Bacaan dan Renungan Rabu 13 Januari 2021 Pekan Biasa I

Yesus harus menjadi sama dengan saudara-saudara-Nya.

Saudara-saudara, orang-orang yang dipercayakan Allah kepada Yesus adalah anak-anak dari darah dan daging. Maka Yesus juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya mendahului kematian-Nya, Yesus memusnahkan dia, yakni Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Yesus pun membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takut akan maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang kasihani-Nya, melainkan keturunan Abraham. Itulah sebabnya, dalam segala hal Yesus harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya,
supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan, dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa. Sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai.


Ref: Selamanya Tuhan ingat akan perjanjian-Nya.

Bersyukurlah kepada Tuhan, serukanlah nama-Nya, maklumkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa. Bernyanyilah bagi Tuhan, bermazmurlah bagi-Nya; percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!Bermegahlah dalam nama-Nya yang kudus, biarlah bersukahati orang-orang yang mencari Tuhan. Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah selalu wajah-Nya!Hai anak cucu Abraham, hamba-Nya, hai anak-anak Yakub, pilihan-Nya! Dialah Tuhan, Allah kita, ketetapannya berlaku di seluruh bumi.Selama-lamanya Ia ingat akan perjanjian-Nya, akan firman yang diperintahkan-Nya kepada seribu angkatan, akan perjanjian yang diikat-Nya dengan Abraham, dan akan sumpah-Nya kepada Ishak.

Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku. Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku.


Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum, Yesus dengan Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi, dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Yesus. Waktu menemukan Yesus, mereka berkata: “Semua orang mencari Engkau.” Jawab Yesus, “Marilah pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea, dan memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.

Seringkali ada ibadat-ibadat yang menawarkan penyembuhan: Misa penyembuhan atau KKR Penyembuhan, atau semacam itu. Banyak orang rela datang dari tempat yang jauh, meluangkan banyak waktu, dan mengeluarkan sejumlah uang untuk biaya transportasi, makan-minum dan lain-lain. Orang sakit sangat berharap untuk disembuhkan. Orang yang ditimpa masalah ingin masalahnya diselesaikan secara ajaib. Orang sehat ingin melihat mukjizat.

Pada zaman Yesus juga demikian. Yesus bisa menyembuhkan orang dari berbagai penyakit fisik dan mengusir setan dari orang yang kerasukan. Dalam bacaan Injil dilaporkan, Yesus menyembuhkan mertua Simon. Lalu orang-orang yang sakit dan kerasukan setan juga disembuhkan-Nya.

Sakit adalah pengalaman yang mengganggu dan tidak mengenakkan. Hidup menjadi tidak nyaman. Sakit mengakibatkan penderitaan. Wajar bila orang ingin disembuhkan penyakitnya dengan cara apa pun. Bagi kita, mengupayakan kesembuhan dan mengatasi penderitaan merupakan hak dan sekaligus kewajiban, yaitu hak dan kewajiban untuk merawat hidup yang dianugerahkan oleh Allah. Apabila direnungkan, penderitaan memberi hikmah. Pertama, kita menjadi sadar bahwa kesehatan itu sangat penting dan hidup itu sangat berharga. Hidup itu semata-mata anugerah Allah.

Kedua, penderitaan mengajar kita untuk rendah hati. Kita mengakui bahwa hidup ini tidak senantiasa ada dalam kuasa kita untuk mengaturnya. Dengan rendah hati, kita bisa bersikap pasrah kepada Allah, kita diundang untuk mempersembahkan penderitaan dan daya upaya yang telah kita tempuh. Yesus tidak menyembuhkan semua orang sakit yang datang kepada-Nya.

Ketiga, pengalaman akan penderitaan mengajarkan rasa setia kawan. Kita bisa menjadi lebih memahami orang lain yang sedang menderita. Kita akan terdorong menawarkan bantuan sesuai dengan kemampuan dan kerelaan untuk turut meringankan beban mereka. Atau sekurang-kurangnya, kita terdorong untuk tidak menambah beban penderitaan orang lain. Yesus menjadi contoh sebagaimana dikatakan oleh bacaan pertama. “ sebab oleh karena Ia sendiri telah menderita karena pencobaan, maka Ia dapat menolong mereka yang dicobai”. (Ibr. 2:18).(AT)


Renungan diambil dari : Percikan Hati Vol 19 No.5 Januari 2021


Mrk 1:29-39
Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.

Baca dari sumber renungan harian Katolik

5 pencarian oleh pembaca:

  1. khotbah Kristen Protestan yang panjang Bulan Januari 2021
Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.