Bacaan dan Renungan Minggu 22 Maret 2020, Masa Prapaskah IV

“Daud diurapi menjadi raja Israel.”


16:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel? Isilah tabung tandukmu dengan minyak dan pergilah. Aku mengutus engkau kepada Isai, orang Betlehem itu, sebab di antara anak-anaknya telah Kupilih seorang raja bagi-Ku.” 16:6 Ketika mereka itu masuk dan Samuel melihat Eliab, lalu pikirnya: “Sungguh, di hadapan TUHAN sekarang berdiri yang diurapi-Nya.” 16:7 Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” 16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.” 16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.” 16:12 Kemudian disuruhnyalah menjemput dia. Ia kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: “Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia.” 16:13 Samuel mengambil tabung tanduk yang berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh TUHAN atas Daud. Lalu berangkatlah Samuel menuju Rama.



Ref. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Tuhan adalah gembalaku, aku tidak kekurangan: ‘ku dibaringkan-Nya di rumput yang hijau, di dekat air yang tenang. ‘Ku dituntun-Nya di jalan yang lurus demi nama-Nya yang kudus.Sekalipun aku harus berjalan berjalan di lembah yang kelam, aku tidak takut akan bahaya, sebab Engkau besertaku; sungguh tongkat penggembalaan-Mu, itulah yang menghibur aku.Kau siapkan hidangan bagiku dihadapan lawanku, Kauurapi kepalaku dengan minyak, dan pialaku melimpah.Kerelaan yang dari Tuhan dan kemurahan ilahi, mengiringi langkahku selalu, sepanjang umur hidupku, aku akan diam di rumah Tuhan, sekarang dan senantiasa.

“Bangkitlah dari antara orang mati, maka Kristus akan bercahaya atas kamu.”


5:8 Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 5:9 karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 5:10 dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 5:11 Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. 5:12 Sebab menyebutkan sajapun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. 5:13 Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang. 5:14 Itulah sebabnya dikatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.”


Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 8:12b)



Akulah cahaya dunia; siapa yang mengikuti Aku akan hidup dalam cahaya abadi.



“Orang buta itu pergi, membasuh diri, dan dapat melihat.”


9:1 Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. 9:2 Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya: “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” 9:3 Jawab Yesus: “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. 9:4 Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja. 9:5 Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” 9:6 Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan mengaduk ludahnya itu dengan tanah, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi 9:7 dan berkata kepadanya: “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya: “Yang diutus.” Maka pergilah orang itu, ia membasuh dirinya lalu kembali dengan matanya sudah melek. 9:8 Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata: “Bukankah dia ini, yang selalu mengemis?” 9:9 Ada yang berkata: “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata: “Bukan, tetapi ia serupa dengan dia.” Orang itu sendiri berkata: “Benar, akulah itu.” 9:10 Kata mereka kepadanya: “Bagaimana matamu menjadi melek?” 9:11 Jawabnya: “Orang yang disebut Yesus itu mengaduk tanah, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.” 9:12 Lalu mereka berkata kepadanya: “Di manakah Dia?” Jawabnya: “Aku tidak tahu.” 9:13 Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. 9:14   Adapun hari waktu Yesus mengaduk tanah dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. 9:15 Karena itu orang-orang Farisipun bertanya kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya: “Ia mengoleskan adukan tanah pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” 9:16 Maka kata sebagian orang-orang Farisi itu: “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Sebagian pula berkata: “Bagaimanakah seorang berdosa dapat membuat mujizat yang demikian?” Maka timbullah pertentangan di antara mereka. 9:17 Lalu kata mereka pula kepada orang buta itu: “Dan engkau, apakah katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya: “Ia adalah seorang nabi.” 9:18 Tetapi orang-orang Yahudi itu tidak percaya, bahwa tadinya ia buta dan baru dapat melihat lagi, sampai mereka memanggil orang tuanya 9:19 dan bertanya kepada mereka: “Inikah anakmu, yang kamu katakan bahwa ia lahir buta? Kalau begitu bagaimanakah ia sekarang dapat melihat?” 9:20 Jawab orang tua itu: “Yang kami tahu ialah, bahwa dia ini anak kami dan bahwa ia lahir buta, 9:21 tetapi bagaimana ia sekarang dapat melihat, kami tidak tahu, dan siapa yang memelekkan matanya, kami tidak tahu juga. Tanyakanlah kepadanya sendiri, ia sudah dewasa, ia dapat berkata-kata untuk dirinya sendiri.” 9:22 Orang tuanya berkata demikian, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi, sebab orang-orang Yahudi itu telah sepakat bahwa setiap orang yang mengaku Dia sebagai Mesias, akan dikucilkan. 9:23 Itulah sebabnya maka orang tuanya berkata: “Ia telah dewasa, tanyakanlah kepadanya sendiri.” 9:24 Lalu mereka memanggil sekali lagi orang yang tadinya buta itu dan berkata kepadanya: “Katakanlah kebenaran di hadapan Allah; kami tahu bahwa orang itu orang berdosa.” 9:25 Jawabnya: “Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat.” 9:26 Kata mereka kepadanya: “Apakah yang diperbuat-Nya padamu? Bagaimana Ia memelekkan matamu?” 9:27 Jawabnya: “Telah kukatakan kepadamu, dan kamu tidak mendengarkannya; mengapa kamu hendak mendengarkannya lagi? Barangkali kamu mau menjadi murid-Nya juga?” 9:28 Sambil mengejek mereka berkata kepadanya: “Engkau murid orang itu tetapi kami murid-murid Musa. 9:29 Kami tahu, bahwa Allah telah berfirman kepada Musa, tetapi tentang Dia itu kami tidak tahu dari mana Ia datang.” 9:30 Jawab orang itu kepada mereka: “Aneh juga bahwa kamu tidak tahu dari mana Ia datang, sedangkan Ia telah memelekkan mataku. 9:31 Kita tahu, bahwa Allah tidak mendengarkan orang-orang berdosa, melainkan orang-orang yang saleh dan yang melakukan kehendak-Nya. 9:32  Dari dahulu sampai sekarang tidak pernah terdengar, bahwa ada orang yang memelekkan mata orang yang lahir buta. 9:33 Jikalau orang itu tidak datang dari Allah, Ia tidak dapat berbuat apa-apa.” 9:34 Jawab mereka: “Engkau ini lahir sama sekali dalam dosa dan engkau hendak mengajar kami?” Lalu mereka mengusir dia ke luar. 9:35   Yesus mendengar bahwa ia telah diusir ke luar oleh mereka. Kemudian Ia bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” 9:36       Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepada-Nya.” 9:37 Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” 9:38  Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya. 9:39 Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” 9:40 Kata-kata itu didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepada-Nya: “Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” 9:41 Jawab Yesus kepada mereka: “Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu.”


Saul ditolak Tuhan sebagai raja Israel karena pelanggaran-pelanggaran yang dilakukannya (pasal 1Sam 15). Penolakan itu membuat Samuel sedih (ayat 1). Ia merasa bertanggung jawab atas kejatuhan Saul. Tuhan mengingatkan Samuel bahwa sebagai hamba Tuhan ia harus memperhatikan kehendak Tuhan bukan membela orang yang berontak terhadap Tuhan. Samuel diberi tugas baru, mencari pengganti Saul. Dengan jujur Samuel mengakui takut dibunuh oleh Saul (ayat 2). Bagian ini mengungkapkan kondisi Saul yang membahayakan orang lain, dan Samuel yang banyak memperhatikan segi lahir dibandingkan pertimbangan rohani.


Pasca Saul. Setelah Daud diurapi, Allah berkenan memakainya. Konsekuensinya Allah tidak lagi memakai Saul (ayat 14). Era Daud pun dimulai. Cara Tuhan unik. Ia menempatkan Daud di istana sebagai pemain kecapi raja. Pasti banyak hal yang dipelajari Daud akibat-akibat kejatuhan seperti yang disaksikannya pada Saul. Apa yang Tuhan ingin Daud pelajari saat itu?



Renungkan: Urapan Tuhan pada pemimpin bukan hanya menyertai yang bersangkutan tetapi juga kesejahteraan yang dipimpinnya.


Pemazmur menggambarkan hubungan dirinya dengan Tuhan bagaikan domba yang dipelihara oleh gembala yang baik. Gembala yang baik bertanggung jawab atas seluruh kebutuhan domba-dombanya (ayat 1). Dia menyediakan kebutuhan untuk makanan yang hijau segar dan air yang menyejukkan (ayat 2). Dia menyertai mereka saat perjalanan sulit dan melindungi mereka atas musuh-musuh yang ganas (ayat 3,4). Pemazmur juga menggambarkan Tuhan sebagai tuan rumah yang menerimanya sebagai tamu kehormatan. Dia melindungi tamu itu dengan kehormatan dan mengurapinya dengan wewangian (ayat 5). Jaminan kebajikan dan kemurahan meneduhkan si pemazmur sehingga ia bertekad untuk hanya mengandalkan Tuhan seumur hidupnya.


Sungguh ini adalah suatu gambaran yang menyejukkan bagi setiap orang yang berada di tengah dunia yang kian panas dan membara. Manakala kita berpaling ke sekeliling kita, tidaklah kita temukan orang yang kepadanya kita dapat menaruh harap dan percaya kita, karena semua seperti penjaga-penjaga upahan, yang akan lari menyelamatkan diri bila ada bahaya. Namun, dengan berpaling kepada Tuhan dan mengalami perjalanan hidup bersama- Nya, kita tahu bahwa Dia adalah Gembala yang baik.



Renungkan: “Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku…” (Yoh 10:14). Tiada pemeliharaan dan kepastian hidup yang sejati di luar Gembala yang baik, Tuhan Yesus Kristus.


Efesus merupakan salah satu kota metropolitan di Asia Kecil, dan merupakan kota yang paling terkenal dan tersibuk pada zamannya. Kota yang didirikan oleh Amazons tersebut dikenal bukan hanya dikarenakan kemajuan bisnis dan perekonomiannya, tetapi juga terkenal karena kemerosotan moralnya, dimana praktik prostitusi menjamur di Efesus. Dalam situasi masyarakat yang seperti inilah orang Kristen menghadapi tantangan yang khusus. Orang Kristen bukan hanya harus menunjukkan jati dirinya, tetapi juga harus memberikan contoh mengenai kehidupan yang baik.


Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh jemaat di Efesus untuk membuktikan bahwa mereka adalah anak-anak terang. Hal yang pertama meguji apa yang berkenan kepada Tuhan (ay. 10). Berkenan, bukan hanya disetujui atau diterima, tetapi juga harus menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak mendukakan hati Tuhan dan tidak hidup di luar rencana Tuhan.


Langkah kedua, memiliki komitmen untuk meninggalkan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, dan melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.


Langkah yang ketiga yang berhubungan dengan misi. Dalam ayat 11 Paulus mengatakan supaya jemaat di Efesus menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan. Kata menelanjangi dapat diartikan sebagai menegur dengan keras, menyatakan kesalahan ataupun membuktikan bahwa perbuatan kegelapan itu merupakan dosa. Jemaat di Efesus memiliki misi untuk melakukan pembaharuan moral di kota Efesus. Sebagai anak-anak terang, jemaat di Efesus harus berperan secara aktif menolong setiap warga di Efesus supaya mereka menyadari bahwa perbuatan mereka yang hidup dalam kegelapan itu merupakan perbuatan yang merendahkan martabat manusia.


Apa yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Efesus juga berlaku bagi setiap orang Kristen masa kini. Setiap orang Kristen yang mengakui dirinya sebagai anak-anak terang, harus berperan aktif untuk menelanjangi praktik-praktik kegelapan yang terjadi dalam masyarakat yang tentunya harus dimulai dari gereja.


Bagian terakhir yang sangat penting dari pengajaran Paulus ini terdapat dalam ayat 9 yang berkata, “… karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran”. Paulus mengingatkan jemaat di Efesus, agar mereka melakukan kebaikan, keadilan dan kebenaran. Setiap orang Kristen yang menegur kesalahan orang lain harus dimotivasi oleh kasih dan tujuannya adalah untuk kebaikan orang lain. Ketika kita menegur kesalahan orang lain harus berlandaskan rasa keadilan. Tingkat teguran yang diberikan kepada orang lain ditentukan oleh tingkat kesalahan. Jangan sampai kesalahan yang kecil dibesar-besarkan, sehingga akan menimbulkan masalah yang lebih besar. Ketika kita menegur orang lain juga harus didasarkan kebenaran. Sebelum melakukan teguran, kita harus mengetahui secara benar duduk persoalan, mengetahui fakta-fakta yang benar dan melakukan teguran secara benar. Ketiga koridor tersebut sangat penting dalam melakukan misi pembaharuan dalam masyarakat, karena hal tersebut sangat menentukan keberhasilan misi kita.


Injil hari ini,  Pekerjaan Allah harus dinyatakan


Cukup banyak orang yang berpendapat bahwa penderitaan, termasuk sakit penyakit disebabkan oleh dosa. Orang-orang Yahudi pun berpendapat demikian. Lihat saja para murid Yesus, mereka mempertanyakan akibat dosa siapa kebutaan dialami oleh orang buta dalam bacaan kita (ayat 2).


Yesus secara tegas menyatakan bahwa kebutaan itu bukan karena dosa orang itu sendiri, bukan juga dosa orang tuanya (ayat 3). Yesus menolak pendapat bahwa semua penyakit disebabkan oleh dosa seseorang. Ada hal positif yang juga dapat dinyatakan melalui pengalaman sakit seseorang. Melalui sakit Tuhan mau menyatakan pekerjaan-pekerjaan-Nya, kemuliaan dan kemahakuasaan-Nya.


Melalui peristiwa penyembuhan orang buta oleh Yesus, banyak pihak yang mendapat kesempatan melihat karya Allah dan menanggapinya. Si buta yang baru saja dapat melihat, memberikan kesaksian bahwa Yesus adalah nabi! Para tetangga menyaksikan bahwa dia yang dulu mengemis dalam kebutaan, kini telah celik. Demikian juga orang Farisi, walau sikap mereka terpecah antara yang kagum karena kuasa Allah dinyatakan dan yang sebagian lain mencerca Yesus sebagai pelanggar hari Sabat (ayat 16). Apa pun tanggapan mereka, karya Allah telah dinyatakan!


Pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan bukan hanya melalui hal-hal yang menyenangkan, tetapi juga melalui penderitaan. Penderitaan, kesengsaraan, sakit, kekecewaan, kehilangan, selalu merupakan kesempatan untuk mengalami pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Inilah yang kita lihat di dalam jalan salib yang ditempuh Yesus. Ia memilih jalan penderitaan untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Apakah kita juga belajar melihat bahwa semua yang kita alami adalah dalam rangka pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan? Bersyukurlah atas kesempatan yang kita dapatkan untuk menyatakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Kesempatan melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah tidak selalu ada (ayat 4), oleh karena itu marilah kita menggunakan kesempatan yang ada.


Berani bersaksi. Bersaksi adalah tugas setiap orang percaya, tetapi tidak semua orang Kristen mau bersaksi secara sederhana. Bersaksi adalah menceritakan atau menyatakan apa yang telah dilakukan Yesus dalam hidup kita kepada orang-orang lain. Orang Kristen dipanggil untuk bersaksi secara objektif dengan menyampaikan fakta-fakta Injil, dan bersaksi secara subjektif dengan membagi pengalaman-pengalamannya di dalam Kristus.


Bacaan Injil hari ini, kita membaca mengenai orang tua dari orang buta yang telah disembuhkan Yesus itu, yang tidak berani memberi kesaksian tentang apa yang telah dialami anaknya (ayat 19-21). Ia takut dikucilkan (ayat 22). Pengucilan merupakan senjata ampuh dari para pembesar rumah ibadah Yahudi untuk membuat orang tidak berani mengakui Yesus sebagai Mesias. Pengucilan berarti seseorang dikeluarkan/diasingkan dari umat Allah. Pada zaman Yesus sebenarnya banyak penguasa di Yerusalem yang percaya kepada Yesus, tetapi mereka takut untuk menyatakan hal itu. Mereka ingin “supaya mereka jangan dikucilkan” (Yoh. 12:42).


Berbeda dari orang tuanya, orang buta yang disembuhkan itu tidak takut bersaksi. Ia berani mengatakan apa yang baru dia alami bersama Yesus. Ia mengatakan “Aku tadinya buta dan sekarang dapat melihat (ayat 25).” Memang ia tidak cukup siap untuk berdebat dengan pemahaman orang Farisi tentang Yesus (ayat 24, 25), tetapi ia tetap mau memberikan kesaksian tentang perbuatan Yesus yang ia alami.


Bagaimana dengan kita? Apakah kita berani bersaksi seperti orang buta yang disembuhkan oleh Yesus? Atau kita enggan bersaksi karena takut diperlakukan secara tidak baik? Mungkin banyak di antara kita yang tidak mampu bersaksi tentang Yesus dalam bahasa teologi yang tepat, tetapi kita semua pasti bisa menceritakan apa yang sudah Yesus lakukan dalam hidup kita. Jangan malu dan jangan takut bersaksi. Bersaksilah mulai hari ini dan seterusnya.


Yang buta melek, yang melek buta! Orang yang sadar akan kesalahannya bisa diajarkan kebenaran dan akhirnya menjadi orang yang benar. Namun, orang yang merasa diri benar padahal salah bagaimana cara menolongnya? Hal ini, sama dengan mencoba menolong orang yang merasa dirinya melek padahal ia buta. Hampir mustahil!


Apa yang terjadi pada diri orang buta yang mengalami kesembuhan adalah suatu anugerah yang membawa sukacita besar. Oleh perjumpaannya dengan Tuhan Yesus, orang itu mendapatkan kesembuhan mata jasmaninya. Lebih daripada itu, orang tersebut mengalami pertumbuhan dalam imannya dan oleh anugerah Allah menjadi anak-Nya (ayat 35-38). Semua itu terjadi karena respons tepatnya terhadap anugerah Allah. Yang ironis adalah orang-orang Farisi yang merasa dirinya paling benar, tidak ada kesalahan dalam pengetahuan iman dan Alkitabnya, justru di hadapan Tuhan Yesus mereka adalah orang-orang buta (ayat 39). Kebutaan mereka terjadi karena mereka menolak anugerah Allah yang dapat mencelikkan mereka kepada kebenaran-kebenaran sejati. Pada saat yang sama, mereka memilih memercayai penglihatan buta mereka, yaitu tradisi agama dan penafsiran sempit terhadap Hukum Taurat. Seandainya mereka mengakui “kebutaan” itu, dosa-dosa mereka dapat diampuni. Akan tetapi, karena mereka tetap merasa diri benar maka dosa mereka pun tidak dapat diampuni (ayat 41).


Semua manusia buta karena dosa-dosa mereka. Kini, Terang Dunia sudah datang agar terjadi “celik rohani.” Orang yang sadar dirinya “buta” boleh datang dan berseru maka ia akan dicelikkan dan diselamatkan. Kita harus berdoa untuk orang-orang yang merasa dirinya benar, “celik rohani,” agar oleh belas kasih Tuhan, mereka pun disadarkan dari “kebutaan” ini, dan mengalami anugerah Allah.


Doa: Tuhan, jadikan aku alat-Mu yang memantulkan sinar kemuliaan-Mu yang sanggup mencelikkan mata rohani yang buta.Amun. (Lucas Margono)


============================================================================


Allah Bapa di Surga,


Kami berdoa untuk semua orang yang terkena virus corona dan menderita karena sakitnya dan untuk semua orang yang menderita karena sakit lainnya. Semoga Engkau mengasihani jiwa-jiwa mereka & menyelamatkannya. Gerakkanlah hati semua orang untuk turut serta membantu dalam meringankan penderitaan mereka.Biarlah segala sesuatu yang terjadi bisa menjadi cermin bagi kami semua, menjadi pelajaran berharga dan suatu petunjuk bahwa tiada yang lebih besar daripada Engkau, Pencipta dan Pemilik kehidupan ini sepenuhnya.


============================================================================


View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.