Bacaan dan Renungan Jumat 12 Februari 2021 Pekan Biasa V

Kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

Ular adalah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan Tuhan Allah. Ular itu berkata kepada wanita, “Tentulah Allah bersabda, ‘Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Wanita itu menjawab, “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan. Tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah taman, Allah bersabda: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.” Tetapi ular itu berkata kepada wanita itu, “Sekali-kali kamu tidak akan mati! Tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya, matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Maka ia mengambil buah itu, lalu dimakan, dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia;
dan suaminya pun memakannya. Maka terbukalah mata mereka berdua, dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.

Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.


Ref: Berbahagialah orang, yang pelanggarannya diampuni.

Berbahagialah orang yang pelanggarannya diampuni, dan dosa-dosanya ditutupi! Berbahagialah orang, yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan tidak berjiwa penipu!Akhirnya dosa-dosaku kuungkapkan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata “Aku akan menghadap Tuhan, dan mengakui segala pelanggaranku.” Maka Engkau sudah mengampuni kesalahanku.Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi ditimpa kesesakan; kendati banjir besar terjadi, ia tidak akan terlanda.Engkaulah persembunyian bagiku, ya Tuhan! Engkau menjagaku terhadap kesesakan Engkau melindungi aku, sehingga aku luput dan bersorak.

Ya Allah, bukalah hati kami, agar kami memperhatikan sabda Anak-Mu.


Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya bicara.

Pada waktu itu Yesus meninggalkan daerah Tirus, dan lewat Sidon pergi ke Danau Galilea, di tengah-tengah daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang tuli dan gagap dan memohon supaya Yesus meletakkan tangan-Nya atas orang itu. Maka Yesus memisahkan dia dari orang banyak, sehingga mereka sendirian. Kemudian Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus menarik nafas dan berkata kepadanya, “Effata!”, artinya: Terbukalah! Maka terbukalah telinga orang itu dan seketika itu terlepas pulalah pengikat lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada orang-orang yang ada di situ supaya jangan menceriterakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya mereka, makin luas mereka memberitakannya. Mereka takjub dan tercengang dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik! Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berbicara.”

Efata: terbukalah! Penyakit dan dosa menyebabkan manusia secara fisik dan batin tertutup. Tertutup kepada yang baik, kepada Tuhan, dan kepada lingkungan fisik dan sosial di sekitarnya. Tuli dan bisu demikian keadaan seseorang yang dibawa kepada Yesus. Orang itu menjadi seperti orang dalam penjara. Yesus membuka penjara fisik dan batin orang tersebut, dan dia berada dalam dunia bebas. Yang menarik adalah Yesus menggunakan ludah. Ludah, meludahi sering menjadi ekspresi menghina, mencibir, merendahkan orang. Akan tetapi, Yesus meludahi untuk menyembuhkan dan memuliakan sesama.

Ucapan Yesus “Efata” dan tindakan-Nya meludahi tanah dan mengolesi telinga si tuli adalah juga tindakan menyembuhkan dan melindungi dari kekuatan jahat, Si Iblis yang selalu menggoda manusia. Godaan setan telah terjadi pada manusia pertama. Setan selalu mau memisahkan kita dari Tuhan dengan cara membuat kita mencurigai perintah Tuhan dan melawan-Nya. Itu yang terjadi pada Adam dan Hawa yang dikisahkan dalam bacaan pertama. Ketika mulut, mata, telinga dan hati kita tertutup terhadap Tuhan dan perintah-Nya, maka kita dengan mudah mengikuti bujukan dan godaan setan. Maka sabda Yesus hari ini, “Efata”, “Terbukalah” menjadi sangat penting.


Ya Tuhan, jamalah mata, telinga, mulut, rasa dan hati kami agar selalu terbuka kepada Dikau, sehingga kami dijauhkan dari bujukan si jahat dan disembuhkan dari segala macam kelmeahan dan penyakit. Amin.


Renungan diambil dari Ziarah Batin 2021



Mrk 7:31-37
Yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya bicara.


Baca sumber renungan harian Katolik disini

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.