Bacaan dan Renungan Kamis 17 September 2020 Pekan Biasa XXIV

Begitulah kami mengajar dan begitu pulalah kalian mengimani.

Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kalian akan Injil yang sudah kuwartakan kepadamu dan sudah kalian terima, dan yang di dalamnya kalian teguh berdiri. Oleh Injil itu kalian diselamatkan, asal kalian berpegang teguh padanya sebagaimana kuwartakan kepadamu; kecuali kalau kalian sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah wafat karena dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah dimakamkan, dan pada hari ketiga telah dibangkitkan, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas
dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya sudah meninggal dunia.

Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir Ia menampakkan diri juga kepadaku, seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, dan tak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi berkat kasih karunia Allah, aku menjadi sebagaimana aku sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu entah aku, entah mereka, begitulah kami mengajar, dan begitu pulalah kalian mengimani.


Ref:Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik.

Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Kekal abadi kasih setia-Nya. Biarlah Israel berkata, “Kekal abadi kasih setia-Nya!”Tangan kanan Tuhan berkuasa meninggikan,tangan kanan Tuhan melakukan keperkasaan!Aku tidak akan mati, tetapi hidup,dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan.Allahkulah Engkau, aku hendak bersyukur kepada-Mu,Allahku, aku hendak meninggikan Dikau.

Datanglah kepada-Ku, kalian semua yang letih dan berbeban berat.Aku akan memberi kelegaan kepadamu.

Dosanya yang banyak telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih.

Pada suatu ketika seorang Farisi mengundang Yesus makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang wanita yang terkenal sebagai orang berdosa. Ketika mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya dengan air matanya, dan menyekanya dengan rambutnya. Kemudian ia mencium kaki Yesus dan meminyakinya dengan minyak wangi.

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hati, “Seandainya Dia ini nabi, mestinya Ia tahu, siapakah dan orang apakah wanita yang menjamah-Nya ini; semestinya Ia tahu, bahwa wanita ini adalah orang yang berdosa.”Lalu Yesus berkata kepada orang Farisi itu, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.”Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.” “Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka hutang kedua orang itu dihapuskannya. Siapakah di antara mereka akan lebih mengasihi dia?”

Jawab Simon, “Aku sangka, yang mendapat penghapusan utang lebih banyak!” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu!” Dan sambil berpaling kepada wanita itu, Yesus berkata kepada Simon, “Engkau melihat wanita ini? Aku masuk ke dalam rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku; tetapi wanita ini membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk, ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Sebab itu Aku berkata kepadamu, ‘Dosanya yang banyak itu telah diampuni, karena ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih!”

Lalu Yesus berkata kepada wanita itu: “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang makan bersama Yesus berpikir dalam hati, “Siapakah Dia ini, maka Ia dapat mengampuni dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada wanita itu,
“Imanmu telah menyelamatkan dikau.   pergilah dengan selamat!”

Paulus menganggap penting untuk mengingatkan kembali jemaat Korintus akan Injil yang telah diberitakannya. Jemaat Korintus telah menerima Injil dan hidup di dalamnya. Karena itu tak dapat disangkal bahwa jemaat Korintus telah menerima keselamatan (ayat 1). Namun ada catatan penting yang bukan hanya harus selalu diingat dan dipegang tetapi juga ditambahkan kepada pengetahuan mereka tentang injil (ayat 2).

Pertama, Injil harus dipahami sebagai suatu kesatuan berita tentang kelahiran, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus. Paulus menekankan bahwa kematian dan kebangkitan-Nya adalah rangkaian peristiwa yang menjadi inti Injil. Ia mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai Kitab Suci (ayat 3,4; bdk. Yes. 53:4-6,8,11-12; Hos. 6:2; Yun. 1:17). Fakta kebangkitan-Nya, sebagaimana kesaksian saksi mata, antara lain: Kefas, kedua belas murid, lebih dari lima ratus saudara, Yakobus, semua rasul dan yang paling akhir Paulus sendiri (ayat 5-8), menggagalkan keraguan beberapa orang terhadap kebangkitan orang mati.

Kedua, Injil harus menjadi motivasi pembawa berita. Paulus telah dipilih sebagai saksi kebangkitan Yesus dan dipanggil menjadi rasul — meskipun ia menganggap dirinya rasul yang paling hina karena ia menganiaya jemaat Allah (ayat 9). Namun, ia menganggap kasih karunia Allah yang telah dianugerahkan kepadanya, yaitu Injil keselamatan menjadi motivasi kuat untuk bekerja lebih keras dari rasul yang lain (ayat 10-11).

Hendaknya gereja tidak melupakan fondasi yang mengokohkannya yaitu Injil Yesus Kristus karena gereja ada karena pemberitaan Injil disambut dalam iman. Bila hal yang sangat penting ini dilupakan, gereja dan kehidupan Kristen kita terancam bahaya. Renungkan: Oleh Injil kita diselamatkan. Oleh Injil kita mengetahui bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah melepaskan kita dari kuasa dosa dan dari murka Allah.

Suatu kehormatan dapat mengundang Yesus ke perjamuan makan di rumah sendiri. Itu yang dirasakan Simon, si Farisi ketika Yesus menerima undangannya. Namun kebahagiaan itu serasa berkurang saat seorang perempuan yang terkenal dengan reputasi kurang baik menerobos masuk ke rumahnya untuk mengurapi kaki Yesus, dengan air mata dan minyak wangi, serta melapnya dengan rambutnya. Tanggapan Simon, jelas kurang suka. Kurang suka kepada perempuan yang dianggap mengacau pesta perjamuannya. Kurang suka kepada Yesus karena sebagai Guru agama yang saleh, Ia tak pantas membiarkan perempuan berdosa menjamah dan menajiskan diri-Nya (39).

Yesus menanggapi reaksi Simon tersebut dengan dua hal. Pertama, dengan perumpamaan dua orang yang berhutang (41-42). Orang yang berhutang kecil, rasa syukurnya pun kecil ketika hutangnya dihapus. Mungkin saja dengan sombong ia akan berkata, “Sebenarnya hutang sekecil itu bisa kubayar asal diberi sedikit waktu lagi.” Kedua, dengan membandingkan sikap penyambutan Simon terhadap diri-Nya dengan yang dilakukan perempuan berdosa itu (44-46). Jelas Simon belum mengalami anugerah pengampunan Allah sehingga sambutannya pada Yesus sekadar formalitas, sangat mungkin untuk menyombongkan kesalehannya. Sebaliknya, sikap perempuan itu menunjukkan penyesalannya terhadap dosa, dan berpaling pada Yesus untuk pengampunan. Yesus mengampuni perempuan itu (47-48)!

Hanya orang yang sudah mengalami anugerah Allah mampu menanggapi Allah dengan syukur yang keluar dari hati yang tulus. Syukur yang tulus tidak mempedulikan gunjingan orang lain karena dirinya terbuka di hadapan Allah apa adanya. Oleh karena itu, mari kita memeriksa diri jangan-jangan kita hanya berpenampilan Kristen, tetapi anugerah-Nya belum mengubah hati kita

Hal yang harus kita pegang: Ketulusan syukur kita terungkap lewat hal-hal kecil yang disaksikan oleh orang lain!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.



Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.