Bacaan dan Renungan Kamis 09 September 2021

Kenakanlah cinta kasih, tali pengikat kesempurnaan.

Saudara-saudara,kalianlah orang-orang pilihan Allah,yang dikuduskan dan dikasihi Allah.Maka kenakanlah belas kasihan, kemurahan dan kerendahan hati,kelemahlembutan dan kesabaran.Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain,
dan hendaklah kalian saling mengampuni apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain;sebagaimana Kristus mengampuni kalian, demikian pula kalian hendaknya.

Dan di atas semuanya itu kenakanlah cinta kasih, tali pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.Semoga damai sejahtera Kristus menguasai hatimu,
karena untuk itulah kalian dipanggil menjadi satu tubuh.Dan bersyukurlah.
Semoga sabda Kristus dengan segala kekayaannya tinggal di antara kalian. Hendaknya kalian saling mengajar dan menasehati dengan segala hikmat. Nyanyikanlah mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, untuk mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kalian lakukan dengan perkataan atau perbuatan,
lakukanlah itu dalam nama Tuhan Yesus Kristus, dan dengan pengantaraan-Nya
bersyukurlah kepada Allah, Bapa kita.



Ref:Segala yang bernafas, pujilah Tuhan!

Pujilah Allah dalam tempat kudus-Nya! Pujilah Dia dalam cakrawala-Nya yang kuat! Pujilah Dia karena segala keperkasaan-Nya pujilah Dia sesuai dengan kebesaran-Nya yang hebat!Pujilah Dia dengan tiupan sangkakala,pujilah Dia dengan gambus dan kecapi! Pujilah Dia dengan rebana dan tari-tarian,pujilah Dia dengan permainan kecapi dan seruling!Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan ceracap yang berdentang!Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan!

Jika kita saling menaruh cinta kasih, Allah tinggal dalam kita; dan cinta kasih Allah dalam kita menjadi sempurna.



Hendaknya kalian murah hati se bagaimana Bapamu murah hati adanya.

Yesus bersabda kepada murid-murid-Nya,”Dengarkanlah perkataan-Ku ini: Kasihilah musuhmu. Berbuatlah baik kepada orang yang membenci kalian. Mintalah berkat bagi mereka yang mengutuk kalian. Berdoalah bagi orang yang mencaci kalian.Bila orang menampar pipimu yang satu, berikanlah pipimu yang lain.Bila orang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu,dan janganlah meminta kembali dari orang yang mengambil kepunyaanmu. Dan sebagaimana kalian kehendaki orang perbuat kepada kalian,
demikian pula hendaknya kalian berbuat kepada mereka. Kalau kalian mengasihi orang-orang yang mengasihi kalian, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian.Lagi pula kalau kalian memberikan pinjaman kepada orang dengan harapan akan memperoleh sesuatu dari padanya, apakah jasamu?Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa,supaya mereka menerima kembali sama banyaknya.

Tetapi kalian, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan berilah pinjaman tanpa mengharapkan balasan, maka ganjaranmu akan besar dan kalian akan menjadi anak Allah Yang Mahatinggi. Sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan orang-orang jahat.Hendaklah kalian murah hati
sebagaimana Bapamu murah hati adanya.Janganlah menghakimi orang, maka kalian pun tidak akan dihakimi.Dan janganlah menghukum orang,maka kalian pun tidak akan dihukum. Ampunilah, maka kalian pun akan diampuni.Berilah, dan kalian akan diberi.
Suatu takaran yang baik,yang dipadatkan, yang digoncang dan tumpah ke luar akan dicurahkan ke pangkuanmu. Sebab ukuran yang kalian pakai, akan diukurkan pula kepadamu.”

Proses perubahan kehidupan orang kristen bisa terjadi bila kita senantiasa mau meniru dan mencontoh kehidupan Yesus. Identifikasi atau usaha penyerupaan diri yang terus menerus dengan Kristus akan menyebabkan kehidupan kita semakin menyerupai Kristus. Kedua hal ini tidak terpisahkan. Pada perikop ini kita akan melihat bagaimana perubahan hidup itu diteruskan dengan menerapkan tingkah laku yang mulia (ayat 16-17) dan menumbuhkan karakter ilahi (ayat 12-15).

Pertama, menumbuhkan karakter ilahi. Karakter-karakter yang dijabarkan di 12-15 adalah karakter Kristus yang dipraktikkan-Nya sepanjang hidup dan pelayanan-Nya di dunia ini. Teladan sudah ada, tinggal kita mempraktikkannya. Bagaimana caranya? “Sebagaimana Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian(ayat 13b); “kenakanlah kasih … (ayat 14)”; “Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu … (ayat 15a).”

Kedua, menerapkan tingkah laku mulia. Saling mengajar, dan saling menegur di antara sesama umat beriman (ayat 16a); menaikkan pujian dan syukur kepada Allah (ayat 16b); melakukan perbuatan (yang baik) dan mengatakan perkataan (yang membangun) di dalam nama Tuhan Yesus (ayat 17).

Pada masa modern ini, kadangkala perbuatan baik bukan keluar dari karakter baik, melainkan kamuflase dan manipulasi untuk mencapai keuntungan terselubung. Misalnya, kampanye pemilihan “Caleg”  pasti disertai dengan berbagai perbuatan baik untuk memikat rakyat memilih capres dan cawapres dan caleg tertentu. Namun, motivasi di baliknya bisa saja sekadar untuk menang dan mendapatkan kesempatan berkuasa untuk kepentingan pribadi/kelompok. Hal itu membuktikan karakter yang nonkristiani!


Maka sebagai orang Kristen yang sejati akan selalu mempraktikkan perbuatan baik yang sejalan dengan karakter yang sudah diubahkan oleh Yesus.

Benarkah selama ini kita menjadikan proses perubahan kehidupan kita sebagai orang Kristen hanya sekadar alternatif belaka? Refleksikan berdasarkan firman-Nya hari ini, maka kita akan menemukan bagaimana seharusnya kehidupan kristen yang bertumbuh dan terus-menerus diperbaharui oleh-Nya.

Injil hari ini Yesus sekali lagi mengejutkan orang-orang yang mendengarkan pengajaran-Nya waktu itu dan juga kita sekarang, yaitu untuk mengasihi musuh-musuh kita. Kita yang “mendengarkan” Yesus (27; bdk. 6:18, 45-49) dikejutkan dan ditantang untuk menganut pola hidup dan peri laku yang mencerminkan nilai-nilai kerajaan Allah yang ditandai oleh sikap radikal, “mengasihi musuh” (27a; 32; 35a). Sikap ini diwujudkan dalam dua tindakan konkret. Yang pertama ialah “berbuat baik” — bukan secara pasif melainkan secara proaktif di tengah serangan dan permusuhan terhadap kita: berbuat baik, memberkati, mendoakan, memberikan pipi yang lain, bahkan jubah dengan bajunya juga (27b-29; 33; 35b).

Yang kedua ialah “memberi” atau “meminjamkan” dengan ikhlas “tanpa mengharapkan balasan” (30; 34; 35c; 38). Inilah implikasi dari ucapan bahagia: pengikut Yesus dipanggil untuk membentuk suatu umat, warga Kerajaan Allah, yang ciri utamanya ialah tidak memperlakukan orang lain (khususnya mereka yang “membenci, mengucilkan, mencela dan menjelekkan” kita) sebagai musuh. Yang Yesus minta dari murid-murid-Nya ialah menerima nilai-nilai yang memutarbalikkan tata cara dunia sosial mereka.

Pola hidup dan perilaku ini haruslah berakar pada karakter Allah sebagai Bapa yang murah hati (36), termasuk kepada mereka “yang tidak tahu berterima kasih dan jahat” (35). Orang-orang semacam ini lazim kita pandang sebagai “musuh.” Kemurahan hati Allah itu harus kita terjemahkan pula dalam tindakan tidak menghakimi tetapi mengampuni, tidak menonjolkan kesalehan sendiri dengan menekankan kekurangan orang lain (37; 41-42). Kemurahan hati Allah yang berlimpah diibaratkan seperti pedagang di pasar yang tidak pelit, melainkan mengisi takaran atau timbangannya penuh-penuh, bahkan meluap ke luar (38). Demikianlah cara Allah Bapa memperlakukan anak-anak-Nya, yang dalam peri laku mereka terhadap sesama meneladani karakter-Nya.



Renungkan: Sama seperti Allah dengan murah hati menganugerahkan pengampunan dan penebusan dari dosa di dalam Kristus, demikianlah hendaknya anak-anak-Nya.


12 Sep 2019


Baca Renunan Harian Katolik dari sumbernya

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.