Bacaan dan Renungan Kamis 11 Juli 2019 – Pekan Biasa XIV

Demi keselamatanmu Allah mengutus aku ke Mesir.

Demi keselamatanmu Allah mengutus aku ke Mesir.

Demi keselamatanmu Allah mengutus aku ke Mesir.

Di tanah Mesir Yusuf pura-pura menuduh adiknya, Benyamin, mencuri.
Maka tampillah Yehuda mendekati Yusuf dan berkata,”Mohon bicara tuanku,
izinkanlah hambamu ini mengucapkan sepatah kata kepada tuanku,dan janganlah bangkit amarahmu terhadap hambamu ini,sebab tuanku adalah seperti Firaun sendiri.
Tuanku telah bertanya kepada hamba-hamba ini,’Masih adakah ayah atau saudaramu?’
Dan kami menjawab tuanku,’Kami masih mempunyai ayah yang sudah tua dan masih ada anaknya yang muda, yang lahir pada masa tuanya;kakaknya telah mati,
dan hanya dia sendirilah yang tinggal dari mereka yang seibu,sebab itu ayah sangat mengasihi dia.’Lalu Tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini,’Bawalah dia ke mari kepadaku, supaya mataku memandang dia.’Lagi Tuanku berkata kepada hamba-hambamu ini,’Jika adikmu yang bungsu itu tidak datang ke mari bersama kalian,
kalian tidak boleh melihat mukaku lagi.’

Setelah kami kembali kepada hambamu, ayah kami,maka kami memberitahukan kepadanya perkataan tuanku itu.Kemudian ayah kami berkata,’Kembalilah kamu membeli sedikit bahan makanan bagi kita.’Tetapi jawab kami, ‘Kami tidak dapat pergi ke sana,sebab kami tidak boleh melihat muka orang itu,apabila adik yang bungsu tidak bersama-sama kami.’Kemudian berkatalah hambamu, ayah kami,’Kamu tahu, bahwa isteriku telah melahirkan dua orang anak bagiku;yang seorang telah pergi, dan aku telah berkata,Tentulah ia diterkam oleh binatang buas,dan sampai sekarang aku tidak melihat dia kembali.Jika anak ini kamu ambil pula dari padaku,dan ia ditimpa kecelakaan,
maka tentulah kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena nasib celaka.’

Ketika itu Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi di depan semua orang yang berdiri di dekatnya. Lalu berserulah ia, “Suruhlah keluar semua orang dari sini.” Maka tidak ada seorang pun yang tinggal di situ bersama-sama Yusuf,ketika ia memperkenalkan dirinya kepada saudara-saudaranya. Setelah itu menangislah ia keras-keras, sehingga kedengaran oleh orang-orang Mesir dan seisi istana Firaun. Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya,”Akulah Yusuf! Masih hidupkah bapa?”Tetapi saudara-saudaranya tidak dapat menjawabnya,sebab mereka takut dan gemetar menghadapi dia. Lalu kata Yusuf kepada mereka, “Marilah mendekat.”Maka mendekatlah mereka. Kata Yusuf lagi,
“Akulah Yusuf, saudaramu, yang kalian jual ke Mesir.Tetapi sekarang janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri karena kalian menjual aku ke sini,
sebab demi keselamatan hidup kalianlah Allah menyuruh aku mendahului kalian ke Mesir.

Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau menyondongkan hatimu kepada kepandaian;

Jikalau engkau berseru kepada pengertian,dan menujukan suaramu kepada kepandaian,
jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak,dan mengejarnya seperti harta terpendam,maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takwa kepada Tuhan
dan mendapat pengenalan akan Allah.Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat,
dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.

Ia menyediakan pertolongan bagi orang yang jujur, menjadi perisai bagi orang yang tidak bercela perilakunya,sambil menjaga jalan keadilan,dan memelihara jalan orang-orang-Nya yang setia. Maka engkau akan mengerti tentang kebenaran, keadilan, dan kejujuran,bahkan setiap jalan yang baik.

Ref: Ingatlah akan karya Tuhan yang ajaib.

Ketika Tuhan mendatangkan kelaparan ke atas tanah Kanaan,dan menghancurkan seluruh persediaan makanan,diutus-Nyalah seorang mendahului mereka,yakni Yusuf yang dijual menjadi budak.Kakinya diborgol dengan belenggu,lehernya dirantai dengan besi,sampai terpenuhinya nubuatnya,dan firman Tuhan membenarkan dia.Raja menyuruh melepaskan dia,penguasa para bangsa membebaskannya.
Dijadikannya dia tuan atas istananya,dan pengelola segala harta kepunyaannya.

Refren: Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu. (Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan.)

Aku hendak memuji Tuhan setiap waktu;puji-pujian kepada-Nya selalu ada di dalam mulutku.Karena Tuhan jiwaku bermegah;biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.Muliakanlah Tuhan bersama-sama dengan daku,marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya.Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku,
dan melepaskan daku dari segala kegentaranku.Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya,maka mukamu akan berseri-seri,
dan tidak akan malu tersipu-sipu.Orang yang tertindas ini berseru, dan Tuhan mendengarkan,Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.Malaikat Tuhan berkemah di sekeliling orang-orang yang takwa,lalu meluputkan mereka.Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya Tuhan!Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!Takutlah akan Tuhan, hai orang-orang-Nya yang kudus,sebab orang yang takut akan Dia takkan berkekurangan.Singa-singa muda merasa kelaparan,tetapi orang-orang yang mencari Tuhan tidak akan kekurangan sesuatu pun.

Kerajaan Allah sudah dekat.

Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma,maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Pada waktu itu Yesus bersabda kepada kedua-belas murid-Nya,”Pergilah dan wartakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati;tahirkanlah orang kusta; usirlah setan-setan.Kalian telah memperolehnya dengan cuma-cuma,karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma.Janganlah kalian membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu.Janganlah kalian membawa bekal dalam perjalanan,janganlah kalian membawa baju dua helai, kasut atau tongkat,sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya.

Apabila kalian masuk kota atau desa,carilah di situ seorang yang layak, dan tinggallah padanya sampai kalian berangkat.Apabila kalian masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.Jika mereka layak menerimanya, salammu itu turun ke kepadanya,
jika tidak, salammu itu kembali kepadamu.

Dan apabila seorang tidak menerima kalian dan tidak mendengarkan perkataanmu,
keluarlah dan tinggalkanlah rumah atau kota itu,dan kebaskanlah debunya dari kakimu.
Aku berkata kepadamu:Sungguh, pada hari penghakiman tanah Sodom dan Gomora akan lebih ringan tanggungannya dari pada kota itu.”

Yehuda berbicara atas nama dirinya sendiri dan saudara-saudaranya dalam suatu pernyataan yang tergolong paling indah dalam sastra. Dia tidak membela diri, dia tidak menyangkal, tetapi sekadar mengajukan permohonan kepada pejabat Mesir yang berkuasa itu agar Benyamin tetap hidup dan bebas. Permohonan Yehuda ini merupakan “pola paling lengkap dan kefasihan berbicara yang sungguh alamiah yang terdapat dalam suatu bahasa.” Sikap siap mengorbankan diri, yang sebelumnya asing bagi Yehuda, memancar dengan keindahan yang istimewa. Yehuda dengan jujur mengakui kesalahan dirinya dan kesalahan saudara-saudaranya. Sesungguhnya, mereka tidak mencuri uang pembayaran gandum maupun piala perak tersebut, tetapi mereka telah melakukan dosa mengerikan dengan menjual saudara mereka sebagai budak. Mereka telah sangat menyusahkan dan menyedihkan Yusuf serta ayah mereka. Dengan mengacu kepada penderitaan ayahnya, Yehuda menunjukkan bahwa dirinya saat ini sangat sadar akan nilai-nilai suci dan pentingnya hubungan keluarga.

Kesediaan sang kakak untuk menjadi pengganti bagi Benyamin menunjukkan kebesaran jiwanya. Dia menawarkan diri untuk menjadi budak Yusuf, dan memohon agar Benyamin dan saudara-saudaranya yang lain bisa disuruh pulang untuk membawa berkat bagi ayah mereka yang sudah lanjut usia. Inilah puncak campur tangan Allah dengan Yehuda. Tuhan telah menjadikan dia seorang jagoan rohani untuk mewakili Tuhan dalam melaksanakan rencana ilahi.

Yusuf tidak dapat menahan hatinya lagi … menangislah ia keras-keras … Dan Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, “Akulah Yusuf.” Ketika Yusuf tidak bisa lagi menahan hatinya, dia berseru nyaring sambil menangis (terjemahan harfiah). Sesaat kemudian dia memperkenalkan diri kepada saudara-saudaranya dan membuka hatinya yang baik untuk mereka. Di dalam ketakutan dan kebingungan mereka menjadi tidak bisa berbicara. Tetapi Yusuf menenangkan hati mereka. Dia menyatakan, “Allah menyuruh aku mendahului kamu” (ay. 5). Dengan cepat dia mengangkat seluruh beban kesalahan mereka karena perbuatan buruk mereka dulu ketika ia berusaha menafsirkan kejadian tersebut menurut maksud dan rencana Allah. Itulah caranya memusatkan perhatian mereka pada satu pertimbangan yang tertinggi itu. Maksud yang ditetapkan Tuhan lebih penting daripada tindakan manusia yang fana. Maksud ilahi tersebut mencakup pemeliharaan kaum sisa umat Allah agar tetap hidup dan dapat dipakai untuk melaksanakan kehendak Tuhan di bumi.

Seringkali manusia kehabisan akal dan semangat memuji Tuhan. Yang ada justru menggerutu dan menggugat Tuhan, karena sulit menerima keadaan yang dialaminya, yang tidak sesuai dengan harapan. Sebenarnya tak ada alasan bagi umat Tuhan untuk tidak memuji Dia. Betapa tidak, perbuatan agung dan ajaib Allah di masa lampau telah membangunkan kesadaran umat manusia, bahwa Dialah Tuhan sejati. Selain itu pengalaman beriman yang ditampilkan oleh para pendahulu kita dalam arak-arakan orang beriman, merupakan rambu-rambu dan bukti kasih setia Tuhan. Karena itu seluruh karya keagungan-Nya merupakan sumber pujian utama umat manusia.

Umat yang memuji. Bersumber pada karya keagungan Allah maka layaklah bila pujian yang kita naikkan adalah pujian dalam pengertian dan kesadaran penuh. Bukan dalam kemabukan emosi yang bersumber pada kenikmatan syaraf dan indra tubuh kita sendiri. Iman yang mengerti bahwa Allah akbar, perbuatan-Nya ajaib, sifat-Nya kudus dan setia, penghukuman-Nya pasti, perjanjian-Nya kekal, mengalirkan pujian rohani yang benar.

Kesukaan dan kegembiraan dalam pujian itu pasti ada, tetapi sumbernya, suasananya dan tujuannya harus diarahkan pada Allah, Sang Sumber Pujian.

Para rasul yang diutus tidak hanya diberi kuasa namun juga dibekali prinsip-prinsip pelayanan yang sangat mendukung pelayanan mereka. Apa sajakah?
Target pelayanan mereka harus jelas dan spesifik (ayat 5-6). Untuk misi pertama targetnya adalah bangsa Israel seperti misi pertama Yesus. Target inilah yang menjadi prioritas utama mereka dan hal- hal lain yang tidak menjadi target harus dikesampingkan. Mereka juga dilarang untuk membawa ekstra perbekalan, baik itu uang, pakaian, ataupun perlengkapan untuk bepergian. Tujuannya supaya mereka menjauhkan diri dari kemewahan dan tidak dibebani dengan perbekalan yang banyak, yang justru akan membuat mereka sibuk untuk menjaga perbekalannya daripada melayani dan hidup bergantung kepada Allah. Mereka juga tidak boleh mempunyai motivasi untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk apa pun dari orang-orang yang dilayani, sebab segala kuasa dan kemampuan yang mereka miliki adalah anugerah Allah (ayat 8).

Untuk tempat bermalam, mereka harus bergantung kepada kebaikan hati orang-orang yang mau memberi tumpangan. Jika mereka mendapatkan kesempatan untuk menumpang, mereka tidak boleh sembarangan menerima kebaikan hati orang lain. Mereka harus tinggal di rumah orang yang layak hingga berangkat lagi (ayat 11). Kelayakan orang yang memberi tumpangan diukur berdasarkan mau tidaknya ia menerima mereka dan mendengarkan pengajarannya (ayat 14). Prinsip tetap tinggal hingga berangkat kembali menegaskan bahwa utusan Yesus harus menghindari kemewahan dalam arti mereka tidak boleh memilih-milih atau berpindah-pindah untuk mendapatkan tempat yang nyaman.

Renungkan: Dari prinsip-prinsip yang diajarkan Yesus, bagi pelayan Kristen masa kini mungkin yang paling mengganggu konsentrasi mereka dalam pelayanannya adalah masalah harta dan kemewahan. Jika setiap pelayan Kristen menghindari kemewahan dan hanya bergantung pada pemeliharaan Allah, betapa banyak orang yang menghina Injil telah dimenangkan.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan berdiamlah dalam diri kami. Biarlah hidup-Mu dalam diri kami bertumbuh sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa dengan-Mu. Tolonglah kami mencari Engkau dalam doa agar kami dapat belajar menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk segala kebutuhan kami. Tolonglah kami untuk senantiasa mewartakan Kabar Baik-Mu kepada orang-orang lain secara cuma-cuma. Amin. (Lucas Margono)

Mat 10:7-15 Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Mat 10:7-15 Kalian telah memperoleh dengan cuma-cuma, maka berilah pula dengan cuma-cuma.

Tuhan, sering kali aku hanya memikirkan kebutuhanku sendiri dan lupa akan kasih penyelenggaraan-Mu. Semoga aku lebih sensitif akan kebutuhan orang lain dan menjadi pribadi yang produkti. Amin

Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.