Bacaan dan Renungan Kamis 12 Agustus 2021|Pekan Biasa XIX

Tuhan bersabda kepada Yosua, “Pada hari inilah Aku mulai membesarkan namamu di mata seluruh orang Israel, supaya mereka tahu, seperti dahulu Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau. Maka perintahkanlah kepada para imam pengangkat tabut perjanjian, demikian, ‘Setelah kalian sampai ke tepi air sungai Yordan, haruslah kalian tetap berdiri di tengah sungai Yordan.’”Yosua lalu berkata kepada orang Israel, “Datanglah mendekat dan dengarkanlah sabda Tuhan, Allahmu.” Lalu ia menyambung, “Dari hal inilah akan kalian ketahui, bahwa Allah yang hidup ada di tengah-tengah kalian. Sungguh, tabut perjanjian Tuhan semesta bumi akan mendahului kalian masuk ke sungai Yordan. Begitu kaki para imam pengangkat tabut perjanjian Tuhan semesta bumi, berhenti di dalam air sungai, maka air sungai Yordan itu akan terputus; air yang turun dari hulu akan berhenti mengalir dan menjadi bendungan.”

Ketika bangsa Israel berangkat dari tempat perkemahan untuk menyeberangi sungai Yordan, para imam pengangkat tabut perjanjian itu berjalan di depan. Segera sesudah para imam pengangkat tabut sampai ke sungai Yordan, dan para imam itu menginjakkan kakinya ke dalam air di tepi sungai itu, maka berhentilah air mengalir. Padahal waktu itu musim panen,  dan selama musim panen air sungai selalu meluap. Air yang turun dari hulu naik menjadi bendungan, di kejauhan di dekat Adam, yaitu kota yang terletak di sebelah Sartan, sedang air yang turun ke Laut Araba, yakni Laut Asin, terputus sama sekali. Lalu menyeberanglah bangsa Israel di hadapan Yerikho. Tetapi para imam pengangkat tabut perjanjian Tuhan tetap berdiri di tanah yang kering, di tengah-tengah sungai Yordan, sedang seluruh bangsa Israel menyeberang di tanah yang kering, sampai mereka semua selesai menyeberangi sungai Yordan.

Pada waktu Israel keluar dari Mesir, di kala kaum keturunan Yakub keluar dari bangsa yang asing bahasanya, maka Yehuda menjadi tempat kudus-Nya, dan Israel wilayah kekuasaan-Nya.Laut melihatnya, lalu melarikan diri, dan sungai Yordan berbalik ke hulu. Gunung-gunung melompat-lompat seperti domba jantan, dan bukit-bukit seperti anak domba.Ada apa, hai laut, sehingga engkau melarikan diri, hai Yordan, sehingga engkau berbalik ke hulu? Ada apa, hai gunung-gunung, sehingga kamu melompat-lompat seperti domba jantan, hai bukit-bukit, sehingga kamu seperti anak domba?Sekali peristiwa datanglah Petrus kepada Yesus dan berkata, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kalikah?” Yesus menjawab, “Bukan hanya sampai tujuh kali,
melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Sebab hal Kerajaan Surga itu seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunasi utangnya, raja lalu memerintahkan, supaya ia beserta anak isteri dan segala miliknya dijual untuk membayar utangnya. Maka bersujudlah hamba itu dan menyembah dia, katanya, “Sabarlah dahulu, segala utangku akan kulunasi.” Tergeraklah hati raja oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga hamba itu dibebaskannya, dan utangnya pun dihapuskannya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berutang seratus dinar kepadanya. Kawan itu segera ditangkap dan dicekik, katanya, “Bayarlah hutangmu! Maka sujudlah kawan itu dan minta kepadanya, “Sabarlah dahulu, utangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai semua utangnya ia lunasi.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih, lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja memerintahkan memanggil orang itu dan berkata kepadanya, “Hai hamba yang jahat! Seluruh utangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonnya. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?” Maka marahlah tuannya dan menyerahkan dia kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh utangnya. Demikian pula Bapa-Ku yang di surga akan berbuat terhadapmu, jika kalian tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”Setelah Yesus selesai dengan pengajaran-Nya berangkatlah Ia dari Galilea, dan tiba di daerah Yudea, di seberang sungai Yordan.

Peristiwa mukjizat Sungai Yordan terbelah pasti mengingatkan sebagian umat Israel akan karya Allah masa lampau, membelah Laut Teberau (Kel. 14). Sesuai dengan janji-Nya kepada Yosua dan umat Israel, saat mereka melangkah dengan iman menapak masuk Tanah Perjanjian, Ia bertindak secara ajaib dan mereka pun tibalah di Kanaan.

Tindakan iman Israel ini bukan tanpa dasar. Allah sendiri memberi perintah (Yos. 3:3-4) sehingga walaupun sepertinya isi perintah itu adalah sesuatu yang tidak masuk di akal manusia, orang percaya harus berani menyambut dengan taat. Tindakan iman Israel ini menunjukkan juga kepekaan mereka akan perubahan kepemimpinan Tuhan dari petunjuk jelas lewat tiang awan dan tiang api menjadi bersandar firman-Nya dengan mengikuti pergerakan tabut perjanjian (3). Pada saat yang sama, jarak yang dijaga antara pasukan Israel dengan tabut itu menunjukkan sikap hormat terhadap Tuhan yang dipelihara (4).

Masihkah Allah bertindak menggenapkan rencana-Nya dengan cara yang luar biasa tersebut? Jawabnya, ya. Akan tetapi, pada saat yang sama kita mengetahui bahwa Allah juga bertindak lewat cara-cara berbeda, lewat usaha keras dan pikiran rasional hamba-hamba-Nya. Bolehkah kita mengklaim mukjizat Allah untuk menggenapi rencana-Nya dalam hidup kita? Tentu saja boleh. Namun, kita harus selalu menguji apakah dorongan permohonan kita akan mukjizat selaras dengan kehendak-Nya yang dinyatakan firman-Nya? Misalnya, jangan sampai kita mengklaim mukjizat pertobatan dari Allah dengan cara mengawini pasangan yang tidak seiman dengan dalih penginjilan! Lebih celaka lagi kalau kita meminta berkat-Nya atas usaha tidak kudus (band. ay. 5) seperti melakukan korupsi demi menghasilkan uang mendukung pembangunan gedung gereja kita.


Langkah iman tidak selalu ditandai dengan mukjizat melainkan dengan pemahaman dan penghayatan penuh akan setiap firman yang Allah nyatakan dalam Alkitab.

Kerajaan sering kali disebut dengan nama raja pahlawan pendirinya. Misalnya Han di Cina, Ramses di Mesir, dlsb. Nama-nama itu sekaligus semacam barometer kebesaran dinasti tersebut. Namun tidak satu pun yang demikian hebat sampai bisa bertahan abadi dalam sejarah.
Siapa pencipta umat Israel? Siapakah pendiri kerajaan Yehuda? Yakub yang penipu dan pengecut itu? Siapa membuat Israel wilayah kekuasaan Allah dan Yehuda kekudusan-Nya? (2). Allah sendiri, Pencipta langit dan bumi dan Pencipta umat-Nya. Bukankah maksud mazmur ini untuk membangkitkan kesadaran bahwa landasan umat bukan pada kehebatan nama besar pendahulu mereka, tapi pada Allah yang telah menebus mereka dari perbudakan Mesir?

Peristiwa Keluaran bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Peristiwa itu luar biasa karena dua hal. Pertama, kekuasaan Allah nyata di dalamnya. Semua kekuatan lain nyata hanya ciptaan yang harus gemetar tunduk kepada kehendak dan pengaturan Sang Pencipta (5-8). Kekuatan alam yang waktu itu melambangkan andalan bangsa-bangsa kafir, malahan menjadi pesuruh Allah semata. Kedua, dengan mengingat-ingat Yahwe sebagai pendiri Yehuda, umat mendapatkan kepastian tentang tujuan keberadaan mereka. Umat harus menjadi alat Allah yang di dalam dan melaluinya keagungan Allah dinyatakan ke seluruh bumi.

Kejadian kita sebagai gereja dari Yesus Kristus pun lebih dahsyat lagi. Kita didirikan oleh Dia yang telah meruntuhkan sendi-sendi kerajaan maut melalui kematian-Nya. Darah-Nya membuat kita lepas dari maut, diri-Nya sendiri telah menjadi batu penjuru yang di atas-Nya kita berdiri sebagai gereja selama berabad-abad. Janji-Nya menyertai gereja bahwa tidak ada kekuatan sedahsyat maut sekalipun dapat melenyapkan gereja-Nya. Hendaknya kehadiran-Nya menggerakkan kita hidup dan melayani begitu rupa hingga orang tidak sanggup seenaknya saja berdosa dan menentang kebenaran.

Bila kita sejujur Petrus, harus kita akui bahwa kita hampir-hampir tidak memiliki kemampuan untuk mengampuni orang lain. Apa lagi bila harus mengampuni tanpa batas, dan dengan sepenuh hati. Padahal andaikan Allah memberlakukan keadilan dan bukan kasih terhadap kita, entah bagaimana nasib kekal kita? Tidak ada kesalahan yang tidak dapat diampuni. Tuhan sendiri memberikan contoh bahwa Allah telah mengampuni setiap dosa umat-Nya yang datang meminta.

Allah mengampuni setiap jengkal dosa kita. Perumpamaan yang Yesus kemukakan sangat gamblang. Sulit bagi kita untuk mengerti makna perumpamaan ini. Namun sebenarnya perumpamaan ini menggambarkan mahalnya pengampunan yang kita terima dalam Tuhan. Dosa kita terlampau jahat dan banyak hingga nyawa Yesus harus dikorbankan menggantikan kita. Apalah arti kesalahan kecil orang lain kepada kita dibandingkan dosa kita terhadap Allah? Orang yang sungguh menghayati pengampunan Allah, wajib meneruskan pengampunan itu kepada sesamanya. Namun jika kita sendiri belum mengalami pengampunan Allah, memang mustahil untuk meneruskan misi pengampunan itu.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni dosa-dosaku. Tolonglah aku untuk mau dan mampu mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepadaku. Aku menyadari bahwa aku pun harus mengampuni mereka agar diriku dapat diampuni oleh-Mu. Tolonglah aku untuk senantiasa menghayati sabda bahagia-Mu: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan berolah belas kasihan” (Mat 5:7). Amin



Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.