Bacaan dan Renungan Jumat 22 Januari 2021 Pekan Biasa II PF S. Vinsensius, Diakon dan Martir

Kristus menjadi pengantara perjanjian yang lebih agung.

Saudara-saudara, sekarang Yesus telah mendapat suatu pelayanan yang jauh lebih agung, karena Ia menjadi Pengantara dari perjanjian yang lebih mulia, yang didasarkan atas janji yang lebih tinggi. Sebab, sekiranya perjanjian yang pertama itu tidak bercacat, tidak akan ada tempat untuk yang kedua. Allah sudah menyadarkan mereka akan cacad itu ketika Ia berkata, “Sesungguhnya, akan datang waktunya,” demikianlah firman Tuhan, “Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan dengan kaum Yehuda, bukan seperti perjanjian yang Kuadakan dengan nenek moyang mereka, yakni waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Mereka tidak setia kepada perjanjian-Ku itu, maka Aku menolak mereka,” demikian sabda Tuhan. “Tetapi sekarang, inilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel: Aku akan menaruh hukum-Ku dalam akal budi mereka dan menuliskannya dalam hati mereka. Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Ku. Mereka tidak akan lagi mengajar sesama warganya, atau sesama saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar atau pun kecil, akan mengenal Aku. Sebab Aku akan menaruh belas kasihan terhadap kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa-dosa mereka.” Dengan memaklumkan perjanjian yang baru ini, Allah menyatakan bahwa perjanjian yang pertama itu tidak berlaku lagi; dan apa yang sudah tidak berlaku dan telah menjadi usang, telah dekat kepada kemusnahannya.

Perlihatkanlah kepada kami kasih setia-Mu, ya Tuhan, dan berikanlah kami keselamatan-Mu! Sungguh, keselamatan dari Tuhan dekat pada orang-orang takwa, dan kemuliaan-Nya diam di negeri kita.Kasih dan kesetiaan akan bertemu, keadilan dan damai sejahtera akan berpelukan. Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan merunduk dari langit.Tuhan sendiri akan memberikan kesejahteraan, dan negeri kita akan memberi hasil. Keadilan akan berjalan di hadapan-Nya, dan damai akan menyusul di belakang-Nya.

Dalam diri Kristus Allah mendamaikan dunia dengan Diri-Nya dan mempercayakan warta perdamaian kepada kita.

Yesus memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya untuk menyertai Dia.

Pada suatu hari Yesus naik ke atas bukit. Ia memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas rasul untuk menyertai Dia, untuk diutus-Nya memberitakan Injil, dan untuk menerima dari Dia kuasa mengusir setan. Kedua belas orang yang ditetapkan-Nya itu ialah: Simon, yang diberi-Nya nama Petrus, Yakobus anak Zebedeus, dan Yohanes saudaranya, yang keduanya Ia diberi nama Boanerges, yang berarti anak-anak guruh; selanjutnya Andreas, Filipus, Bartolomeus, Matius, Tomas, Yakobus anak Alfeus, Tadeus, Simon orang Zelot, dan Yudas Iskariot yang mengkhianati Dia.

Ketika dalam kehidupan menggereja, kita mendengar kata “panggilan”, maka spontan yang terlintas dalam pikiran kita ialah “orang-orang berjubah” entah itu pastor/romo, frater, bruder maupun suster. Ada suatu kesan umum di antara umat beriman, bahwa yang dimaksud dengan panggilan itu ialah ketika orang memilih jalan hidup khusus menjadi rohaniwan-rohaniwati. Kesan umum ini bisa jadi membuat banyak orang Kristen merasa bahwa tugas mewartakan Injil itu hanya menjadi tugas para rohaniwan-rohaniwati.

Bacaan hari ini mengangkat kisah tentang panggilan murid-murid Yesus. Mereka dipanggil dari latar belakang yang berbeda dengan karakter mereka masing-masing. Mereka dipanggil dengan tugas khusus yaitu menyertai Yesus dan memberitakan Injil. Dalam Kitab Suci dikatakan bahwa ternyata murid-murid Yesus ini tidak hanya dua belas orang saja, tapi ada kelompok besar lain murid-murid Yesus yang juga diutus untuk mewartakan Injil. Sesudah kebangkitan-Nya, Yesus bahkan menyatakan dengan lugas, “pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus”

Kita dipanggil dengan berbagai macam latar belakang dan profesi kita. Kita diberi misi dan tugas yang sama: menyertai Dia dan mewartakan Injil. Tugas ini secara lebih jelas diajarkan oleh Gereja kepada kita, bahwa mereka yang terbaptis menerima martabat imamat rajawi. Kita dipanggil untuk mewartakan Injil dalam tugas sebagai imam, nabi dan raja. Sebagai imam, kita menguduskan diri dan sesama melalui doa-doa dan berbagai tindakan pengudusan. Sebagai nabi, kita diutus untuk mewartakan Injil lewat kata dan tindakan kita, termasuk dengan tegas dan konsisten menyatakan sesuatu sebagai salah atau benar. Sebagai raja, kita diutus untuk memimpin diri dan sesama kita untuk senantiasa mengarahkan hati dan pikiran kepada jalan keselamatan. (ST)

Baca sumber renungan harian Katolik disini

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.