Bacaan dan Renungan Minggu 19 September 2021

2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. 2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. 2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. 2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. 2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”

Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu, berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu! Ya Allah, dengarkanlah doaku, berilah telinga kepada ucapan mulutku.Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku, orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku; mereka tidak mempedulikan Allah.Sesungguhnya, Allah adalah penolongku; Tuhanlah yang menopang aku. Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu, aku akan bersyukur sebab baiklah nama-Mu, ya TUHAN.3:16 Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. 3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik. 3:18 Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai.
4:1 Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? 4:2 Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi. Kamu tidak memperoleh apa-apa, karena kamu tidak berdoa. 4:3 Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu.

9:30 Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; 9:31 sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka: “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” 9:32 Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya. 9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” 9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. 9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.” 9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka: 9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.”

Gaya hidup orang benar dan cara pemahaman diri mereka rupanya menjadi batu sandungan dan sangat mengganggu hati nurani orang fasik. Seperti butir-butir darah putih dalam aliran darah menyerang benda asing dalam tubuh. Orang fasik menyerang orang benar yang jalannya berbeda sekali dengan mereka (ayat 12), Tafsir Alkitab PL oleh Dianne Bergant, CSA dan Robert J.Karris, OFM, hal 769.

Orang fasik merencanakan untuk mencobai orang benar (ayat 17-20), untuk melihat seperti Ayub (Ayb 1:6-12), apakah orang benar akan tetap bertahan dalam keyakinan mereka. Namun disini tampaknya orang fasik tidak mau berubah dan bertobat, karena mereka begitu buta. Ada ironi mengerikan dalam kata-kata mereka dalam ayat 20; andaikata Allah benar-benar melindungi orang yang menjadi korban mereka, maka orang fasik pasti dihukum. Sebab selama itu orang fasik merasa diri mereka aman-aman saja.

Kebutaan rohani orang fasik menjadikan mereka tidak bisa melihat anugerah dan berkat Tuhan atas diri manusia. Orang fasik mengandalkan kekuatan diri mereka dan segala sesuatu adalah hasil usahanya. Inilah manusia duniawi yang tidak memikirkan hidup ilahi yang kekal dikemudian hari, orang fasik seperti ini tetap ada banyak disekitar kita saat ini. Hati-hati dan waspada dalam pergaulan dan jangan lupa senantiasa mengandalkan Tuhan sebagai senjata kita.


Dalam Kitab Kebijaksanaan digambarkan, bahwa Mesias bukanlah orang yang berambisi untuk memperoleh nama baik atau kemenangan atau kedudukan duniawi, tetapi ia melayani semua orang sesuai dengan kehendak dan perkenanan Allah.

Dalam Mazmur 51 dikatakan, “bukan korban sembelihan atau korban bakaran, tetapi korban syukur dan hati yang hancur”. Akan tetapi Mazmur 54 ternyata tidak berhenti di situ saja melainkan maju selangkah lagi. Korban syukur dan hati hancur semestinya diikuti oleh korban sembelihan dan korban bakaran. Artinya, setelah melakukan yang satu (pertobatan kepada TUHAN), maka yang lainnya harus menyusul (korban). Dan korban di sini bukan lagi sebagai kewajiban kepada Allah tetapi sebagai ungkapan syukur yang dilakukan dengan kerelaan (ayat 8).

Dengan demikian akan menjadi nyata bahwa hubungan kita dengan TUHAN tidak seperti tuan dan hamba, tetapi seorang bapak dan anak. Hubungan bapak dengan anak pada dasarnya diwujudkan dalam sikap yang akrab dan mesra. Seorang bapak yang baik pastilah selalu merindukan anak-anaknya. Demikian sebaliknya anak-anak terhadap bapaknya. Dapatkah seorang bapak dikatakan baik jika ia hanya menuntut dari anak-anaknya? Atau seorang anak, jika ia hanya menuntut dari bapaknya?

Allah Bapa kita sudah demikian baik terhadap kita. Bahkan kebaikan-Nya ditunjukkan dengan mempersembahkan Anak-Nya yang tunggal untuk keselamatan kita. Apakah kita masih berani mengatakan kita mengasihi Allah sementara persembahan yang kita berikan adalah sisa-sisa uang kita. Mungkin seseorang sudah merasa memberi banyak dengan persembahan uang puluhan juta. Namun, jumlah itu masih terlalu kecil dibanding dengan puluhan kali lipat yang sudah kita terima. Bukan jumlah yang Tuhan lihat, tetapi kerelaan hati kita memberikan yang terbaik kepada-Nya itu yang menyenangkan-Nya.


Aku tidak akan lagi bersikap sebagai orang yang berjasa apalagi penguasa di gereja Tuhan. Sebab dengan demikian saya telah menghina Tuhan.

Masa kini, kecerdasan intelektual dianggap tidak cukup. Agar hidup sukses, orang perlu memiliki kecerdasan emosional dan spiritual. Mungkin yang dimaksud dengan kecerdasan emosional atau spiritual itu ada kesamaan dengan hikmat. Namun, menganggap diri sudah berhikmat pun tidak menjamin bahwa kita memiliki hikmat surgawi.

Perbedaan hikmat surgawi dan hikmat duniawi terletak pada sumber dan hasilnya (band. Mat. 7:17-18). Perbedaan sumber mengakibatkan perbedaan motivasi. Motivasi hikmat surgawi adalah kelemahlembutan (13). Motivasi hikmat duniawi adalah iri hati, mementingkan diri, memegahkan diri dan dusta melawan kebenaran (14). Hikmat duniawi berasal dari nafsu manusia dan setan-setan (15). Dampaknya adalah kekacauan dan segala perbuatan jahat. Sedangkan hikmat surgawi ditandai dengan kemurnian hati, yang terdiri dari tujuh sifat dan perbuatan, yaitu pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik (17). Ada kemungkinan angka tujuh dipakai Yakobus untuk melambangkan sifat yang menciptakan kesempurnaan. Hikmat surgawi bersumber dari Tuhan Yesus sebagai Kebenaran (18; Yoh. 14:6), dampaknya adalah damai bagi mereka yang mengadakan damai (18).

Dari penjelasan di atas, tidak sukar untuk menilai apakah perbuatan seseorang berasal dari hikmat Allah atau hikmat duniawi. Banyak pribadi atau keluarga berantakan disebabkan tindakan yang tidak berdasarkan hikmat surgawi, misalnya mementingkan diri sendiri. Kendati demikian tidak sedikit orang Kristen yang meremehkan dosa seperti “mementingkan diri sendiri” sebagai hal sepele. Padahal bila melihat dampak yang ditimbulkannya, yakni kekacauan dan segala perbuatan jahat, sudah seharusnya orang Kristen menjauhi dosa ini. Oleh karena itu, bila orang ingin dipenuhi damai surgawi, perbuatannya pun harus berasal dari hikmat surgawi, yakni hikmat yang bersumber dari karya pembaruan Tuhan Yesus dan teladan hidup-Nya.


Banyak orang beranggapan bahwa musuh Tuhan adalah orang yang tidak mengenal Tuhan. Benarkah demikian? Bacaan hari ini menegur kita karena di kalangan orang-orang yang mengaku diri Kristen, justru terdapat orang yang Yakobus nyatakan sebagai musuh Tuhan.

Mengapa justru orang beriman penerima surat ini yang ditegur Yakobus sedemikian keras? Karena dalam perilaku ibadah dan doa pun, mereka tidak mengusahakan kehendak Allah, yaitu damai dan kebenaran (3:18). Mereka malah memperjuangkan nafsu sendiri (4:1-2). Dalam kerohanian yang penuh semangat, tetapi setelah itu berkembang rasa iri, pertengkaran, atau perkelahian yang di hadapan Allah sama dengan membunuh (2b). Sikap ibadah yang egoistis itu selain tidak berkenan kepada Allah, juga tidak bermanfaat apa pun karena Allah tidak akan menanggapi (3). Bila orang Kristen menjadi duniawi atau mengutamakan kenikmatan dunia dan menyukai pola hidup orang yang tidak kenal Tuhan, itu artinya telah berzina dengan dunia ini. Orang Kristen duniawi adalah musuh Allah!

Di dalam kemurahan-Nya, Allah tidak akan membiarkan umat-Nya mengalami kehidupan sesat demikian. Ia telah memperbarui roh kita dan mengingini roh kita sepenuhnya sebab Ia Allah yang cemburuan adanya. Ia menuntut agar kita merendahkan hati dan menerima pentahiran dari Allah, sungguh-sungguh bertobat serta melawan Iblis dan dunia.

Banyak orang bermerek “Kristen/ Katolik”, tetapi hatinya bukan Kristen. Mereka biasanya adalah penentang-penentang Allah. Perilaku mereka sehari-hari justru mencemarkan kekristenan dan mempermalukan nama Allah. Tentu tak seorang pun dari kita mau disebut sebagai musuh Allah. Maka satu-satunya pilihan bagi kita adalah tunduk kepada Allah (7). Dengan menundukkan diri kepada Allah, maka tidak ada tempat lagi yang kita sediakan bagi Iblis dan diri sendiri. Tunduk kepada Allah berarti bertobat sungguh-sungguh yaitu bertobat dengan hati yang remuk di hadapan Tuhan.

Malu bertanya, sesat di jalan. Itulah yang terjadi pada murid-murid Yesus. Walau tidak mengerti perkataan Yesus mengenai kematian dan kebangkitan-Nya, mereka enggan bertanya (ayat 32). Akibatnya mereka sesat. Ini tampak dari topik pembicaraan mereka kemudian, yaitu tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Ironis bukan? Mereka mengira bahwa Yesus akan menjadi raja besar. Dan orang yang terbesar dari antara para murid, tentu akan diberi jabatan terbesar dalam kerajaan yang akan didirikan Sang Guru. Maka Yesus mengajar mereka bahwa kebesaran dalam kerajaan-Nya tergantung dari kesediaan orang untuk melayani orang lain. Bahkan meski yang dilayani itu adalah seorang anak (ayat 36). Dalam budaya Yahudi, anak tidak dianggap penting.

Pandangan Yesus berbeda dari pandangan dunia yang menganggap bahwa kebesaran ditentukan oleh seberapa banyak orang yang melayani kita. Dunia memang mencari kebesaran dalam bentuk kuasa, popularitas, dan kekayaan. Ambisi dunia adalah menerima perhatian dan penghargaan. Lalu salahkah berambisi menjadi orang besar? Bukan demikian. Yesus ingin meluruskan pandangan bahwa kebesaran adalah menjadi orang pertama, sementara orang lain menjadi nomor dua, tiga, dan seterusnya. Kebesaran sejati bukan menempatkan diri di atas orang lain supaya kita dimuliakan. Kebesaran adalah menempatkan diri kita untuk melayani dan menjadi berkat bagi sesama. Misalnya seorang dokter. Ia dianggap besar bukan karena ia seorang spesialis yang bekerja di rumah sakit mahal. Atau karena ia sering menjadi pembicara di seminar-seminar kesehatan. Ia dianggap besar bila ia juga menyediakan waktunya untuk menangani orang miskin.

Hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk dimuliakan seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Apa solusinya? Milikilah hati seorang hamba. Bersiaplah mengutamakan orang lain dan merendahkan diri sendiri. Ingatlah bahwa Yesus rela dianggap tak berarti dan memikul salib bagi kita.


DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat tinggal dalam persekutuan dengan Allah yang telah rusak karena dosa-dosaku, namun yang telah dipulihkan kepadaku melalui kematian-Mu di kayu salib dan kebangkitan-Mu. Semoga melalui persekutuan ini aku dapat memperoleh kerendahan-hati yang Kauhasrati bagi diriku. Amin.


Mrk 9:30-37 Anak Manusia akan diserahkan… Jka seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi pelayan dari semuanya.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.