Bacaan dan Renungan Kamis 14 Januari 2021 Pekan Biasa I

Hendaklah kalian saling menasihati setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini.”

Saudara-saudara, dikatakan Roh Kudus: “Pada hari ini jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman, pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hati karena tipu daya dosa. Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang
pada keyakinan iman kita yang semula sampai kepada akhirnya.


Ref: Hari ini dengarkanlah suara Tuhan,”Janganlah kalian bertegar hati.”

Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.Empat puluh tahun lamanya Aku muak terhadap angkatan itu; maka Aku berkata, “Mereka ini bangsa yang sesat hati! Mereka tidak mengenal jalan-Ku.”Sebab itu Aku bersumpah dalam murka-Ku, “Mereka takkan masuk ke tempat istirahat-Ku.”

Yesus mewartakan kerajaan Allah dan menyembuhkan semua orang sakit.


Orang Kusta lenyap penyakitnya dan menjadi tahir.

Sekali peristiwa, seorang sakit kusta datang kepada Yesus. Sambil berlutut di hadapan Yesus, ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Maka tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu, dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.”Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir. Segera Yesus menyuruh orang itu pergi dengan peringatan keras, kata-Nya, “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan hal ini kepada siapa pun, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk pentahiranmu persembahan yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya kemana-mana sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Yesus tinggal di luar kota di tempat-tempat yang sepi; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru.

Dalam kehidupan kita, tidak jarang kita baik secara pribadi maupun bersama-sama mengucilkan seseorang. Alasannya bermacam-macam: karena status sosial, stigma, latar belakang, dianggap orang berdosa, dan pelbagai alasan yang lain.

Hukum membuat penderita kusta dikucilkan, dan penderita kusta sendiri diharapkan menjaga jarak mereka dari orang lain, karena najis (Im 13:45s). bahkan seringkali orang yang menderita penyakit kulit tertentu dianggap kusta. Terlebih lagi, penyakit kusta dianggap sebagai hukuman atas dosa-dosa orang itu, atau dosa orang tua, atau leluhurnya. Mereka dikucilkan secara sosial dan religius.

Seringkali dalam Injil, Yesus menyembuhkan orang melalui kata-kata yang diucapkan. Tetapi Yesus tidak hanya peduli dari kejauhan, bahkan orang kusta sekalipun. Untuk menyembuhkannya, Yesus tidak hanya berbicara kepadanya, namun juga menjamah dia. Dengan menjamah si penderita kusta, ia melakukan apa yang tidak akan dilakukan oleh orang lain (Im 5: 3).

Inkarnasi menyiratkan bahwa Tuhan datang untuk menyentuh hidup kita dengan cara yang sangat nyata, sepanjang hidup kita, terlepas dari kondisi kita. Si penderita kusta tidak yakin apakah Yesus ingin menyembuhkannya, seperti nampak dari apa yang ia katakan kepada Yesus, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Yesus menunjukkan bahwa Ia mau menyembuhkannya, bukan hanya dengan kata-kata tetapi dengan menjamah dia.

Yesus ingin menjamah seluruh hidup kita. Ia ingin kita hidup, hidup dalam kepenuhan. Tak ada suatu apapun yang menghalangi sentuhan-Nya. Seperti Paulus katakan “ Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan dan kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rom 8:35). Tuhan menjamah hidup kita, di manapun, kapanpun, dalam situasi apapun. Yang kita butuhkan hanyalah inisiatif dari kita, membuka diri, mendekatkan diri, seperti si penderita kusta. Kita yang dijamah oleh-Nya pada giliran-Nya diutus untuk “menjamah” orang lain dengan kasih yang menghidupkan (JA)



Renungan diambil dari: Percikan Hati Vol 19 No.5 Januari 2021


Baca dari sumber renungan harian Katolik

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.