Bacaan dan Renungan Jumat, 19 Juli 2019 Pekan Biasa XV

Hendaknya kalian menyembelih anak domba pada waktu senja.Apabila Aku melihat darah, maka aku akan melewati kalian.


Musa dan Harun telah melakukan segala mujizat di depan Firaun. Tetapi Tuhan mengeraskan hati Firaun,sehingga ia tidak membiarkan orang Israel pergi dari negeri Mesir.


Maka bersabdalah Tuhan kepada Musa dan Harun di tanah Mesir,”Bulan ini akan menjadi permulaan segala bulan bagimu,bulan yang pertama bagimu tiap-tiap tahun.
Katakanlah kepada segenap jemaat Israel,’Pada tanggal sepuluh bulan ini
hendaklah diambil seekor anak domba oleh masing-masing menurut kaum keluarga,
seekor untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk menghabiskan seekor anak domba,maka hendaklah ia bersama-sama dengan tetangga yang terdekat mengambil seekor menurut jumlah jiwa;tentang anak domba itu kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang.


Anak domba itu harus jantan, tidak bercela dan berumur setahun,boleh domba, boleh kambing. Anak domba itu harus kalian kurung sampai tanggal empat belas bulan ini.
Lalu seluruh jemaat Israel yang berkumpul harus menyembelihnya pada senja hari.
Dan darahnya harus diambil sedikit dan dioleskan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas rumah tempat orang makan anak domba itu. Pada malam itu juga
mereka harus makan dagingnya yang dipanggang;daging panggang itu harus mereka makan dengan roti tak beragi dan sayuran pahit. Janganlah kalian memakannya mentah atau direbus dalam air;tetapi hanya dipanggang di api,lengkap dengan kepala, betis dan isi perutnya. Janganlah kalian tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi.Apa yang tinggal sampai pagi harus dibakar habis dalam api. Beginilah kalian memakannya:
pinggang berikat, kaki berkasut dan tongkat ada di tanganmu.Hendaklah kalian memakannya cepat-cepat. Itulah Paskah bagi Tuhan.Sebab pada malam ini Aku akan menjelajahi negeri Mesir,membunuh semua anak sulung,baik anak sulung manusia, maupun anak sulung hewan,dan semua dewata Mesir akan Kujatuhi hukuman, Akulah, Tuhan. Adapun darah domba tersebut menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah tempat kalian tinggal. Apabila Aku melihat darah itu, Aku akan melewati kalian.
Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah kalian pada saat Aku menghukum negeri Mesir. Hari itu harus menjadi hari peringatan bagimu dan kamu harus rayakan
sebagai hari raya bagi Tuhan turun-temurun. Hari itu harus kalian rayakan sebagai suatu ketetapan untuk selama-lamanya.’



Ref:Aku akan mengangkat piala keselamatan dan menyerukan nama Tuhan.

Bagaimana akan kubalas kepada Tuhan segala kebaikan-Nya kepadaku?
Aku akan mengangkat piala keselamatan,dan akan menyerukan nama Tuhan.Sungguh berhargalah di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.
Ya Tuhan, aku hamba-Mu! Aku hamba-Mu, anak dari sahaya-Mu!Engkau telah melepas belengguku!Aku akan mempersembahkan kurban syukur kepada-Mu,dan akan menyerukan nama Tuhan; aku akan membayar nazarku kepada Tuhan di depan seluruh umat-Nya,

Domba-domba-Ku mendengar suara-Ku, sabda Tuhan.Aku mengenal mereka, dan mereka mengenal Aku.



Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.


Pada suatu hari Sabat,Yesus dan murid-murid-Nya berjalan di ladang gandum. Karena lapar murid-murid-Nya memetik bulir gandum dan memakannya.Melihat itu, berkatalah orang-orang Farisi kepada Yesus, “Lihatlah, murid-murid-Mu berbuat sesuatu
yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat.”Tetapi Yesus menjawab,”Tidakkah kalian baca apa yang dilakukan Daud,ketika ia dan para pengikutnya lapar? Ia masuk ke dalam bait Allah,dan mereka semua makan roti sajian yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam. Atau tidakkah kalian baca dalam kitab Taurat,bahwa pada hari-hari Sabat,
imam-imam melanggar hukum Sabat di dalam bait Allah,namun tidak bersalah?
Aku berkata kepadamu: Di sini ada yang melebihi bait Allah. Seandainya kalian memahami maksud sabda ini, ‘Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan,tentu kalian tidak akan menghukum orang yang tidak bersalah.
Sebab Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.”


Apa hal istimewa, sebelum tulah kesepuluh dijatuhkan, yang harus dilakukan umat Israel sebelum mereka dapat menikmati pembebasan yang Allah akan segera laku-kan? Mereka harus melakukan suatu ritual, yang kemudian dinamakan Paskah, dengan iman. Sesuai dengan instruksi di ayat 3-11, mereka harus mempersiapkan diri untuk perayaan Paskah di keluarga masing-masing, dalam keadaan yang siap untuk segera melakukan perjalanan. Satu hal yang penting dalam perayaan Paskah adalah mereka harus menorehkan darah kurban bakaran itu ke ambang pintu setiap rumah keluarga Israel (ayat 7).


Apa yang mereka lakukan itu kelak harus dilakukan ber-ulang-ulang sebagai peringatan atas apa yang Allah akan segera lakukan di hari terakhir itu (ayat 14). Yaitu bagaimana Tuhan menghukum bangsa Mesir, yang memusuhi mereka, dengan cara membinasakan anak-anak sulung keluarga-keluarga Mesir (ayat 12). Sedangkan umat Tuhan diluputkan dari kematian anak sulung oleh karena darah yang ditaruh di ambang pintu rumah-rumah mereka (ayat 13). Jadi peringatan kebebasan sekaligus mengenang kedahsyatan Tuhan menghukum musuh.


Perjamuan Paskah ini harus dirayakan secara berkala, lengkap dengan kelanjutannya, yaitu hari raya “roti tidak beragi” selama tujuh hari. Ritual yang diatur untuk perayaan Paskah maupun lanjutannya sangat penting untuk dihayati oleh generasi selanjutnya. Mereka yang tidak menyaksikan secara langsung bagaimana Tuhan membela dan berperang bagi umat-Nya, melalui ritual ini menyelami, menghayati, bahkan mengulang kembali pengalaman nenek moyang mereka dalam memori bersama mereka.


Gereja merayakan Paskah setahun sekali dalam Misa Agung Paskah dalam rangka menghadirkan kembali peristiwa sejarah keselamatan bagi umat manusia. Yaitu peristiwa Tuhan Yesus bertindak menebus umat-Nya dan mengalahkan musuh utama melalui kema-tian-Nya di kayu salib.


Mazmur ini dibuka dengan ungkapan pemazmur, “Aku mengasihi Tuhan”. Kasih pemazmur ini merupakan respons terhadap kasih Allah yang telah menyendengkan telinga-Nya kepadanya (ayat 2). Ungkapan ini didasari pada pengalamannya dibebaskan dari bahaya maut. Memang tidak disebutkan oleh apa bahaya maut itu disebabkan, tetapi ia merasa sudah tertangkap oleh sang maut (ayat 3). Pemazmur menuturkan bagaimana ia mengalami krisis iman ketika tenggelam dalam penderitaannya. Tidak ada seorang pun yang menolong. Sendiri dalam penderitaan melahirkan kekecewaan yang dalam (ayat 11). Namun, keadaan itu tidak menggoyahkan kepercayaannya kepada Tuhan (ayat 10). Wajar bila pemazmur rindu untuk membalas segala kebaikan Allah. Ia akan mengangkat piala keselamatan, menyerukan nama-Nya (ayat 13), membayar nazarnya di depan umat Allah (ayat 14,18); mempersembahkan kurban syukur kepada Allah. Arti nya, ia ingin hidupnya selalu memuliakan Allah.


Dari pengalaman iman pemazmur bersama Allah ini, kita belajar tiga hal. Pertama, hakikat hidup kita adalah karunia Tuhan semata-mata, dan bernilai kekal. Kedua, hidup kita berharga di mata-Nya. Hal ini makin membuat kita menghayati kehadiran dan keberadaan Allah yang mempedulikan keberadaan umat-Nya. Bahkan tidak akan dibiarkan-Nya kematian menjemput mereka sebelum waktunya (ayat 15). Ketiga, kebaikan Allah yang juga bernilai kekal itu ditanggapi dengan sikap paling mulia, yaitu mengabdi sebagai hamba-Nya, makin mengasihi-Nya untuk selama-selamanya.



Renungkan: Allah mengizinkan kita mengalami “krisis iman” agar kita menyadari dan makin menghayati kasih setia Allah dalam hidup kita.


Dua peristiwa ini menunjuk kepada satu pesan penting tentang inti aturan-aturan agama. Murid-murid Yesus, karena lapar memetik bulir gandum (ayat 1). Perbuatan demikian tidak salah (Ul. 23:25). Yang membuat orang Farisi berang bukan tindakan tersebut melainkan waktu tindakan itu dilakukan. Murid Yesus memetik bulir gandum pada hari Sabat. Murid Yesus tidak melanggar hukum Allah, hanya melanggar hukum agama yang dibentuk orang Farisi. Respons Yesus menunjuk kepada dua peristiwa dalam PL.


Pertama, tindakan Daud (ayat 3-4). Ketika lapar, Daud dan rombongannya mengambil roti sajian Bait Allah. 12 roti sajian itu diletakkan di atas meja di dalam tempat kudus, hanya boleh dimakan oleh imam di tempat kudus karena roti itu kudus. Roti sajian itu diminta Daud dari imam Ahimelekh (ayat 1Sam. 21:1-6). Itu sebenarnya tidak boleh namun kebutuhan manusia lebih penting dari ritual agama (ayat 7, Hos. 6:6).


Kedua, tindakan imam-imam (ayat 5). Aturan dalam Bilangan 28:9, mengatur pekerjaan yang harus para imam lakukan pada hari Sabat. Namun, mereka tidak dianggap bersalah walau melanggar Sabat. Dari kedua peristiwa ini Yesus menegaskan bahwa inti dari peraturan adalah mengutamakan hidup.



Renungkan: Apakah kita beragama sebatas ritual? Apakah kasih kita kepada Tuhan dan sesama terhambat atau justru bertumbuh melaluinya?


DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat menghargai perayaan Ekaristi, melalui Ekaristi ini Engkau menghadirkan karya penebusan-Mu secara penuh. Tunjukkanlah kepadaku bagaimana caranya menghormati hari Sabat umat-Mu sebagai suatu hari pada saat mana Engkau secara istimewa ingin memberikan kepada semua pengikut-Mu ketenangan yang sejati. Amin. (Lucas Margono)

Mat 12:1-8 Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.

Ya Yesus yang maha memahami, semoga aku lebih bisa memilah dan memilih apa yang baik dan berguna bagiku untuk menjadi alat-Mu dalam mewartakan karya keselamatan kasih-Mu. Terlebih bagi mereka yang kelaparan baik jasmani maupun rohani. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.