Bacaan dan Renungan Kamis 28 Februari 2019

Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan.


Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:


Jangan mengandalkan kekayaanmu,dan jangan berkata, “Ini cukup bagiku.”
Hati dan kekuatanmu jangan kauturuti untuk berlaku sesuai dengan hawa nafsumu.
Jangan berkata, “Siapa berkuasa atas diriku?”Camkanlah, Tuhan akan menghukum engkau dengan keras.


Jangan berkata, “Betul, aku sudah berdosa,tetapi apakah menimpa diriku sebab Tuhan panjang hati.”Jangan menyangka pengampunan terjamin,sehingga engkau menimbun dosa demi dosa.


Jangan berkata,”Belas kasihan Tuhan memang besar.Dosaku yang banyak ini pasti diampuni-Nya.”Sebab belas kasihan memang ada pada Tuhan tetapi kemurkaan pun ada pada-Nya,dan geram-Nya turun atas orang jahat.


Jangan menunda-nunda untuk bertobat kepada Tuhan,jangan kautangguhkan dari hari ke hari. Sebab tiba-tiba saja meletuslah kemurkaan Tuhan,dan engkau binasa pada saat hukuman.


Jangan percaya pada harta benda yang diperoleh dengan tidak adil,sebab pada hari sial takkan berguna sedikitpun.


Demikianlah sabda Tuhan.



Ref:Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,
yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,dan siang malam merenungkannya.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,yang menghasilkan buah pada musimnya,dan tak pernah layu;apa saja yang diperbuatnya berhasil.Bukan demikianlah orang-orang fasik:mereka seperti sekam yang ditiup angin.
Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Sambutlah sabda Tuhan, bukan sebagai perkataan manusia,melainkan sebagai sabda Allah.



Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,daripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:


Pada suatu hari berkatalah Yesus kepada murid-murid-Nya,”Barangsiapa memberi kalian minum air secangkir oleh karena kalian adalah pengikut Kristus,ia tidak akan kehilangan ganjarannya.


Barangsiapa menyesatkan salah seorang dari anak-anak kecil yang percaya ini,
lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.


Dan jika tanganmu menyesatkan engkau, penggallah,karena lebih baik bagimu
dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan,daripada dengan utuh kedua belah tangan masuk dalam neraka,ke dalam api yang tak terpadamkan.Dan jika kaki menyesatkan engkau, penggallah,karena lebih baik bagimu dengan kaki timpang masuk ke dalam hidup,daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka.
Dan jika matamu menyesatkan engkau, cungkillah,karena lebih baik bagimu masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka,di mana ulat-ulat bangkai tidak mati dan api tak pernah padam.Sebab setiap orang akan digarami dengan api.Garam memang baik! Tetapi jika garam menjadi hambar,dengan apakah kalian akan mengasinkannya? Hendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain.”


Kita bukan hanya hidup di dunia, tetapi dunia itu mengikat kita. Kadang dunia memiliki kita dan kita harus terus hidup di dunia. Namun demikian, bagaimana seharusnya hidup di dunia tanpa tercengkeram olehnya?


Para pengikut Yesus diperingatkan agar tidak menghentikan usaha mereka yang mengusir setan demi nama Yesus karena mereka juga adalah orang-orang percaya. Jika para murid “menyesatkan” mereka, yaitu, membuat mereka tidak lagi bersekutu dengan Yesus, maka para murid akan menerima ganjaran yang keras — suatu hukuman mati. Yesus meneruskan nasihat-Nya, masih berkenaan dengan bagaimana menaati kehendak Allah. Yesus berbicara tentang pengorbanan diri sampai semaksimal mungkin, dengan melepas apa yang seharusnya dilepas daripada hal-hal tertentu akan membuat orang kehilangan segala sesuatunya.


Di sini kita diingatkan lagi tentang tiga zona dalam kehidupan manusia, yang mencakup tangan, kaki, dan mata. Kehidupan orang percaya haruslah utuh untuk Tuhan, dan ia harus berusaha untuk sedapat mungkin meminimalkan kecemaran dengan melepaskan kemelekatan.


Ayat 49 memberikan kepada kita semacam peringatan akan pemurnian. Murid-murid akan menghadapi penganiayaan, dan mereka akan dimurnikan. Untuk itu, mereka perlu menyiapkan diri menghadapi masa-masa sulit. Ayat 50 berbicara bukan lagi tentang garam penyucian, tetapi tentang garam sehari-hari. Di sini para murid berfungsi sebagai garam dunia yang akan menyucikan dunia dengan tumpahnya darah mereka ke tanah. Misi yang mereka kerjakan adalah misi yang krusial, dan mereka harus bersatu padu untuk melaksanakan amanat agung Tuhan memberitakan Injil-Nya!


Renungkan: Melepaskan sesuatu yang kita sayangi dan nikmati memang tidak enak. Namun, kita akan menerima kehidupan yang sejati bila itu sesuai kehendak Allah.


DOA: Roh Kudus Allah, aku sungguh ingin mematahkan hubunganku dengan dosa dalam hidupku. Tolonglah aku menemukan cara-cara yang praktis untuk memotong apa saja yang menyebabkan aku menyakiti hati-Mu, sehingga dengan demikian aku dapat menjadi garam yang tidak hambar dalam Kerajaan Allah. Amin. (Lucas Margono)


28 Feb 2019

Mrk 9:41-50 Lebih baik bagimu dengan tangan terkudung masuk dalam kehidupan, daripada dengan kedua belah tangan masuk dalam api yang tak terpadamkan.

Tuhan Yesus, jangan biarkan aku hidup dari indra dan nafsuku. Semoga aku lebih berpegang pada sabda-Mu, sehingga mampu membawa pengaruh baik dalam keluarga dan masyarakatku. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: