Bacaan dan Renungan Minggu 15 Maret 2020, Prapaskah III

“Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.”


17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” 17:4 Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” 17:5 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. 17:6 Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. 17:7 Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”


Ref. Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.

Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi Gunung Batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorailah bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

“Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”


5:1 Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. 5:2 Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. 5:5 Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. 5:6 Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. 5:7 Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar?tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati?. 5:8 Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.


Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.
Ayat. (Yoh 4:42.15)



Tuhan, Engkau benar-benar Juruselamat dunia Berilah aku air hidup, supaya aku tidak haus lagi.



“Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal.”


4:5 Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 4:6 Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. 4:7 Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” 4:8 Sebab murid-murid-Nya telah pergi ke kota membeli makanan. 4:9 Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya: “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” (Sebab orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.) 4:10 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.” 4:11 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu? 4:12 Adakah Engkau lebih besar dari pada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan yang telah minum sendiri dari dalamnya, ia serta anak-anaknya dan ternaknya?” 4:13 Jawab Yesus kepadanya: “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, 4:14 tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” 4:15 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, berikanlah aku air itu, supaya aku tidak haus dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba air.” 4:16 Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, panggillah suamimu dan datang ke sini.” 4:17 Kata perempuan itu: “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya: “Tepat katamu, bahwa engkau tidak mempunyai suami, 4:18 sebab engkau sudah mempunyai lima suami dan yang ada sekarang padamu, bukanlah suamimu. Dalam hal ini engkau berkata benar.” 4:19 Kata perempuan itu kepada-Nya: “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.Yoh 4:20 Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.” 4:21 Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 4:22 Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. 4:23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” 4:25 Jawab perempuan itu kepada-Nya: “Aku tahu, bahwa Mesias akan datang, yang disebut juga Kristus; apabila Ia datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.” 4:26 Kata Yesus kepadanya: “Akulah Dia, yang sedang berkata-kata dengan engkau.” 4:27 Pada waktu itu datanglah murid-murid-Nya dan mereka heran, bahwa Ia sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan. Tetapi tidak seorangpun yang berkata: “Apa yang Engkau kehendaki? Atau: Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?” 4:28 Maka perempuan itu meninggalkan tempayannya di situ lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ: 4:29 “Mari, lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia Kristus itu?” 4:30 Maka merekapun pergi ke luar kota lalu datang kepada Yesus. 4:31 Sementara itu murid-murid-Nya mengajak Dia, katanya: “Rabi, makanlah.” 4:32 Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.” 4:33 Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain: “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?” 4:34 Kata Yesus kepada mereka: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. 4:35 Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai. 4:36 Sekarang juga penuai telah menerima upahnya dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita. 4:37 Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa: Yang seorang menabur dan yang lain menuai. 4:38 Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan; orang-orang lain berusaha dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.” 4:39 Dan banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada-Nya karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi: “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.” 4:40 Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Ia tinggal pada mereka; dan Iapun tinggal di situ dua hari lamanya. 4:41 Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan-Nya, 4:42 dan mereka berkata kepada perempuan itu: “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dialah benar-benar Juruselamat dunia.”


“Dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”  Keluaran 17:7


Selama perjalanannya di padang gurun bangsa Israel harus singgah dari satu tempat ke tempat yang lainnya dengan tingkat kesukaran yang berbeda-beda.  Meski demikian di mana pun kaki mereka melangkah, tak sedetik pun Tuhan meninggalkan dan membiarkan mereka berjalan sendiri, baik itu siang maupun malam.  “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.”  (Keluaran 13:21).


Pertolongan dan kasih Tuhan senantiasa menyertai bangsa Israel.  Namun mereka tidak pernah berhenti mengeluh, bersungut-sungut dan saling menyalahkan.  Tak terkecuali saat mereka tiba di Masa dan di Meriba ketika di situ tidak ada air untuk diminum.  Seperti biasa mereka langsung berteriak,  “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.”  (ayat 2), lalu  “bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”  (ayat 3).  Mereka pun menyalahkan Musa selaku pemimpinnya.  Kemudian Musa datang kepada Tuhan dan berseru kepadaNya, dan sungguh terbukti bahwa  “TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya,…Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.”  (Mazmur 145:18-19).  Tuhan memerintahkan Musa untuk memukul gunung batu itu dengan tongkatnya.  Musa taat, maka terjadilah mujizat:  dari gunung batu itu keluarlah air sehingga bangsa Israel dapat minum dan mereka tidah kehausan.


Apa yang Saudara alami saat ini?  Sedang dalam kekurangan dan masalahkah?  Bagaimana sikap Saudara menghadapi itu semua?


Apakah kita bertindak seperti bangsa Israel, di mana ucapan atau perkataan kita berisi keluh kesah, umpatan, omelan, sungut, ketidakpuasan, kekecewaan, lalu mengkambinghitamkan orang lain atau bahkan menyalahkan Tuhan?


Pemazmur memaparkan kepada umat Tuhan bahwa undangan beribadah Allah mungkin sekali ditujukan kepada umat yang telah undur dari pertemuan-pertemuan ibadah. Mengapa? Disadari bahwa kadang-kadang kehidupan rutin telah menyita banyak waktu kita, sehingga bila Ahad tiba, kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya untuk menyegarkan pikiran yang jenuh, jiwa yang lusuh dan tubuh yang lesu. Berlibur bersama keluarga, mancing, tidur-tiduran di rumah, dlsb. Atau mungkin juga dimanfaatkan untuk menyelesaikan kepentingan bisnis yang tertunda. Begitu banyaknya kegiatan hingga tak ada jeda waktu mendengarkan suara Tuhan. Hubungan dengan Tuhan tidak lagi menjadi prioritas, bukan lagi yang utama. Jelas sekali hari ini umat dibawa kembali kepada keadaan semula bahwa semua itu ada karena Allah. Tak ada alasan untuk umat tidak datang beribadah kepada Tuhan dan bersyukur kepada-Nya! Umat diingatkan oleh Pemazmur untuk melihat dan menghayati karya-karya besar Allah: penciptaan dan pemeliharaan-Nya sebagai pendorong untuk bersyukur kepada-Nya.


Undangan beribadah. Suara Tuhan mengundang umat untuk bertobat, kembali ke dalam pelukan kasih pengampunan-Nya, ke jalan yang lebih utama yaitu jalan kebenaran-Nya, ke kuasa pengudusan-Nya. Marilah… masuklah…! Allah mengajak umat beribadah di hari perhentian-Nya. Beribadah dalam suasana sukacita yang dipenuhi ucapan syukur, menyembah dalam gegap gemerincing suara alat musik dan sorak sorai nyanyian umat. Undangan ini berlaku untuk semua orang yang menerima undangan dan mau datang menyembah Allah sang Pencipta yang menciptakan seluruh jagad raya ini (ayat 1-5).


Pentingnya mendengar. Peringatan keras bagi kita untuk mendengarkan suara Tuhan. Ketaatan dan respons kita dalam mendengarkan dan melakukan firman Tuhan menjadi faktor penentu masa depan apakah kita akan menikmati berkat Tuhan atau tidak. Ketidaktaatan, kepongahan dan kekerasan hati bangsa Israel menjadi contoh bagi kita. Mazmur ini juga memberikan satu pola beribadah: nyanyian, ucapan syukur, puji-pujian, doa, menyembah dengan bersuara maupun dalam keheningan, dan tidak kurang pentingnya adalah firman Tuhan, yaitu saat bagi kita merendahkan diri dan terbuka terhadap firman-Nya, serta mempersilahkan Allah berbicara menyatakan kehendak kepada kita.



Renungkan: Selama ini bagaimanakah cara saya beribadah dan terbuka pada suara Allah?


Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk mampu menyediakan waktu bagi Engkau.


Dibenarkan oleh iman adalah anugerah Allah. Kita tidak punya andil apa-apa. Bisa percaya pun merupakan kasih karunia (Ef 2:8-9). Akibat pembenaran itu, kita memiliki status yang jelas dan pasti: milik Allah. Maka kita memiliki damai sejahtera untuk menghampiri Allah tanpa rasa takut atau bersalah.


Di dalam Kitab Suci tema pendamaian sudah ada sejak Perjanjian Lama. Agar manusia berdosa dapat menghampiri Allah yang kudus, perlu pengantara. Juru damai pada masa Perjanjian Lama ialah imam. Imam mewakili umat Israel untuk menghampiri Allah yang kudus. Secara khusus imam besar setahun sekali mengadakan pendamaian secara nasional melalui upacara hari raya pendamaian (Im 16). Pada saat itu, imam besar masuk ke ruang mahakudus di kemah suci/bait Allah. Namun sebelum ia mewakili umat di hadapan takhta kudus Allah, ia terlebih dahulu mengadakan kurban pendamaian bagi dirinya sendiri karena ia sendiri berdosa.


Yang luar biasa dari Kristus ialah, Dia bukan hanya berposisi tidak netral dalam mendamaikan Allah dengan manusia, Dia juga berpihak kepada kedua-duanya sekaligus. Ia mewakili kepentingan Allah yang kemuliaan-Nya dinodai oleh dosa manusia. Pada saat yang sama Ia mewakili manusia berdosa, yang sebenarnya dikasihi Allah dan menjadi sasaran pengampunan Allah. Karena tidak berdosa, Yesus tidak perlu mempersembahkan kurban pendamaian bagi diri-Nya sendiri. Maka Dia adalah pengantara sempurna dari manusia kepada Allah.


Yesus lebih dari sekadar juru damai karena Dia sekaligus menjadi kurban bagi pendamaian yang dimaksud. Manusia berdosa berhutang nyawa kepada Allah yang kudus. Kristus melalui pengurbanan di kayu salib mewakili manusia berdosa dengan persembahan nyawa-Nya sehingga Allah mau menerima manusia berdosa sebagai orang yang kudus.


Pendamaian merupakan karya anugerah Allah buat manusia yang tak berdaya terbelenggu dosa. Lewat perantaraan Kristus, Allah mengulurkan kasih dan pengampunan-Nya. Seperti salib merentang ke atas-bawah dan kiri-kanan, demikian Yesus mati merangkul-mendamaikan Allah-manusia, manusia-manusia.


Orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria (ayat 9b) karena di mata orang Yahudi, orang Samaria adalah ras yang tidak murni. Dulu, ketika Asyur menghancurkan kerajaan Israel (Utara), penduduk Samaria dicampur dengan orang-orang dari bangsa jajahan Asyur yang lain. Akibatnya terjadi kawin campur dan sinkretisme agama.


Untuk orang-orang yang dibenci oleh bangsa-Nya, Yesus sengaja mengunjungi mereka (ayat 4) agar dapat menawarkan Air Hidup untuk memuaskan dahaga rohani mereka. Melalui percakapan dengan seorang perempuan Samaria yang datang ke sumur Yakub untuk menimba air minum, Tuhan Yesus menawarkan Air Hidup itu kepadanya (ayat 10). Air minum hanya melepaskan kehausan sementara karena harus diminum terus-menerus. Air Hidup yang ditawarkan Tuhan Yesus akan menyegarkan jiwa, bukan hanya sementara melainkan sekali diminum akan menjadi mata air yang memancar di kedalaman hati selama-lamanya (ayat 14). Tawaran Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria ini merupakan tawaran kasih Allah yang diungkapkan kepada semua orang, tanpa membedakan suku, gender, dan status. Selain termasuk suku Samaria yang dibenci orang Yahudi, statusnya sebagai perempuan adalah rendah di mata orang Yahudi. Terlebih lagi, tidak pantas seorang perempuan yang tidak terhormat berbicara dengan seorang Rabi (Guru).


Seperti perempuan Samaria itu, kita sebagai orang-orang zaman modern ini pun memiliki banyak dahaga hidup yang kita coba atasi dengan berbagai cara pemuasan. Pengalaman menyatakan bahwa tidak ada hal apa pun, apalagi dosa yang dapat mengisi kekosongan dalam hidup kita. Hanya Yesus, Sumber Air Hidup dan Pemuas kebutuhan hidup terdalam yang dapat mengisi dan memberi arti bagi hidup ini. Berbaliklah kepada-Nya dan izinkan Dia mengisi hidup Anda dengan hidup-Nya sendiri.


Sebagai ciptaan Tuhan yang unik, manusia baru memiliki kepuasan hidup bila ada dalam persekutuan dengan-Nya. Dosa menyebabkan kekosongan dalam hidup ini.


Kekosongan itulah yang dirasakan perempuan Samaria ini. Kekosongan ini dibongkar oleh Tuhan Yesus agar Ia dapat mengisinya secara penuh dengan Air Hidup. Perempuan itu mengalami kekosongan kasih sejati. Ia mencari kasih melalui lima pernikahannya yang gagal, tapi akhirnya ia terdampar dalam suatu hubungan bebas yang juga tanpa kasih (ayat 18). Ketika ia mengakui bahwa ia tidak mempunyai suami, Yesus memujinya berkata jujur. Perempuan itu telah membuka kehidupannya yang salah itu dengan jujur. Air Hidup Kristus mengisi kekosongan hidupnya dengan kasih sejati, yaitu kasih Allah. Perempuan itu kini maju lebih jauh lagi. Ia mengetahui Yesus adalah nabi, suatu pengakuan yang sangat besar artinya bagi orang Samaria yang tidak mengakui nabi lain kecuali Musa. Secara tidak langsung ia telah mengakui Yesus lebih besar daripada Yakub (ayat 12). Walaupun demikian, ia tetap belum mengenal siapa sesungguhnya Yesus. Ini seiring dengan ketidakjelasannya tentang penyembahan kepada Allah. Yesus membimbingnya untuk menyadari bahwa menyembah Allah bukan soal tempat, tetapi soal pengenalan akan Allah. Penyembahan dalam pengenalan akan Allah itu adalah penyembahan dalam roh dan kebenaran.


Artinya hanya orang-orang yang rohnya sudah diperbarui Roh Allah yang dapat menyambut kebenaran yang Yesus beritakan.


Air Hidup Tuhan Yesus memenuhi hidup perempuan Samaria itu dan memberikan pembaruan rohani yang membuatnya mengalami mata air yang memancar keluar dari hatinya. Demikian kuatnya pancaran air rohani itu sampai-sampai ia harus pergi mewartakannya kepada penduduk kotanya (ayat 28-29). Inilah perbuatan yang seharusnya terjadi dalam hidup kita yang sudah dipenuhi Air Hidup Kristus.


Percakapan Tuhan Yesus dengan para murid yang membawakan makanan bagi-Nya membicarakan lebih jauh jati diri Tuhan Yesus dan sikap hidup-Nya. Bagi Tuhan Yesus, melakukan dan menyelesaikan pekerjaan yang berasal dari kehendak Bapa merupakan makanan-Nya. Ungkapan ini tidak sekadar menunjukkan semangat pelayanan Tuhan Yesus yang berapi-api. Dengan menyebut bahwa Ia telah menyelesaikan pekerjaan Allah Bapa, Tuhan Yesus menempatkan diri dalam posisi Ilahi (ayat 34). Sebab hanya Allah sendiri yang sanggup merampungkan rencana-rencana dan karya-karya-Nya sampai akhir zaman kelak. Hal itu dipertegas dalam ucapan Yesus selanjutnya, Allah Bapa sebagai penabur dan diri-Nya sendiri sebagai penuai. Waktu menabur dan menuai akan terjadi serempak (ayat 35-36).


Tuhan Yesus kini mengikutsertakan murid-murid-Nya dalam tugas menuai yang mulia itu. Turut serta dalam pelayanan Yesus untuk dunia ini seharusnya juga menjadi makanan bagi para murid-Nya dulu dan kita kini. Itulah makanan sejati yang dapat mengenyangkan dan menguatkan hidup kita, yaitu kita mengalami dan melibatkan diri dalam penggenapan kehendak Allah.


Kesengajaan Tuhan Yesus melewati Samaria telah mengubah hidup perempuan Samaria yang berakibat luas kepada seisi penduduk kota tersebut. Tindakan Yesus ini juga adalah teladan untuk kita, para murid-Nya. Kita perlu rela menerobos berbagai rintangan dalam melaksanakan kehendak Allah menyelamatkan manusia.


Sekaranglah waktunya untuk mengabarkan Injil. Apa yang Tuhan Yesus nyatakan 2000 tahun lalu tetap relevan sampai sekarang. Sekaranglah waktunya agar setiap hati kosong yang tak mampu diisi dan dipuaskan oleh kesenangan duniawi mendapatkan anugerah keselamatan dari Tuhan Yesus melalui kesaksian hidup anak-anak-Nya.


Doa: Tuhan Yesus, jadikan aku saluran Air Hidup-Mu agar banyak orang dipuaskan dahaganya oleh mata air kehidupan-Mu. (Lucas Margono)


Yoh 4:5-42 Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal.

Yoh 4:5-42 Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal.

View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.