mereka (ayat 9). Dialah yang memberikan kepadanya kuasa, kasih setia, dan keadilan (ayat 12).

Pengenalannya yang tepat kepada Tuhan menuntunnya untuk: [1] Tetap tenang pada masa yang sukar, karena ia mengetahui bahwa para musuhnya tidak berarti apa-apa di hadapan Tuhan (ayat 10); 2] Menyadari bahwa keselamatan dan kemuliaannya bergantung kepada Tuhan (ayat 8). Ia mengajak umat-Nya untuk tidak bergantung kepada harta, melainkan kepada Tuhan setiap waktu (ayat 9); [3] Menjadi seorang penguasa yang memiliki kesadaran moral dan menyadari bahwa pemerasan dan perampasan bukanlah jalan keluar bagi persoalannya (ayat 11).



Renungkan: Apakah atau siapakah yang selama ini menjadi sumber rasa aman Anda? Tepatkah Anda berharap kepadanya? Hal-hal apakah yang menjadi penghambat bagi Anda untuk bergantung penuh pada Tuhan? Bagaimana pemahaman hari ini menolong Anda untuk semakin bergantung kepada Tuhan?

Pertentangan sengit antara Yesus dan orang Farisi serta para ahli Taurat tidak dapat lagi dihindari. Tindakan Yesus makan tanpa mencuci tangan lebih dulu, mereka anggap sebagai pelanggaran simbol moral. Namun, Yesus berbuat demikian justru untuk menelanjangi kepalsuan dan kebusukan mereka di balik sikap kaku dan semangat mempertahankan berbagai aturan, hukum, dan tradisi keagamaan.

Hukum, aturan, tradisi itu sendiri sebenarnya tidak salah; karena itu tetap diperlukan (ayat 42b). Kita sama seperti orang Farisi bila hanya mengutamakan tradisi yang mementingkan hal-hal luar, tetapi tidak memelihara sumber segala tindakan kita yaitu hati. Juga apabila hukum dan peraturan kita laksanakan seumpama robot tanpa semangat keadilan dan kasih di dalamnya (ayat 39-42). Orang yang hidup demikian di mata Yesus sebenarnya tidak hidup tetapi mati. Tradisi, peraturan, ibadah, kesalehan yang berorientasi ke diri sendiri bukan ke Allah dan sesama, adalah seperti kubur berkapur yang isinya bangkai belaka!

Bahkan kegiatan menggali dan menafsirkan firman pun dapat menjadi kegiatan yang memuakkan hati Allah! Sekarang kecaman tajam Yesus ditujukan kepada para ahli Taurat. Mereka mempelajari arti firman tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka membebani orang lain untuk melakukan Taurat, tetapi mereka tidak menaatinya (ayat 46). Mereka bersemangat menghargai para nabi dengan membangun kubur bagi mereka. Namun, Yesus mengartikan itu tidak lain sebagai ungkapan persetujuan dengan mereka yang membunuh para nabi. Menolak taat kepada esensi firman adalah sama dengan membunuh firman. Ucapan Yesus ini menunjuk kepada sikap mereka kelak yang begitu bersemangat ingin menyingkirkan Yesus.



Renungkan: Awas! Di balik semangat memelihara aturan dan membela arti firman, bisa jadi tersembunyi hati beku yang dingin terhadap Allah dan sesama!


DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah diriku dari pengucapan kata-kata yang mengandung kebencian, dan jagalah aku jangan sampai ketidakbenaran membutakan jalanku. Jagalah agar aku tidak terlibat dalam rancangan-rancangan jahat terhadap orang lain dan buatlah diriku semakin kudus dari hari ke hari. Perkenankanlah aku berdiam di dekat hadirat-Mu selalu. Amin.


16 Oktober 2019

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.