Bacaan dan Renungan Kamis 20 Februari 2020, Pekan Biasa VI

Ibu Teresa Ibunya orang miskin

Ibu Teresa Ibunya orang miskin

Bukankah Allah memilih orang-orang miskin?Tetapi kalian telah menghina orang miskin.

Saudara-saudaraku,sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus,Tuhan kita yang mulia,janganlah iman kalian amalkan dengan memandang muka.Sebab, jika ada orang yang memakai cincin emas dan pakaian indah masuk ke dalam kumpulanmu, dan masuk pula ke situ seorang miskin yang berpakaian buruk,dan kalian menghormati orang yang berpakaian indah itu serta berkata kepadanya,”Silakan Tuan duduk di tempat yang baik ini!”sedangkan kepada yang miskin kalian berkata,”Berdirilah di sana!”atau “Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!”bukankah kalian telah membuat pembedaan dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?

Dengarkanlah, saudara-saudara terkasihi!Bukankah Allah memilih orang-orang yang dianggap miskin oleh dunia ini untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan yang telah dijanjikan-Nya kepada siapa saja yang mengasihi Dia? Tetapi kalian telah menghina orang-orang miskin.Bukankah justru orang-orang kaya yang menindas kalian dan yang menyeret kalian ke pengadilan?Bukankah mereka yang menghujat Nama yang mulia,yang membuat kalian menjadi milik Allah?

Camkanlah,jika kalian menjalankan hukum utama yang tertulis dalam Kitab Suci:”Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri,”kalian berbuat baik. Tetapi jika kalian memandang muka, kamu berbuat dosa,dan oleh hukum itu menjadi nyata,bahwa kamu melakukan pelanggaran.

Ref:Orang tertindas berseru, dan Tuhan mendengarkannya.

Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu;puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku.Karena Tuhan jiwaku bermegah;biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah Tuhan bersama dengan daku,marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya.Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku,dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya,maka mukamu akan berseri-seri,dan tidak akan malu tersipu-sipu.Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan;Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah roh dan kehidupan.Pada-Mulah sabda kehidupan kekal.

Engkaulah Kristus Anak Manusia harus menderita banyak.

Pada suatu hari Yesus bersama murid-murid-Nya pergi ke kampung-kampung di sekitar Kaisarea Filipi.Di tengah jalan Ia bertanya kepada murid-murid-Nya,”Kata orang, siapakah Aku ini?”

Para murid menjawab,”Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis,ada juga yang mengatakan: Elia,ada pula yang mengatakan: seorang dari para nabi.”

Yesus bertanya lagi kepada mereka,”Tetapi menurut kamu, siapakah Aku ini?”Maka Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias!”Dan Yesus melarang mereka dengan keras,supaya jangan memberitahukan kepada siapa pun tentang Dia.Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka,bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan.Ia akan ditolak oleh para tua-tua,imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,lalu dibunuh, dan bangkit sesudah tiga hari.Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang.

Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur-Nya.Maka berpalinglah Yesus
dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus,kata-Nya, “Enyahlah Iblis!Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah,melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

“Ada banyak orang yang mengenal kita namun hanya sedikit yang memahami kita”Demikianlah kenyataan hidup di mana kerap kali orang saling menghakimi dan saling memberi label kepada orang lain tanpa pengalaman yang mendalam. Kerap kali orang justru lebih mempercayai dan mendasarkan dirinya pada kata-kata orang lain. Suatu pengenalan tidak akan pernah benar-benar tepat ketika seseorang malah mengambil jarak dan menolak untuk bergaul, saling mengalami dari hati ke hati ke hati.

Bacaan hari ini sungguh indah. Yesus menguji pengenalan dan pemahaman petrus dan para murid tentang diri-Nya. Yesus menguji pemahaman mereka tentang siapa diri-Nya dengan pertama-tama mempertanyakan pendapat banyak orang. ” Kata orang siapakah aku ini?” Dari pertanyaan itu Yesus mendapat jawaban yang positif. Banyak orang menganggap Yesus sebagai salah seorang dari para Nabi, bahkan Yesus diidentikkan dengan Yohanes Pembaptis dan Nabi Elia.

Lantas pertanyaan Yesus semaikn personal.”Tetapi apa katamu, siapakah aku ini?” Yesus, menuntut sebuah jawaban yang berasal dari pengalaman langsung. Dari Petrus, muncul sebuah jawaban yang tepat, ” Engkalah Mesias”. Yesus mengamini jawaban itu. Kendati demikian, Ia tidak mau terburu-buru dengan gelar itu. Ia lebih memilih untuk menggunakan gelar anak manusia untuk menunjuk pada awal kemuiaan-Nya yakni penderitaan-Nya.

Sahabat terkasih, iman kita adalah warisan dari Petrus dan para murid. Hal ini berarti iman yang kita yakini adalah iman yang otentik dan lahir langsung dari pengalaman tentang Kristus sendiri. Kalau begitu, maka kita diminta untuk mendekatkan diri selalu kepada Kristus agar kehidupan kita senantiasa dilandasi pada pengenalan yang tepat. Tak jarang, Kristus dikenal sejauh didengar dan dibicarakan saja. Masuklah kedalam pengalaman lansung dengan Kristus lewat doa pribadi dan ketaatan pada tuntutan-Nya. ( MS dalam Percikan Hati Vol,18 No.6 Februari 2020 hal 30)

View the original article here

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.