Bacaan dan Renungan Minggu 09 Agustus 2020, Pekan Biasa XIX

Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.

Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.

Berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan.

Sekali peristiwa, ketika Elia sampai di Gunung Horeb, masuklah ia ke dalam sebuah gua dan bermalam di situ. Maka berfirmanlah Tuhan kepadanya, “Hai Elia, keluarlah, dan berdirilah di atas gunung itu di hadapan Tuhan!” Lalu Tuhan lewat. Angin besar dan kuat membelah gunung-gunung dan memecahkan bukit-bukit batu mendahului Tuhan. Namun Tuhan tidak berada dalam angin itu. Sesudah angin itu datanglah gempa. Namun dalam gempa pun Tuhan tidak ada. Sesudah gempa menyusullah api. Namun T’uhan juga tidak berada dalam api itu. Api disusul bunyi angin sepoi-sepoi basa. Mendengar itu, segeralah Elia menyelubungi wajahnya dengan jubah, lalu keluar dan berdiri di depan pintu gua itu.

Ref:Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, clan berilah kami keselamatan yang dari pada-Mu.

Aku ingin mendengar apa yang hendak difirmankan Tuhan. Bukankah Ia hendak berbicara ten tang damai? Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberikan hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku.

Saudara-saudara, demi Kristus aku mengatakan kebenaran, aku tidak berdusta. Suara hatiku turut bersaksi dalam Roh Kudus, bahwa aku sangat berdukacita dan selalu bersedih hati. Bahkan, aku rela terkutuk dan terpisah dari Kristus demi saudara-saudaraku, kaum sebangsaku menurut daging. Sebab mereka adalah orang Israel. Mereka telah diangkat menjadi anak Allah, telah menerima kemuliaan dan perjanjian-perjanjian, dan hukum Taurat, ibadat, serta janji-janji. Mereka itu keturunan bapa-bapa leluhur, yang menurunkan Mesias sebagai manusia, yang mengatasi segala sesuatu. Dialah Allah yang harus dipuji selama-lamanya. Amin!

Aku menanti-nantikan Tuhan dan mengharapkan firman-Nya.

Tuhan, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air

Sesudah mengenyangkan orang banyak dengan roti, Yesus segera menyuruh murid-murid-Nya naik perahu dan mendahului-Nya ke seberang, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus mendaki bukit untuk berdoa seorang diri. Menjelang malam Ia sendirian di situ. Perahu para murid sudah beberapa mil jauhnya dari pantai, dan diombang-ambingkan gelombang, karena angin sakal.

Kira-kira pukul tiga pagi, datanglah Yesus berjalan di atas air kepada mereka. Melihat Dia berjalan di atas air, para murid terkejut dan berseru, “Itu hantu!” Lalu mereka berteriak-teriak ketakutan. Tetapi Yesus segera menyapa mereka, kata-Nya, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Petrus berkata, “Tuhan, jika benar Tuhan sendiri, suruhlah aku datang kepada-Mu dengan berjalan di atas air.” Kata Yesus, “Datanglah!” Lalu Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendekati Yesus. Tetapi ketika dirasakannya tiupan angin, Petrus menjadi takut dan mulai tenggelam, lalu berteriak, “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang Petrus dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?” Keduanya lalu naik ke perahu dan angin pun reda. Orang-orang yang ada di perahu menyembah Dia, katanya, “Sesungguhnya, Engkau Putra Allah!”

Selama atau sepanjang hidup kita di dunia tidak lepas dari segala gelombang kehidupan. Gelombang -gelombang kehidupan itu sering kali membuat kita frustasi atau putus asa. Akibatnya, kita sering menyalahkan orang lain, menyalahkan diri sendiri, keadaan atau bahkan menyalahkan Tuhan. Itulah kondisi riil yang sering kita lihat dan mungkin juga kita alami.

Perahu kehidupan kita terombang-ambing karena badai persoalan hidup. sebagai orang beriman tentunya kita sadar dan yakin bahwa bila Tuhan Yesus ada bersama dan bersatu dengan kita, tidak ada yang perlu ditakuti, dan Yesus sendiri bersabda, “Tenanglah, Aku ini, jangan takut!”

Tuhan menghendaki kita untuk tenang dalam mengarungi samudra hidup kita masing-masing. Badai pasti ada. Namun, Ia sendiri menjanjikan pertolongan. Yang diminta dari kita adalah kerendahan hati untuk selalu mengandalkan Dia dan bukan mengandalkan kekuatan kita sendiri. Bersama Tuhan, badai dalam kehidupan kita pasti berlalu dan kita terus berlayar sampai di “Tanah Air” surgawi.

Ya Tuhan Allah, kuatkanlah iman kami supaya kami tidak takut dalam mengayuh bahtera kehidupan kami sebagai orang beriman. Tetaplah bersama kami. Amin.

Renungan diambil dari Ziarah Batin 2020

Baca artikel dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.