Bacaan dan Renungan Rabu 13 November 2019 – Pekan Biasa XXXII

Dengarkanlah, hai para raja, dan pelajarilah kebijaksanaan.


Hai para raja yang memerintah orang banyak dan bermegah karena banyaknya rakyatmu, condongkanlah telingamu. Sebab Tuhanlah yang memberi kalian kekuasaan,
dan dari Tuhan yang mahatinggilah asal pemerintahan. Ia akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu. Sebab sebenarnya kalian hanyalah abdi kerajaan-Nya. Maka kalau kalian tidak memerintah dengan tepat, tidak pula menepati hukum, atau tidak berlaku menurut kehendak Allah,Ia akan mendatangi kalian dengan dahsyat dan cepat.Pengadilan yang tak terelakkan akan menimpa para pembesar.Memang para bawahan dapat dimaafkan karena belas kasih,tetapi para penguasan akan disiksa dengan kejam.Tuhan yang mahakuasa tidak akan mundur terhadap siapapun,dan kebesaran orang tidak dihiraukan-Nya. Baik yang kecil maupun yang besar dijadikan oleh-Nya,dan semua dipelihara-Nya dengan cara yang sama. Tetapi terhadap para penguasan akan diadakan pemeriksaan yang keras.


Jadi perkataanku ini tertuju kepada kalian, para pembesar. Hendaknya kalian belajar menjadi bijaksana dan jangan sampai jatuh. Sebab mereka yang secara suci memelihara yang suci akan disucikan pula, dan yang dalam hal itu terpelajar akan mendapat pembelaan. Jadi hendaklah menginginkan serta merindukan perkataanku,maka kalian akan terdidik.

Berilah keadilan kepada orang lemah dan kepada anak yatim,belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!Luputkanlah orang lemah dan miskin,lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik.Aku sendiri telah berfirman, “Kamu adalah allah,kamu sekalian adalah anak-anak Yang Mahatinggi.Namun kamu akan mati seperti manusia,dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.

Hendaklah kalian mengucap syukur dalam segala hal,sebab itulah yang dikehendaki Allah bagi kalian di dalam Kristus Yesus.



Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?


Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem,Yesus menyusur perkotaan Samaria dan Galilea.Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia.Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak,”Yesus, Guru, kasihanilah kami!”Yesus lalu memandang mereka dan berkata,”Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam.”Dan sementara dalam perjalanan mereka menjadi tahir.


Seorang di antara mereka,ketika melihat bahwa dirinya telah sembuh,kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring,lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya.Orang itu seorang Samaria. Lalu Yesus berkata, “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang tadi? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing ini?”Lalu Ia berkata kepada orang itu,”Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan dikau.”


“Condongkanlah telinga, hai kamu yang memerintah orang banyak dan bermegah karena banyaknya bangsa-bangsamu. Sebab dari Tuhanlah kamu diberi kekuasaan dan pemerintahan datang dari Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaanmu serta menyelami rencanamu”(Keb 6:2-3). Kutipan ini kiranya baik menjadi permenungan atau refleksi bagi siapapun yang merasa harus memerintah atau memiliki kekuasaan, entah itu di dalam keluarga, tempat kerja, masyarakat, bangsa, Negara maupun kehidupan beragama. Sebagai pimpinan atau atasan diharapkan lebih banyak mendengarkan dari yang dipimpin daripada berkata-kata, dengan kata lain menghayati kepemimpinan partisipatif dan melayani. Dengarkanlah aneka dambaan, keluhan, pujian, kritik, saran, dst.. dari mereka yang harus kita pimpin atau layani, dan kemudian olahlah dalam Tuhan alias jadikan bahan doa aneka masukan tersebut untuk mohon pencerahan dan kekuatan dari Tuhan dalam rangka menanggapi masukan-masukan tersebut.


Tanggapan pemimpin atau atasan dapat bersifat reaktif mapun pro-aktif, tergantung dari situasi dan kondisi yang ada maupun perkara yang muncul. Ingat dan sadari bahwa Allah, Yang Mahatinggi, yang akan memeriksa segala pekerjaan kita dan menyelami rencana kita, dan Allah tak mungkin dikelabuhi atau ditipu dan dibohongi. Marilah kita doakan para pemimpin Negara maupun Agama kita agar mereka dengan rela hati dan penuh pengorbanan berani mendengarkan mereka yang harus dilayani atau dipimpin, dan semoga para pemimpin tidak tumbuh berkembang menjadi diktator, tetapi tumbuh berkembang sebagai pelayan bagi semuanya. Semoga semakin tinggi jabatan atau kedudukan juga semakin rendah hati, tidak sombong; semoga semakin kaya akan harta benda juga semakin beriman dan rendah hati, bukan sombong dan serakah.


Para pemimpin bangsa-bangsa digambarkan mazmur ini seolah para allah. Istilah yang dipakai menunjukkan betapa besar kuasa dan pengaruh mereka atas kehidupan bangsa dan negara di dunia ini. Mereka seolah para wakil Allah. Di dunia dalam kedudukan dan wewenang mereka memimpin dan memerintah, mereka bersidang. Membuat hukum, menyusun polesi dan rencana, menjalankan peradilan, dlsb. tetapi di dalam penglihatan rohani pemazmur, kini mereka justru disidang oleh Allah. Penyalahgunaan kuasa, pembengkokan hukum, penindasan dan berbagai kejahatan para penguasa, dibongkar Tuhan!


Tahun 2019 kita bangsa Indonesia merayakan HUT proklamasi kemerdekaan Indonesia ke-74. Suatu umur yang cukup matang dan dewasa bagi manusia atau bisa dikatakan tidak muda dan amat bersejarah dalam kehidupan bangsa kita setelah melewati masa keterbelakangan dan penjajahan oleh bangsa asing, beberapa abad lamanya. Kemerdekaan memberikan harapan baru bagi bangsa-bangsa yang pernah tertindas. Namun apa artinya kemerdekaan itu bila sesudah luput dari kebengisan penjajah rakyat kecil jatuh ke bawah kejahatan bangsa sendiri? “Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskahlah mereka dari tangan orang fasik (ayat 4)” pesan Tuhan kepada para pemimpin!


Doa: Bangunlah ya Allah, hakimilah negara kami, sebab Engkau-lah yang memiliki segala bangsa.


Mengucapkan `terima kasih\’ ketika orang lain memberikan sesuatu pada kita, merupakan pelajaran etika yang pertama-tama diberikan orang tua pada kita. Berterima kasih memang menjadi etika umum yang berlaku di mana saja. Itulah pelajaran penting yang Yesus ingin ajarkan melalui nas ini, yaitu berterima kasih atau mengucap syukur.


Penyakit kusta pada zaman itu dianggap sebagai penyakit najis dan membuat orang yang mengidapnya disingkirkan dari pemukiman. Tidak mudah untuk sembuh dari kusta. Orang yang sudah merasa sembuh pun, tidak dengan mudah kembali pada komunitasnya. Harus ada pembuktian dan pengesahan dulu dari imam. Oleh karena itu, orang yang sembuh dari kusta akan sangat bersyukur, sebab bisa kembali menjalani kehidupan yang normal bersama-sama orang lain. Tetapi tidak demikian halnya dengan sembilan orang yang telah Yesus sembuhkan dari penyakit kusta. Mereka tidak kembali untuk berterima kasih pada Yesus. Tidak heran bila Yesus marah (17-18)! Kesembuhan mereka tidak menyentuh hati mereka, tidak membuat mereka mengenali Yesus sebagai Mesias yang menyelamatkan.


Mereka menerima anugerah Allah tetapi tidak merespons dengan iman dan ucapan syukur. Berbeda dengan seorang yang kembali. Ia menyadari bahwa kesembuhan itu datang dari Allah, melalui Yesus. Karena itu, ia bukan hanya mematuhi perintah Yesus untuk menemui imam, tetapi juga kembali pada Yesus setelah sembuh. Ia memuliakan Allah, bahkan dengan suara nyaring (15). Oleh karena imannya, ia diselamatkan (19).


Anugerah Tuhan Yesus yang membuat kita diselamatkan, seharusnya mewujud dalam sikap dan ucapan syukur. Marilah kita lihat kembali isi doa kita. Dari sekian banyak doa yang berisi permohonan, seberapakah yang berisi ucapan syukur dan pujian karena apa yang sudah diperbuat-Nya bagi kita? Marilah kita bukan hanya melihat apa yang perlu kita minta dari Allah, tetapi juga apa yang telah Allah perbuat sampai sejauh ini. Dan bersyukurlah!


DOA: Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukacita dan bersukaria karena Engkau, bermazmur bagi nama-Mu, yang Mahatinggi (Mzm 9:2-3). Amin. (lucas Margono)


Bacaan Injil Luk 17:11-19 Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?


Bacaan Injil Luk 17:11-19 Tidak adakah yang kembali untuk memuliakan Allah selain orang asing itu?


Bacaan dan renungan ini diambil dari Carekaindo

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.