Bacaan dan Renungan Kamis 28 Januari 2021 Pekan Biasa III

Marilah kita berpegang teguh pada harapan! Marilah kita saling memperhatikan dan saling mendorong dalam cinta kasih.

Saudara-saudara, berkat darah Yesus, kita sekarang dapat masuk ke dalam tempat kudus dengan penuh keberanian, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang memberi hidup bagi kita, yakni melalui tabir, yang tidak lain adalah diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Agung sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat, dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni. Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan akan harapan kita, sebab Dia, yang menjanjikannya, adalah setia! Di samping itu marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadat umat, seperti dibiasakan oleh beberapa orang!  Sebaliknya marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.


Ref: Itulah angkatan orang-orang yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.

Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus?Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah,  penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu, ya Allah Yakub.

Sabda-Mu adalah pelita bagi langkahku,dan cahaya bagi jalanku.


Pelita dipasang untuk ditaruh di atas kaki dian. Ukuran yang kamu pakai akan dikenakan pula padamu.

Pada suatu hari Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,”Orang memasang pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap. Barangsiapa mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” Lalu Ia berkata lagi, “Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan dikenakan pula padamu; dan malah akan ditambah lagi! Karena siapa yang mempunyai, akan diberi lagi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil.”

BERLIMPAH DALAN KEBAJIKAN Setiap orang tidak hidup dalam isolasi, terpisah dari yang lain seperti terisolasinya sebuah pulau pada dirinya sendiri. Setiap orang hidup ditengah-tengah orang lain dan bersama mereka. Hidup semacam ini hanya akan terjamin keberlangsungannya kalau diisi dengan kebajikan-kebajikan hidup berupa kasih, kebenaran, keadilan, damai sejahtera, dan suka cita. Hal yang terjadi sebaliknya dari itu sama sekali tidak menjamin hidup bersama orang lain. Ia malahan merongrong hidup bersama. Karena itu, agar hidup bersama terus terjamin maka setiap orang seharusnya hidup berlimpah dalam kebajikan.

Kristus sendiri, seperti dikatakan dalam bacaan pertama, telah hidup dalam kelimpahan kebajikan itu. Ia penuh keberanian dan menyerahkan hidup-Nya sepenuhnya agar orang yang mencari Allah mendapat jalan Melalui Dia, dan oleh-Nya mereka memiliki pengharapan dan kehidupan. Oleh karena Kristus sudah hidup atas cara itu, maka rasul Paulus pun Mengajak setiap orang supaya hidup pula serupa dengan Yesus, hidup dalam kelimpahan kebajikan. “Marilah kita saling memerhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, marilah kita m saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (lbr. 10: 24-25).

Hidup dalam kelimpahan kebajikan dapat dipandang sebagai bagian dari kesaksian iman, sesuatu yang terus bersinar, bercahaya, menerangi langkah orang dalam kegelapan. Dalam bacaan Injil, hidup dalam kebajikan dapat: diibaratkan dengan pelita yang ditaruh di kaki dian, sehingga terus dilihat orang, dan bukan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur. Hidup semacam itu bukan sesuai dengan kehendak Allah dan membawa keselematan bagi kita dan sesama. (AW)


Renungan diambil dari Percikan Hati 2021


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.