Bacaan dan Renungan Minggu 07 Februari 2021 Pekan Biasa V

Aku dicekam oleh kegelisahan sampai dinihari.

Di dalam keprihatinannya Ayub berbicara kepada sahabatnya, “Bukankah manusia harus bergumul di bumi, dan hari-harinya seperti hari-hari orang upahan? Seperti kepada seorang budak yang merindukan naungan,
seperti orang upahan yang menanti-nantikan upahnya, demikianlah aku diberi bulan-bulan yang sia-sia, dan kepadaku ditentukan malam-malam penuh kesusahan. Bila aku pergi tidur, maka yang kupikirkan, “Bilakah aku akan bangun”. Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh kegelisahan sampai dinihari. Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak, dan berakhir tanpa harapan. Ingatlah, bahwa hidupku hanya hembusan nafas. Mataku tidak akan lagi melihat yang baik.”


Ref: Pujilah Tuhan, yang menyembuhkan orang-orang yang patah hati.

Sungguh, bermazmur bagi Allah kita itu baik, bahkan indah, dan layaklah memuji-muji Dia.Tuhan membangun Yerusalem, Ia menghimpun orang-orang Israel yang tercerai-berai.Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; Ia menentukan jumlah bintang-bintang masing-masing dipanggil dengan menyebut namanya.Besarlah Tuhan kita dan berlimpahlah kekuatan-Nya, kebijaksanaan-Nya tak terhingga. Tuhan menegakkan kembali orang-orang yang tertindas,tetapi orang-orang fasik direndahkan-Nya ke tanah.

Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.

Saudara-saudara, memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku jika aku tidak memberitakan Injil. Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sebab sekalipun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku dapat memenangkan sebanyak mungkin orang. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, supaya sedapat mungkin
aku memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala-galanya itu aku lakukan demi Injil, agar aku mendapat bagian dalamnya.


Dialah yang memikul kelemahan kita dan menanggung penyakit kita.


Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit.

Sekeluarnya dari rumah ibadat di Kapernaum Yesus, dengan Yakobus dan Yohanes, pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Yesus pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Yesus membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Maka berkerumunlah seluruh penduduk kota itu di depan pintu. Yesus menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara,sebab mereka mengenal Dia.

Keesokan harinya, waktu hari masih gelap, Yesus bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya menyusul Dia. waktu menemukan Yesus, mereka berkata, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab Yesus, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana pun Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Yesus ke seluruh Galilea, memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan.


Ada saat di mana hidup menjadi gelap.semuanya serba asam,pahit, sesak, terhimpit, tak bisa bergerak. Semua serba layu dan kering. Tanpa harapan. Tanpa masa depan. Hidup seperti perjalanan berat: memikul peti mati untuk diri sendiri menuju kubur kebuntuan kekal. Itulah yang dirasakan Ayub. Resah dan gelisah, tetapi tak tahu mau ke mana dan dengan siapa.

Ada saatnya kita seperti Ayub: di mana-mana seperti penuh masalah. Di rumah: keluarga sakit, kurang ini dan itu, keluarga sakit, kurang ini dan itu, keluarga besar konflik, dll. Di jalan: macet, diancam pencopet, dll. Di tempat kerja, semua upaya seperti sia-sia. Ini mungkin saat kelahiran kembali. Hidup adalah rahim kehidupan, ada saatnya kita harus keluar dari rahim yang satu ke yang lain. Ini menyakitkan, tetapi harus dilewati. Seperti Ayub, ia akhirnya mengubah cara pandang tentang dirinya, manusia, dunia dan Allah. Ayub berubah karena berada dalam relasi dengan Tuhan lewat firman-Nya.

Firman Tuhan adalah pedang, yang siap memutuskan tali-tali penyanggah kita yang lama, tetapi juga membuka jalan baru untuk kita. Karena itu, panggilan yang hakiki untuk orang beriman adalah mewartakan kabar baik. “Celakalah aku jika aku tidak mewartakan Injil,” kata Paulus dalam bacaan kedua. Injil itulah sukacita kehidupan: dari kesesakan kita dibawa ke kelapangan, dari gelap ke terang. Kenyataan itu ditunjukkan Yesus dalam bacaan Injil. Ia menyembuhkan orang sakit dan mengusir kekuatan kegelapan. Yesus telah menjadi jalan dalam kebuntuan. Ia menjadi dokter. Cahaya di tengah kegelapan hidup. Dengan-Nya beban hidup menjadi ringan.


Ya Bapa, kami sering merasa hidup ini sebagai sebuah penjara. Jauh dari sukacita dan kebahagian. Namun, kami tahu bahwa Engkaulah sumber hidup. Bantulah kami untuk tidak menjadi beban hidup, tetapi menjadi sumber sukacita bagi sesama. Amin.


Mrk 1:29-39
Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit

Baca sumber renungan harian Katolik disini

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.