Bacaan dan Renungan Kamis 13 Agustus 2020, Pekan Biasa XIX, PF S. Hippolitus, Imam dan Martir PF S. Pontianus, Paus PF S. Pontianus, Paus, dan Hipolitus, Imam; Martir

PF S. Hippolitus, Imam dan Martir PF S. Pontianus, Paus PF S. Pontianus, Paus, dan Hipolitus, Imam; Martirf

Berjalanlah seperti orang buangan di depan mereka pada siang hari.

Tuhan bersabda kepadaku, “Hai anak manusia, engkau tinggal di tengah-tengah kaum pemberontak. Mereka mempunyai mata, tetapi tidak melihat. Mereka mempunyai telinga, tetapi tidak mendengar, sebab mereka itu kaum pemberontak. Maka engkau, anak manusia, siapkanlah bagimu barang-barang seperti seorang buangan, dan berjalanlah seperti seorang buangan di hadapan mereka pada siang hari. Berangkatlah dari tempatmu sekarang ini ke tempat yang lain seperti seorang buangan di depan mata mereka. Barangkali mereka akan insaf bahwa mereka adalah kaum pemberontak. Bawalah barang-barangmu itu ke luar seperti barang-barang seorang buangan pada siang hari di depan mata mereka. Dan engkau sendiri harus keluar pada malam hari di depan mata mereka, seperti seorang yang harus keluar dan pergi ke pembuangan. Di depan mata mereka buatlah sebuah lubang, dan keluarlah dari situ. Di depan mata mereka taruhlah barang-barangmu di atas bahumu, dan bawalah itu ke luar pada malam gelap. Engkau harus menutupi mukamu, sehingga engkau tidak melihat tanah. Sebab Aku membuat engkau menjadi lambang bagi kaum Israel.”

Lalu kulakukan seperti diperintahkan kepadaku: Aku membawa pada siang hari barang-barang seperti perlengkapan seorang buangan, dan pada malam hari aku membuat lubang di tembok dengan tanganku; pada malam gelap aku keluar dan di hadapan mata mereka aku menaruh barang-barangku ke atas bahuku. Keesokan harinya, turunlah sabda Tuhan kepadaku, “Hai anak manusia, bukankah kaum Israel, kaum pemberontak itu bertanya kepadamu, ‘Apakah yang kaulakukan ini?’ Katakanlah kepada mereka, beginilah sabda Tuhan Allah, ‘Ucapan ilahi ini mengenai raja di Yerusalem dan seluruh kaum Israel yang tinggal di sana.’ Katakanlah, ‘Aku menjadi lambang bagimu, Seperti yang Kulakukan ini, begitulah akan berlaku bagi mereka; sebagai orang buangan mereka akan pergi ke pembuangan. Dan raja mereka akan menaruh barang-barangnya ke atas bahunya pada malam gelap, dan akan pergi ke luar.Orang akan membuat sebuah lubang di tembok supaya baginya ada jalan keluar, ia akan menutupi mukanya supaya ia tidak akan melihat tanah itu’.”

Ref:Janganlah kita melupakan karya-karya Allah.

Mereka mencobai dan memberontak terhadap Allah, Yang Mahatinggi,dan tidak berpegang pada peringatan-peringatan-Nya,mereka murtad dan berkhianat seperti moyang mereka,mereka menyimpang seperti busur yang tak dapat dipercaya.Mereka menyakiti hati Allah dengan mendirikan bukit-bukit pengorbanan, membuat Dia cemburu karena patung-patung pujaan mereka. Mendengar hal itu, allah menjadi geram, Ia menolak Israel sama sekali.Ia membiarkan andalan-Nya tertawan, membiarkan kebanggaan-Nya jatuh ke tangan lawan; Ia membiarkan umat-Nya dimangsa pedang, dan murkalah Ia terhadap milik pusaka-Nya.

Sinarilah hamba-Mu dengan wajah-Mu,dan ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Aku berkata kepadamu, ‘Bukan hanya sampai tujuh kali,melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.’

Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kalikah?”

Yesus menjawab,”Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya,raja lalu memerintahkan, supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual untuk membayar utangnya. Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya,”Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.”Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya, “Bayarlah hutangmu! Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya, “Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai semua utangnya ia lunasi.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu dan berkata kepadanya, “Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Maka marahlah tuannya dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya. Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya berangkatlah Ia dari Galilea, dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan.

Setelah serangkaian penglihatan kemuliaan Allah yang meninggalkan bait-Nya (ps. 8-11), kini Tuhan menyuruh Yehezkiel memperagakan hukuman yang akan menimpa umat Israel. Kepada bangsa pemberontak ini, Tuhan telah menegaskan bahwa penghukuman atas mereka akan berupa pembuangan.

Israel akan dibuang oleh Allah. Mereka akan menjadi orang asing di negara Babel. Mereka akan diperbudak dan menderita di sana. Namun sebelum Allah menjatuhkan hukuman itu atas umat-Nya, Ia memakai Yehezkiel untuk memberikan peringatan kepada mereka. Sebagaimana perintah Tuhan, Yehezkiel memperagakan diri sebagai orang buangan dengan harapan kiranya Israel mau insaf dan bertobat dari kesalahan dan dosanya . Secara khusus, peragaan nubuat ini sebenarnya nubuat tentang Raja Zedekia. Pemimpin Israel yang jahat ini akan dipaksa untuk menjadi orang buangan dengan cara yang sangat menyakitkan dan memalukan (lih. 2Raj. 25:3-7).

Namun nubuat ini ditutup dengan adanya sisa Israel yang akan luput dari penghukuman itu. Mereka akan mengakui bahwa kengerian hukuman itu adalah karena dosa-dosa mereka dan dengan demikian menyatakan bahwa Allah memang pantas menghukum mereka. Allah ingin membuktikan kepada Israel bahwa Ia tetap mengasihi mereka. Pintu maaf, pengampunan, kasih dan anugerah yang tidak terkatakan tetap terbuka di hadapan mereka.

Peringatan ini bukan hanya untuk Israel, tetapi juga untuk kita. Kita tidak jauh beda dengan bangsa Israel. Berkali-kali melihat, merasakan dan mengalami kuasa, pemeliharaan dan berkat Tuhan namun mudah bersungut-sungut, tidak puas apalagi bersyukur kepada Tuhan. Bahkan kita menjauhkan diri dari Tuhan dan berpaling pada ilah-ilah lain. Akibatnya murka-Nya menimpa kita. Mari kita insaf dan bertobat. Kembali kepada Tuhan sekarang juga, saat pintu maaf serta pengampunan-Nya masih dibuka.

Injil hari ini berkaitan dengan bacaan I, tentang pengampunan. Seperti Tuhan telah mengampuni kita, maka kita pun wajib mengampuni sesama.

Bila kita sejujur Petrus, harus kita akui bahwa kita hampir-hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengampuni orang lain. Apa lagi bila harus mengampuni tanpa batas, dan dengan sepenuh hati. Padahal andaikan Allah memberlakukan keadilan dan bukan kasih terhadap kita, entah bagaimana nasib kekal kita? Tidak ada kesalahan yang tidak dapat diampuni. Tuhan sendiri memberikan contoh bahwa Allah telah mengampuni setiap dosa umat-Nya yang datang meminta.

Allah mengampuni setiap jengkal dosa kita. Perumpamaan yang Yesus kemukakan sangat gamblang. Sulit bagi kita untuk mengerti makna perumpamaan ini. Namun sebenarnya perumpamaan ini menggambarkan mahalnya pengampunan yang kita terima dalam Tuhan. Dosa kita terlampau jahat dan banyak hingga nyawa Yesus harus dikorbankan menggantikan kita. Apalah arti kesalahan kecil orang lain kepada kita dibandingkan dosa kita terhadap Allah? Orang yang sungguh menghayati pengampunan Allah, wajib meneruskan pengampunan itu kepada sesamanya. Namun jika kita sendiri belum mengalami pengampunan Allah, memang mustahil untuk meneruskan misi pengampunan itu.

Mat 18:21-19:1 Aku berkata kepadamu, ‘Bukan hanya sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali kalian harus mengampuni.

Baca artikel dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.