Bacaan dan Renungan Minggu 26 Juli 2020, Pekan Biasa XVII

Salomo meminta hikmat dan pengertian.


Pada suatu malam Tuhan menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi Beginilah firman Tuhan Allah, “Mintalah apa yang kauharapkan dari pada-Ku!” Lalu Salomo berkata, “Ya Tuhan, Allahku, Engkau telah mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku,sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Kini hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih,suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya. Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan tepat, dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”


Tuhan sangat berkenan bahwa Salomo meminta hal yang demikian.Maka berfirmanlah Allah kepada Salomo,”Oleh karena engkau telah meminta hal yang demikian,dan tidak meminta umur panjang,atau kekayaan, atau nyawa musuhmu,melainkan pengertian untuk memutuskan hukum,maka Aku melakukan sesuai dengan permintaanmu! Sungguh, Aku memberikan kepadamu hati yang penuh hikmat dan pengertian,sehingga sebelum engkau tidak ada seorang pun seperti engkau,dan sesudah engkau pun takkan bangkit seorang seperti engkau.”



Ref:Betapa kucintai Taurat-Mu, ya Tuhan.

Bagianku ialah Tuhan, aku telah berjanji untuk berpegang pada firman-firman-Mu.
Taurat yang Kausampaikan adalah baik bagiku,lebih berharga daripada ribuan keping emas dan perak.Biarlah kiranya kasih setia-Mu menjadi penghiburanku,sesuai dengan janji yang Kauucapkan kepada hamba-Mu.Biarlah rahmat-Mu turun kepadaku, sehingga aku hidup,sebab Taurat-Mulah kegemaranku.Itulah sebabnya aku mencintai perintah-perintah-Mu,lebih daripada emas, bahkan daripada emas tua.Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu,
segala jalan dusta aku benci.Peringatan-peringatan-Mu ajaib,itulah sebabnya jiwaku memegangnya.Bila tersingkap, firman-Mu memberi terang,memberi pengertian kepada orang-orang bodoh.

Mereka ditentukan Allah dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya.


Saudara-saudara,kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih Allah dari semula, mereka itu juga ditentukan-Nya sejak semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Anak-Nya itu menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan Allah dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.



Aku bersyukur kepada-Mu, ya Bapa, Tuhan langit dan bumi,sebab misteri Kerajaan Engkau nyatakan kepada orang kecil.



Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.


Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu. Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya,lalu membeli mutiara itu.


Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan pelbagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itu ditarik orang ke pantai. Lalu mereka duduk dan dipilihlah ikan-ikan itu, yang baik dikumpulkan ke dalam pasu, yang buruk dibuang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar. Yang jahat lalu dicampakkan ke dalam dapur api. Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi. Mengertikah kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Maka bersabdalah Yesus kepada mereka, “Karena itu setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran hal Kerajaan Surga seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”



Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.


Sekali peristiwa Yesus mengajar orang banyak, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Karena sukacitanya, pergilah ia menjual seluruh miliknya,lalu membeli ladang itu.


Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah.Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga,ia pun pergi menjual seluruh miliknya,lalu membeli mutiara itu.”


Kitab Suci mencatat bahwa Salomo mengasihi TUHAN dengan sungguh-sungguh. Hal itu dibuktikannya dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya. Ia mempersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, sebagai wujud kasihnya itu. Korban-korban bakaran itu adalah pernyataan ibadah, ucapan syukur, dan persekutuan Salomo kepada TUHAN. Ini adalah bukti pertama Salomo mengasihi TUHAN sungguh-sungguh.


Bukti kedua Salomo mengasihi TUHAN, dapat kita lihat dari permohonannya dalam doa. TUHAN mengaruniakan Salomo satu permintaan, dan Salomo memanfaatkannya. Satu permintaan Salomo adalah memohonkan hikmat supaya bisa memerintah dengan baik dan demi kebaikan rakyatnya. Salomo tidak meminta kekayaan, kekuasaan, umur panjang, dll. Ini menunjukkan bahwa Salomo tidak mementingkan diri sendiri, tetapi peduli kepada rakyatnya yang begitu banyak. Dengan hikmat dari TUHAN, Salomo mensejahterakan umat Tuhan. Salomo mengasihi umat TUHAN karena Salomo mengasihi TUHAN! Bukti kedua ini diteguhkan dengan konfirmasi dari TUHAN sendiri.


Salomo mengasihi Tuhan bukan sekadar melalui kata-kata tetapi dengan tindakan konkret. Apakah kita mengasihi Tuhan? Apa bukti nyata kita mengasihi Tuhan? Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita menaati firman-Nya, dan setia beribadah kepada-Nya. Kalau kita mengasihi Tuhan, pasti kita juga mengasihi sesama kita, dan kita akan meminta hal-hal yang terbaik bukan untuk diri sendiri melainkan untuk orang lain.


Bacaan II, Paulus memberikan penghiburan kepada orang Kristen saat mengalami kesesakan. Hiburan apakah yang dapat menguatkan orang Kristen yang sedang menderita berat karena imannya? Ketika Paulus menulis surat ini, sebagian besar orang percaya di kota Roma, sedang atau akan mengalami penderitaan dahsyat. Paulus sendiri berulangkali mengalami penderitaan. Maka nasihat yang ia berikan ini bukan omong kosong, tetapi prinsip teologis penting yang teruji.


Paulus tidak menghadapi penderitaan dengan menyangkali faktanya atau mengelakkannya. Orang Kristen yang setia kepada Kristus dan kehendak-Nya pasti harus menanggung berbagai bentuk penderitaan. Penderitaan tidak untuk dihindari, tetapi dihadapi dengan kebenaran firman. Dengan cara itu orang Kristen beroleh kekuatan yang membuat mereka dapat bertahan secara kreatif. Kebenaran apa yang Paulus bukakan? Kreatif seperti apa yang dimungkinkan Allah bagi orang Kristen yang sedang menderita?


Fakta penderitaan kini harus dihadapi dengan fakta kemuliaan kelak yang akan Tuhan nyatakan bagi anak-Nya. Sedahsyat segelap apa pun penderitaan yang kita alami dan kekelaman perasaan yang diakibatkannya, tidak dapat dibandingkan dengan perjumpaan kita dengan Tuhan kelak dan fakta kita akan bersama-Nya kekal. Penderitaan dapat menjadi alat Tuhan mengobarkan pengharapan iman yang kreatif. Tema ini sudah Paulus uraikan sebelumnya (Rm. 5:3-5), dalam kasih karunia kita jalani penderitaan agar tumbuh ketekunan, tahan uji, pengharapan. Harapan itu lebih penuh lagi sebab seluruh alam semesta yang telah dirusak dosa ini pun kelak akan dimurnikan dari dosa (Rm. 8:21-23). Paulus juga mengingatkan kekuatan itu datang bukan hanya dari berpegang pada konsep kebenaran, tapi dari Roh Kudus. Roh kekudusan dan kekuatan dari Allah menjadi Penghibur, Penopang, Penasihat. Ia pendamping dan rekan doa tepercaya sepanjang kita menjalani dunia nestapa ini.


Paulus memberikan penghiburan bagi kita semua anak-anak Tuhan ketika kita semua harus menderita dalam hidup ini. Pertama Allah akan mendatangkan kebaikan dari semua kesesakan, pencobaan, penganiayaan, dan penderitaan. Hal yang baik yang dikerjakan Tuhan menjadikan kita serupa dengan gambaran Kristus dan akhirnya menghasilkan kemuliaan bagi kita. Kedua, janji ini terbatas bagi mereka yang mengasihi Allah dan telah menyerahkan diri kepada-Nya melalui iman kepada Kristus. Ketiga, “dalam segala sesuatu” tidak termasuk dosa atau kelalaian kita, sebab tidak seorang pun yang dapat membenarkan dosa dengan mengatakan bahwa Allah akan mendatangkan kebaikan daripadanya.


Firman dan Roh sumber penghiburan dan kekuatan kekal dalam penderitaan sementara kita.


Injil Matius 13:44-52 memuat tiga perumpamaan : harta terpendam, mutiara yang berharga (ayat 44-46), dan tentang pukat yang dilabuhkan di laut(ayat 47-52). Kehadiran Tuhan Yesus di dunia adalah untuk menghadirkan Kerajaan Surga supaya Allah meraja dalam kehidupan manusia. Kerajaan Surga seumpama harta yang terpendam dan ditemukan orang, dan karena harta itu sangat berharga maka orang yang menemukannya mempertaruhkan segala miliknya untuk mendapatkannya. “Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, iapun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu” (ayat 44a, 46). Karena Kerajaan Surga adalah “harta yang paling berharga” dalam kehidupan manusia maka mempertaruhkan seluruh hidup demi mendapatkan Kerajaan Sorga menjadi prioritas, nilai yang tertinggi, dalam kehidupan kita. Komitmen yang total sangat dibutuhkan untuk “mendapatkan” Kerajaan Surga dan bila kita telah mendapatkannya maka sukacita akan dianugerahkan kepada kita.


Tuhan Yesus mengakhiri wejangan-Nya dengan memaparkan perumpamaan tentang pukat. “Demikian pula hal Kerajaan Surga itu seumpama pukat yang dilabuhkan di laut, lalu mengumpulkan berbagai-bagai jenis ikan. Setelah penuh, pukat itupun diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam pasu dan ikan yang tidak baik mereka buang” (ayat 47-48). Perumpamaan tentang pukat ini menyampaikan gagasan bahwa untuk “memiliki” Kerajaan Surga dibutuhkan kemampuan untuk melihat tindakan baru Allah dalam Kristus, suatu hati dan tindakan yang bijaksana. Seperti Salomo meminta kebijaksanaan kepada Allah, “Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” (1 Raj 3:9). Semoga Kerajaan Surga menjadi PRIORITAS UTAMA dalam hidup saudara-saudari sehingga “mengalami dan memiliki” Allah yang meraja.


Mengutip dari katolisitas.org, dalam konteks yang lebih luas dari ayat Matius 13:44-52, maka dalam Matius 13, kita menemukan adanya tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga, yang terdiri dari:


(a) perumpamaan tentang seorang penabur,


(b) perumpamaan tentang lalang di antara gandum,


(c) perumpamaan tentang biji sesawi,


(d) perumpamaan tentang ragi,


(e) perumpamaan tentang harta terpendam,


(f) perumpamaan tentang mutiara yang indah,


(g) perumpamaan tentang pukat.


Dalam perumpamaan tentang seorang penabur yang menaburkan benih ke pinggir jalan, tanah berbatu, semak berduri dan tanah yang subur, Kristus ingin menunjukkan kondisi. Kondisi yang memungkinkan seseorang menerima Kerajaan Sorga adalah dengan menjadikan diri kita untuk menjadi tanah yang gembur, sehingga Sabda Allah dapat bertumbuh dan berbuah seratus kali, enam puluh kali atau tiga puluh kali lipat. Dalam perumpamaan tentang lalang di antara gandum, Kristus ingin menekankan bahwa kondisi yang baik agar Sabda Allah bertumbuh tidaklah cukup, namun diperlukan sikap yang senantiasa berjaga-jaga. Perumpamaan tentang biji sesawi dan ragi menunjukkan kekuatan dan keefektifan Kerajaan Allah, yaitu dapat bertumbuh sangat pesat dan luar biasa mulai dari hal yang sangat kecil. Perumpamaan tentang harta dan mutiara menunjukkan harga yang harus dibayar untuk memperoleh Kerajaan Sorga. Dan akhirnya perumpamaan tentang pukat mengulangi perumpamaan tentang lalang di antara gandum, yang menceritakan akhir zaman, di mana para malaikat akan memisahkan yang jahat dari yang  baik/benar, serta memberikan hukuman bagi orang yang jahat di neraka dan memberikan anugerah keselamatan bagi umat Allah yang setia sampai akhir. Dengan demikian, maka kita melihat bagaimana tujuh perumpamaan tentang Kerajaan Sorga memberikan gambaran akan kondisi, syarat, kekuatan dan keefektifan, harga yang harus dibayar, dan kebahagiaan yang didapat atau penderitaan kalau tidak mendapatkannya. Ke-tujuh perumpamaan ini sungguh luar biasa dan melengkapi satu sama lain, sehingga umat Allah semakin disadarkan bahwa Allah sungguh-sungguh menginginkan agar semua manusia dapat memperoleh kebahagiaan sejati di Sorga dan memperoleh pengetahuan sejati akan kebenaran. (1Tim 2:4)


DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan (Kyrios) segala ciptaan. Engkau kekal, namun selalu baru. Aku memuji Dikau, ya Tuhan dan Allahku, untuk hikmat-kebijaksanaan-Mu dan meluhurkan Dikau untuk kasih-Mu yang selalu hadir dalam diriku. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu. Jagalah aku agar tetap menjadi murid-Mu yang setia, ya Tuhan. Amin.


26 Juli 2020


Mat 13:44-52 Ia menjual seluruh miliknya, lalu membeli ladang itu.


Baca artikel dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.