Bacaan dan Renungan Kamis 25 Maret 2021 Prapaskah V Hari Raya Kabar Sukacita

Seorang perempuan muda akan mengandung.

Tuhan berfirman kepada Raja Ahas, “Mintalah suatu pertanda dari Tuhan, Allahmu, entah itu sesuatu dari dunia orang mati yang paling bawah, entah sesuatu dari tempat tertinggi yang di atas.”Tetapi Ahas menjawab, “Aku tidak mau minta! Aku tidak mau mencobai Tuhan!”

Lalu berkatalah nabi Yesaya, “Baiklah! Dengarkanlah, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga? Sebab itu, Tuhan sendirilah yang akan memberikan suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel, artinya: Allah menyertai kita.”


Ref: Ya Tuhan, aku datang melakukan kehendak-Mu.

Kurban dan persembahan tidak Kauinginkan, tetapi Engkau telah membuka telingaku; kurban bakar dan kurban silih tidak Engkau tuntut, lalu aku berkata, “Lihatlah, Tuhan, aku datang!”Dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku: “Aku senang melakukan kehendak-Mu, ya Allahku; Taurat-Mu ada di dalam dadaku.”Aku mengabarkan keadilan di tengah jemaat yang besar, bibirku tidak kutahan terkatup; Engkau tahu itu, ya Tuhan.Keadilan-Mu tidaklah kusembunyikan dalam hatiku, kesetiaan dan keselamatan-Mu kubicarakan, kasih dan kebenaran-Mu tidak kudiamkan, tapi kuwartakan kepada jemaat yang besar.

Lihatlah Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.

Saudara-saudara, tidak mungkin darah lembu jantan atau darah domba jantan menghapuskan dosa. Karena itu ketika Kristus masuk ke dunia, Ia berkata, “Kurban dan persembahan tidak Engkau kehendaki. Sebagai gantinya Engkau telah menyediakan tubuh bagiku. Kepada kurban bakaran dan kurban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lihatlah, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.”

Jadi mula-mula Ia berkata, “Engkau tidak menghendaki kurban dan persembahan; Engkau tidak berkenan akan kurban bakaran dan kurban penghapus dosa meskipun dipersembahkan menurut hukum Taurat.” Dan kemudian Ia berkata, “Lihat, Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu.” Jadi yang pertama telah Ia hapuskan untuk menegakkan yang kedua. Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.


Firman telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya.


Engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki.

Dalam bulan yang keenam Allah mengutus malaikat Gabriel ke sebuah kota di Galilea, bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria.

Ketika masuk ke rumah Maria, malaikat itu berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau. “Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya. Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya, dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu, dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya, dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Maka kata Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

“Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yesaya 7:14)

Masa pelayanan Yesaya penuh dengan peristiwa-peristiwa penting, lebih dari masa-masa lain dalam sejarah bangsa Israel. Dalam kemakmuran Yehuda pada masa pemerintahan Uzia tahun 745 SM, Tiglat-Pileser III menduduki takhta Asyur dan sebelum tahun 740 SM, ia pun menguasai Siria Utara. Selanjutnya Tiglat-Pileser III menaklukkan kota Aram di Hamat dan memaksa kerajaan-kerajaan kecil lainnya untuk membayar upeti agar mereka terlepas dari nasib yang sama. Kondisi ini memunculkan gerakan anti-Asyur, yaitu Pekah dari Israel utara dan Rezin dari Aram. Gerakan ini memaksa, raja Ahas dari Yehuda untuk bergabung. Karena Ahas tidak bersedia bergabung dengan keduanya, maka ia pun akhirnya meminta pertolongan Asyur. Hal tersebut menyebabkan Yehuda menjadi negara dalam kendali Asyur.

Di dalam konteks inilah, berita “janji tentang Imanuel” diberikan oleh Yesaya, mengingat bahwa Yehuda, tidak lagi mencari dan mengandalkan pertolongan TUHAN. Ungkapan di dalam ayat 13, “Baiklah dengarkan, hai keluarga Daud! Belum cukupkah kamu melelahkan orang, sehingga kamu melelahkan Allahku juga?” Menunjukkan bahwa Yehuda telah kehilangan keyakinan kepada Allah dengan cara “melelahkan” Allah. Merupakan suatu bentuk “pengabaian” atau “penolakan” terhadap janji TUHAN yang akan mengokohkan takhta Daud. Karena itu, Yesaya menyatakan dengan jelas janji tentang Imanuel (ay. 14). Imanuel dalam Perjanjian Baru dikenakan kepada Yesus Kristus sebagai penggenapan janji yang sempurna dari Allah, dan janji ini diulang dan ditegaskan kembali dalam ayat 17.

Pelajaran rohani dari bagian ini menjelaskan bahwa ketika seseorang terjepit dalam pergumulan hidup yang berat dan sulit, akan sangat mudah bagi orang itu untuk mencari pertolongan manusia, ketimbang pertolongan dari Allah. Padahal Allah sang Imanuel itu sudah menegaskan tentang janji penyertaan-Nya dalam hidup setiap orang percaya. Persolannya: Maukah kita belajar mengandalkan dan mencari pertolongan Tuhan, daripada pertolongan manusia (bdk. Yer. 17:5 dan 7).

Tuhan berjanji akan selalu menyertai umat-Nya. Tuhan begitu mencintai umat pilihan-Nya. Tuhan ingin memelihara mereka agar selalu hidup dalam kebenaran. Mesias, sang Imanuel akan lahir ke dunia sebagai wujud penyertaan Tuhan kepada umat-Nya. Janji Tuhan ini menjadi tanda bahwa Kerajaan Allah sudah dekat.

Perjalanan kehidupan mengarungi gelombang yang bergulung naik dan turun, senantiasa berubah, dan seringkali berada di luar batas kemampuan kita untuk memperkirakannya. Jalan yang harus kita tempuh tidaklah selalu mulus, konstan, dan stabil. Adakalanya langkah-langkah kita berjejak di atas bukit batu yang kokoh, dan adakalanya terperosok dalam rawa yang dipenuhi dengan ketidakpastian. Realita kehidupan yang tidak stabil, berubah, dan bergerak di antara keyakinan dan kecemasan seperti inilah yang dialami Daud. Dalam pergumulannya, ia mengubah nyanyian syukur dan sukacita karena terlepas dari suatu kesulitan menjadi ratapan yang penuh penyesalan dan kecemasan.

Bagaimanakah Daud menghadapi realita seperti ini? Apakah yang dapat kita pelajari darinya? Ia menggeser alunan nada-nada riang menjadi nyanyian yang pilu, namun tidak mengubah isi keyakinannya kepada Allah. Walaupun ia telah menggeser nyanyian syukur dan komitmennya (ayat 7-11) menjadi ratapan pilu karena malapetaka, kesalahan (ayat 12-13) dan musuh-musuhnya, namun ia tetap menyanyikan kesetiaan, keselamatan, kasih, dan kebenaran Tuhan, baik dengan nada riang maupun pilu (ayat 12). Ia tidak mengubah kesaksiannya tentang Tuhan baik dalam syukurnya: “Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau”, maupun dalam ratapnya: “Tuhan itu besar! Hasratnya kepada Tuhan terus bertumbuh semakin kuat melalui pasang surut kehidupan. Hasratnya kepada Tuhan terus berdengung semakin kuat dalam tema-tema nyanyian “Aku sangat menanti-nantikan Tuhan”, ratapan “Tuhan segeralah menolong aku!” (ayat 14) dan permohonannya “Ya Allahku, janganlah berlambat”. Di manakah Daud menemukan kekuatannya? Sumber kekuatan Daud tidak lain terletak pada keyakinannya yang mempercayai bahwa sekalipun keadaan di sekitarnya berubah namun perhatian , kesetiaan, keselamatan, kasih, kebenaran, dan rahmat Tuhan yang sedemikian besar terhadap dirinya tidak pernah berubah, baik pada waktu senang ataupun susah (ayat 11-12.)

Persembahan lahiriah bagi Tuhan itu baik. Tapi, Tuhan lebih berkenan kepada kurban rohani, yaitu persembahan hati yang remuk redam. Sikap penyerahan diri kepada kehendak Allah menjadi persembahan yang sangat berharga. Disposisi batin mengarahkan sikap bakti kepada Allah. Itulah sikap tobat untuk membarui diri terus-menerus

Renungkan: Kita tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi esok, tetapi kita tahu dengan pasti bahwa Tuhan yang memberikan kasih setia dapat kita percayai, baik dalam keadaan susah ataupun senang.

Tidak perlu menjadi orang pintar untuk mengetahui bahwa manusia lebih tinggi dan mulia daripada binatang. Oleh karena itu, tidak masuk di akal jika darah binatang yang dikurbankan bisa menghapus dosa manusia (ayat 4). Logika kita mengatakan bahwa paling sedikit ada dua hal yang salah. Yaitu, yang lebih rendah tidak dapat menggantikan yang lebih tinggi dan tidak adil jika binatang yang harus menanggung kesalahan manusia.

Walaupun demikian, itulah cara Allah menyatakan kehendak-Nya pada masa Perjanjian Lama. Kurban yang tidak sempurna itu dipakai Allah untuk pengampunan dosa. Bukan kurbannya yang terpenting melainkan kepercayaan dan ketaatan kepada kehendak-Nya (ayat 5-8). Allah sendiri yang menyediakan kurban sempurna yang membereskan masalah dosa, yaitu Kristus. Kristus dengan ketaatan penuh mengerjakan kehendak Bapa. Oleh sebab itu, sesuai dengan kehendak Bapa, setiap orang yang percaya kepada-Nya telah mendapatkan keselamatan satu kali yang berlaku untuk selama-lamanya (ayat 10).

Salah satu alasan Allah mengizinkan kurban yang tidak sempurna dipakai sebagai sarana pengampunan dosa, agar umat-Nya menyadari keseriusan dosa dan tidak “bermain-main” dengannya. Kesadaran ini membuat mereka berharap pada kasih dan kesetiaan Allah, bukan pada usaha menerapkan peraturan kurban secara teliti dan akurat. Tanpa iman, ritual masa Perjanjian Lama tidak berarti.

Anugerah keselamatan yang dicurahkan Allah kepada orang percaya adalah suatu misteri. Kita tidak dapat menyelami kedalaman hikmat-Nya, yakni bagaimana hanya dengan percaya kepada Kristus, dosa-dosa kita dapat diampuni. Namun, kita dituntut untuk percaya sepenuhnya kepada rancangan Allah. Bukan peraturan kurban yang dituntut Allah melainkan memiliki iman kepada-Nya!

Jawabannya jelas: begitu banyak hal-hal yang besar. Pertama, bertemu dengan malaikat Gabriel bukanlah kejadian yang biasa dialami seorang Yahudi, apalagi seorang wanita. Kedua, mendengar berita yang disampaikan Gabriel, bahwa ia akan mengandung. Pertanyaan spontan Maria pada ayat 34 menunjukkan keterkejutannya karena dirinya dikatakan akan mengandung sebelum menikah dan hidup serumah dengan Yusuf, tunangannya (lih. 3:5). Maria memikirkan akibat sosial yang akan dialaminya karena peristiwa itu (bdk. 1:48a). Sudut pandang Lukas dari pihak Maria ini (kontras dengan Matius yang melihatnya dari sisi Yusuf) mengajak kita untuk merenungkan sikap Maria dalam menghadapi rencana Allah yang begitu mengejutkan ini. Jika dibandingkan dengan kisah sebelumnya, mungkin kita bertanya: mengapa Maria tidak menerima hukuman seperti Zakharia karena mempertanyakan pemberitaan Gabriel. Jawabannya sederhana, orang lanjut usia dikaruniai anak bukanlah hal yang baru dalam sejarah bangsa Yahudi (ingat Abraham dan Sara), sementara kelahiran dari seorang perawan tanpa keterlibatan seorang laki-laki belum pernah terjadi. Tetapi, setelah penjelasan Gabriel, kita melihat justru tekad dan keberserahan Maria untuk menerima kehendak dan rencana Allah yang disampaikan melalui Gabriel (ayat 38). Teladan yang kita dapatkan dari Maria adalah, kerelaannya untuk mempercayakan perjalanan hidupnya kepada rencana Allah, betapapun drastisnya rencana itu menyebabkan perubahan dalam hidupnya.

Allah menepati janji-Nya. Malaikat Gabriel diutus Allah untuk segera mewartakan kabar sukacita ini. Allah berkenan kepada hati seorang perawan yang suci, murni dan takut kepada-Nya. Allah akan membuat tanda besar yang akan mempengaruhi sejarah karya keselamatan Allah. Allah memilih Maria dan Elisabet untuk melaksanakan janji keselamatan-Nya.

Renungkan: Teladanilah Maria yang dalam tiap situasi apa pun—meski sulit, berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut kehendak-Nya”

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau  memilih Maria sebagai Bunda Yesus dan Bunda Gereja, Bunda kami semua. Maria adalah contoh sempurna bagaimana kami seharusnya menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak-Mu yang senantiasa baik untuk kami semua. Amin.



Hari Raya Kabar Sukacita

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.