Bacaan dan Renungan Jumat 12 Juli 2019 Pekan Biasa XIV

Sekarang bolehlah aku mati.


Pada waktu itu berangkatlah Israel dengan segala miliknya, dan ia tiba di Bersyeba.
Lalu dipersembahkannya kurban sembelihan kepada Allah Ishak, ayahnya. Bersabdalah Allah kepada Israel dalam penglihatan waktu malam,”Yakub, Yakub!” Sahutnya, “Ya, Tuhan.” Maka bersabdalah Allah, “Akulah Allah, Allah ayahmu, janganlah takut pergi ke Mesir,sebab Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar di sana. Aku sendiri akan menyertai engkau pergi ke Mesir dan tentulah Aku juga akan membawa engkau kembali;tangan Yusuflah yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti.”


Maka berangkatlah Yakub dari Bersyeba. Anak-anak Israel membawa Yakub, ayah mereka,beserta anak dan isteri mereka,dan mereka naik kereta yang dikirim Firaun untuk menjemput.Mereka juga membawa ternak dan harta benda yang telah diperoleh mereka di tanah Kanaan. Lalu tibalah mereka di Mesir,yakni Yakub dan seluruh keturunannya bersama-sama dengan dia.Anak-anak dan cucunya, laki-laki dan perempuan,seluruh keturunannya dibawanya ke Mesir.


Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dahulu mendapatkan Yusuf,supaya Yusuf datang ke Gosyen menemui ayahnya.Dan sementara itu sampailah mereka ke tanah Gosyen.Lalu Yusuf memasang keretanya dan pergi ke Gosyen,mendapatkan ayahnya, Israel. Ketika Yusuf bertemu dengan ayahnya,dipeluknyalah leher ayahnya dan lama menangis pada bahunya.Berkatalah Israel kepada Yusuf,”Sekarang bolehlah aku mati, setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup.”



Ref:Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan.

Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik,diamlah di negeri dan berlakulah setia;bergembiralah karena Tuhan;maka Ia akan memenuhi keinginan hatimu!Tuhan mengetahui hari hidup orang saleh,dan milik pusaka mereka akan tetap selama-lamanya;mereka tidak akan mendapat malu sewaktu ditimpa kemalangan,dan pada hari-hari kelaparan mereka akan menjadi kenyang.Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik,maka engkau akan memiliki tempat tinggal yang abadi;sebab Tuhan mencintai kebenaran,dan tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya.Orang-orang yang berbuat jahat akan binasa,dan anak cucu orang-orang fasik akan dilenyapkan.Orang-orang benar akan diselamatkan oleh Tuhan;Dialah tempat perlindungan mereka pada waktu kesesakan;Tuhan menolong dan meluputkan mereka dari tangan orang-orang fasik.Tuhan menyelamatkan mereka,sebab mereka berlindung pada-Nya.

Roh Kebenaran akan datang dan mengajar kalian segala kebenaran.
Ia akan mengingatkan segala yang telah Kunyatakan kepadamu.



Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.


Pada suatu hari Yesus bersabda kepada kedua-belas murid-Nya, “Lihat, Aku mengutus kalian seperti domba ke tengah-tengah serigala! Sebab itu hendaklah kalian cerdik seperti ular, dan tulus seperti merpati.


Tetapi waspadalah terhadap semua orang.Sebab ada yang akan menyerahkan kalian kepada majelis agama, dan mereka akan menyesah kalian di rumah ibadatnya. Karena Aku kalian akan digiring ke muka para penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah.Apabila mereka menyerahkan kalian,janganlah kalian kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kalian katakan,karena semuanya itu akan dikurniakan kepadamu pada saat itu juga.
Karena bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu. Dialah yang akan berbicara dalam dirimu.


Orang akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh;demikian pula seorang ayah terhadap anaknya.Anak-anak akan memberontak terhadap orang tuanya dan akan membunuh mereka.Dan kalian akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku.
Tetapi barangsiapa bertahan sampai pada kesudahannya, akan selamat.


Apabila mereka menganiaya kalian di suatu kota,larilah ke kota yang lain.
Aku berkata kepadamu,Sungguh, sebelum kalian selesai mengunjungi kota-kota Israel,
Anak Manusia sudah datang.”


Perikop bacaan pertama, menggabungkan dua tradisi. Menurut tradisi Yahwista Israel berangkat dari Hebron  Kej 37:14 sedangkan  menurut tradisi Elohista Yakub berangkat dari Bersyeba.


Jadi berangkatlah Israel … dan ia tiba di Bersyeba. Hampir dapat dipastikan bahwa pada saat itu Yakub tinggal di Hebron. Perhentian pertama dalam perjalanan pentingnya menuju Mesir tersebut adalah Bersyeba. Di sana ia mempersembahkan kurban dan di sana pula, di dalam sebuah penglihatan malam, Allah berbicara kepadanya, memberinya semangat di dalam perjalanan serta meyakinkan dia tentang berkat-berkat yang tidak terhitung. Pertama, Allah membaharui janji bahwa keturunan Yakub akan menjadi sebuah bangsa yang besar. Allah menjelaskan bahwa di Mesirlah bangsa itu akan bertambah besar jumlahnya. Kedua, Allah mengatakan, “Aku sendiri akan menyertai engkau,” yaitu jaminan perlindungan dan keamanan. Ketiga, Allah juga mengatakan, “Aku juga akan membawa engkau kembali.” Nubuat ini ditentukan untuk digenapi sesudah kematian Yakub, yaitu dalam peristiwa Keluaran ketika mana tangan Allah yang kuat akan membebaskan umat pilihan-Nya dari cengkeraman kuasa Mesir dan membawa mereka kembali ke Kanaan. Pernyataan bahwa Yusuf yang akan mengatupkan kelopak matamu nanti merupakan sebuah nubuat bahwa putra kesayangan itulah yang akan melaksanakan upacara terakhir ketika ayahnya meninggal.


Dengan semangat yang diperoleh dari pesan Tuhan, Yakub berangkat dengan keturunannya dari Bersyeba dan mengadakan perjalanan panjang menuju ke tanah Gosyen. Dia memilih Yehuda untuk maju mendahului rombongan (Yakub menyuruh Yehuda berjalan lebih dulu … mendapatkan Yusuf supaya … datang ke Gosyen), untuk menjumpai Yusuf dan menyelesaikan urusan bagi masuknya mereka ke negeri tersebut (ayat 5-28).


Perjumpaan Yakub dengan Yusuf merupakan saat kegembiraan besar. Keduanya terlalu terharu sehingga tidak sanggup mengatakan apa-apa. Mereka berpelukan lama (ay. 29). Ketika orang tua itu sudah bisa berbicara, dia mengatakan, “Sekarang bolehlah aku mati setelah aku melihat mukamu dan mengetahui bahwa engkau masih hidup” (ay. 30). Dia mengalami puncak sukacita di dalam hidupnya.


Allah sekali lagi berjanji untuk menyertai Yakub dan keturunannya, sambil mengulangi janji bahwa keturunan Yakub akan menjadi bangsa yang besar dan bahwa mereka akan kembali ke Kanaan. Kita semua membutuhkan kepastian akan kasih, perhatian, dan kehadiran Allah selama hidup di bumi ini dan mengalami berbagai kesulitan dan keputusan yang tidak dapat dielakkan di dunia yang berdosa ini. Hal ini juga berlaku bagi kita orang beriman yang sungguh-sungguh berusaha mengikut Tuhan, kita berhak untuk memohon Allah menegaskan kembali kasih dan bimbingan- Nya di dalam kehidupan kita (bd. Yoh 1:12-13).


Mengapa anak Tuhan tidak boleh marah melihat orang fasik? Ini pertanyaan penting untuk kita pikirkan dan renungkan. Tiga kali pemazmur menasihati para pembacanya agar jangan marah kepada orang yang berbuat jahat (ayat 1, 7, 8).


Mungkin kita perlu bertanya lebih dahulu, apa yang menyebabkan anak Tuhan bisa marah atau iri hati terhadap orang jahat? Biasanya karena mereka bebas berbuat jahat, tetapi hidupnya terlihat aman dan terlindungi dari murka Allah. Tampaknya Allah telah bersikap tidak adil. Mengapa orang benar yang justru lebih sering bermasalah dibanding orang jahat?


Pemazmur memberikan beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, orang fasik tidak mungkin bertahan lama dalam keberdosaan mereka (ayat 2, 10, 13, 20). Kejahatan mereka akan segera terbongkar dan hukuman pun akan dijatuhkan Tuhan. Justru kejahatan mereka akan menimpa mereka sendiri (ayat 15). Kedua, kalau kita marah kepada orang fasik, berarti kita akan menjadi sama dengan mereka (ayat 8), karena kemarahan yang tidak terkendali menjadi dosa. Dalam kemarahan yang seperti itu, sebenarnya kita secara tidak langsung menuduh Tuhan telah berpihak kepada orang jahat. Ketiga, Tuhan adalah Allah yang adil. Ia akan bertindak menghukum orang fasik dan membela orang benar (ayat 5-6). Orang benar akan mewarisi bumi ini dan menikmati kesejahteraan (ayat 9, 11, 18-19). Tuhan tahu memelihara umat-Nya. Maka nasihat pemazmur kepada orang benar adalah tetap percaya kepada Tuhan dan menantikan Dia bertindak (ayat 3-4).


Memang kita mudah pesimis dan kecil hati kalau melihat kefasikan merajalela di sekeliling kita. Bahkan sering kali lingkungan kerja kita pun dipenuhi dengan praktek-praktek kefasikan. Saat seperti itu, kita perlu belajar mengarahkan mata rohani kita kepada Tuhan, dengan lebih banyak berdoa dan merenungkan firman Tuhan untuk meneguhkan iman kita bahwa Tuhan masih pegang kendali atas hidup ini.


Berulang kali di mazmur ini, orang benar disebut-sebut akan mewarisi negeri/tanah (ayat 9, 11, 22, 29, 34). Apa maksud mewarisi negeri/tanah?
Di Perjanjian Lama, yang disebut sebagai umat Tuhan adalah bangsa Israel. Kepada mereka, Tuhan telah memberikan tanah Kanaan sebagai tempat tinggal mereka, sesuai dengan janji-Nya kepada Abraham. Jadi mewarisi tanah merupakan tanda bahwa Tuhan menyertai dan memberkati mereka. Dengan tanah yang mereka miliki dan tinggali, mereka bisa membangun kehidupan yang makmur dan sejahtera. Janji Tuhan nyata bagi anak-anak-Nya (ayat 23-26). Namun, bukan hanya Tuhan memberkati dan memelihara mereka lewat tanah yang menjadi sumber kehidupan mereka, mereka juga harus menegakkan keadilan dan kebenaran bagi sesama umat Tuhan, bahkan juga bagi orang-orang asing yang tinggal di antara mereka (ayat 27-29). Mewarisi tanah merupakan anugerah sekaligus tanggung jawab. Ketidaksetiaan mereka dalam menjalankan sisi tanggung jawab itu akan mengakibatkan penghukuman. Salah satu hukuman yang paling keras, yang Tuhan bisa jatuhkan kepada umat-Nya, kalau mereka terus menerus berdosa dengan mengkhianati Tuhan, adalah kehilangan negeri perjanjian dan terbuang ke negeri orang lain (Ul. 28:64-68).


Oleh sebab itu pemazmur mendorong umat Tuhan mempraktikkan hidup yang serasi dengan anugerah-Nya. Orang yang fasik, yang dengan sombong menjalani hidup dengan melawan Tuhan, tak akan memiliki masa depan (ayat 35-36, 38). Sebaliknya orang-orang yang hidup benar akan Tuhan pelihara (ayat 37, 39-40).


Kalau hidup kita saat ini tertekan oleh ulah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan, bertahanlah dalam kesetiaan dan ketekunan iman. Pada waktunya Tuhan akan membalikkan keadaan. Mereka yang jahat justru akan hancur, sedangkan orang yang bersandar pada Tuhan akan menikmati pertolongan dan segala berkat-Nya.


Hidup di tengah-tengah musuh yang siap sedia mengintai dan menerkam sangat menakutkan setiap orang. Gambaran inilah yang Yesus berikan kepada pengikut-Nya. Mereka bagaikan domba-domba yang diutus ke tengah-tengah serigala. Dalam mengemban tugas, ada kemungkinan mereka ditangkap, diadili, dibenci, bahkan dibunuh. Untuk itu Yesus berpesan agar mereka cerdik namun tulus (ayat 16).


Yesus meminta mereka untuk waspada terhadap: majelis agama yang adalah serigala yang bengis (ayat 17); pemerintah, dengan otoritas yang dimilikinya dapat menindas dengan cara yang halus tapi menyakitkan (ayat 18-19); keluarga yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi kita namun bisa menjadi musuh dalam selimut (ayat 22). Semuanya dapat membenci (ayat 22), mengancam (ayat 26), bahkan membunuh tubuh meskipun tidak dapat membinasakan jiwa (ayat 28). Lalu, perlukah para murid takut dan kuatir menghadapi semua ancaman tersebut? Yesus menggambarkan bahwa Allah sangat peduli terhadap mereka karena mereka lebih berharga di mata-Nya dibandingkan dengan burung pipit (ayat 29-31). Oleh karena itu, mereka tidak perlu takut dan kuatir menghadapi kesulitan dan ancaman. Dia berjanji akan memperlengkapi dengan kekuatan, kemampuan, dan perlindungan karena mereka sangat berharga di mata-Nya. Namun, tidak berarti Allah akan mencegah terjadinya kesulitan dalam diri kita. Itu adalah ujian bagi kita sebagai pengikut Yesus yang sejati untuk bertahan menghadapi tekanan hidup sehari-hari.


Sampai saat ini pun mengikut dan menaati Yesus serta memberitakan Dia selalu membangkitkan berbagai perlawanan. Mengingat tugas dan tantangan berat yang harus dihadapi, maka kesetiaan dan keberanian mutlak diperlukan. Mereka yang menghadapi segala kesulitan dan bertahan sampai akhir akan menerima penghargaan yang mulia dari Allah.



Tekadku: Walau tekanan menghadang, aku akan bertahan sampai akhir dengan anugerah Allah.


DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah aku agar mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Amin. (Lucas Margono)

Mat 10:16-23 Bukan kalian yang akan berbicara, melainkan Roh Bapamu.

Tuhan, sering kali aku mengeluh dan ingin menyerah dalam menghadapi tantangan dalam tugas dan karyaku. Aku mohon terang roh kudus-Mu untuk memampukan aku menyelesaikan apa yang baik yang sudah aku mulai dalam setiap langkah dan karyaku setiap hari. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.