Bacaan dan Renungan Jumat, 05 April 2019 – Pekan Prapaskah IV

“Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati yang keji terhadapnya.”


2:1 Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: “Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab; seseorang yang kembali dari dunia orang mati tidak dikenal. 2:12 Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. 2:13 Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan. 2:14 Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. 2:15 Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. 2:16 Kita dianggap olehnya sebagai orang yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah. 2:17 Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. 2:18 Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. 2:19 Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. 2:20 Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.” 2:21 Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. 2:22 Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.



Ref. Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.

Wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan akan mereka dari muka bumi. Apabila orang benar itu berseru-seru, Tuhan mendengarkan; dari segala kesesakannya mereka Ia lepaskan.Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar memang banyak, tetapi Tuhan melepaskan dia dari semuanya itu.Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah. Tuhan membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya, dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

Ref. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal
Ayat. (bdk. Mat 4:4)



Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.



“Orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”


7:1 Sesudah itu Yesus berjalan keliling Galilea, sebab Ia tidak mau tetap tinggal di Yudea, karena di sana orang-orang Yahudi berusaha untuk membunuh-Nya. 7:2 Ketika itu sudah dekat hari raya orang Yahudi, yaitu hari raya Pondok Daun. 7:10 Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. 7:25 Beberapa orang Yerusalem berkata: “Bukankah Dia ini yang mereka mau bunuh? 7:26 Dan lihatlah, Ia berbicara dengan leluasa dan mereka tidak mengatakan apa-apa kepada-Nya. Mungkinkah pemimpin kita benar-benar sudah tahu, bahwa Ia adalah Kristus? 7:27 Tetapi tentang orang ini kita tahu dari mana asal-Nya, tetapi bilamana Kristus datang, tidak ada seorangpun yang tahu dari mana asal-Nya.” 7:28 Waktu Yesus mengajar di Bait Allah, Ia berseru: “Memang Aku kamu kenal dan kamu tahu dari mana asal-Ku; namun Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal. 7:29 Aku kenal Dia, sebab Aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus Aku.” 7:30 Mereka berusaha menangkap Dia, tetapi tidak ada seorangpun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.


“Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan” (Keb 2:12-13).


Orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur memang akan menghadapi aneka masalah, tantangan atau hambatan., dihadang oleh oknum-oknum tertentu, yang dibayar oleh orang berduit atau yang gila akan kekuasaan, harta benda dan kehormatan duniawi. Bukankah hal macam ini akhir-akhir ini juga terjadi di negeri kita yang tercinta ini, dimana para tokoh yang berduit dan serakah akan kekuasaan, harta benda serta kehormatan dunia dengan uangnya membayari preman-preman untuk menimbulkan kekacauan dan kerusuhan, guna menakut-nakuti orang-orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur? Orang yang bersikap mental materialistis memang tidak memiliki cintakasih dan tidak manusiawi. Mereka juga sering memutar-balikkan perkara dan kebenaran. Kami berharap kepada semua umat beriman untuk tetap setia pada imannya serta menghayati imannya dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari; demikian juga kami berharap kepada para poltikus atau tokoh-tokoh hidup bermsayarakat, berbangsa dan bernegara untuk menjiwai sepak terjang dan pelayanan dengan iman, dan secara konkret senantiasa berlaku adil, benar dan baik. Marilah kita tidak malu menghayati diri sebagai `anak Tuhan’, artinya orang yang senantiasa melaksanakan kehendak dan perintah Tuhan di dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari.


“Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya. Kemalangan orang benar banyak, tetapi TUHAN melepaskan dia dari berbagai kejahatan.


Kebijaksanaan sulit diperoleh. Orang-orang sesat tidak punya kebijaksanaan. Mereka justru mencobai orang baik yang membawa kebenaran. “Maka, mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni.” (Keb 2:22).


Kebenaran memberi dua akibat seperti koin mata uang. Di satu sisi dapat memberikan kebahagiaan, tapi si sisi lain memberikan penderitaan. Orang-orang jahat akan menutupi kebenaran, sehingga Tuhan menghukum mereka. Sedangkan orang-orang baik senantiasa bersaksi bagi kebenaran.


Dalam Kitab ini ditunjukkan bagaimana reaksi orang jahat terhadap orang baik, di mana ketidakbersalahannya akan mengungkap dosa-dosa mereka. Dengan menyatakan dirinya sebagai anak Tuhan/Allah, maka orang-orang memandang-Nya sebagai suatu beban “sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah laku-Nya”. “Orang benar” ini akan mengalami aniaya dan siksa, dan dirinya pun akan dijatuhi hukuman mati keji (Keb 2:20). Sungguh suatu “ramalan” yang jitu bagaimana orang-orang akan bereaksi terhadap Yesus!


Hikmat-kebijaksanaan khusus apakah yang dimiliki Yesus, sehingga memampukan diri-Nya untuk hidup secara berbeda dengan kebanyakan orang lain? Yesus begitu yakin akan kasih dan perlindungan Bapa-Nya, sehingga Dia mampu menemui orang-orang dan memberikan kasih Allah Bapa kepada mereka semua – bahkan mereka yang menentang-Nya, melawan-Nya, memusuhi-Nya. Yesus adalah puncak kepenuhan nubuat sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Hikmat-Nya adalah buah dari pengenalan-Nya akan kasih Bapa surgawi, menaruh kepercayaan pada kasih itu, dan berkeinginan untuk membagikan kasih itu dengan setiap orang. Yesus tidak pernah goyah dalam menjalani panggilan-Nya untuk mewujudkan penebusan bagi kita semua.


Menjadi orang benar tentu bukan terjadi karena usaha sendiri, melainkan karena anugerah Tuhan. Namun hidup senantiasa sebagai orang benar yang mempraktikkan kebenaran, merupakan seni yang harus terus menerus dipelajari dan diterapkan sejak awal kehidupan.


Pemazmur menasihati anak-anak muda agar mereka belajar hidup takut akan Tuhan sejak dini. Takut akan Tuhan berarti menjadikan karakter Tuhan sebagai cerminan hidup. Itu berarti kata-kata dan tindakan mereka harus sesuai dengan kekudusan Tuhan.


Pemazmur memaparkan akibat hidup takut akan Tuhan, yaitu berumur panjang untuk menikmati kebaikan-Nya. Menikmati kebaikan Tuhan bukan berarti tidak akan mengalami masalah apa-apa. Pemazmur dengan jelas menyebut bahwa orang benar bisa saja mengalami penderitaan (ayat 20). Penderitaan apa saja yang bisa dialami orang benar? Penderitaan fisik maupun penderitaan batin  karena melihat dan mengalami kejahatan yang merajalela di dunia ini. Kalau begitu, kebaikan Tuhan seperti apa yang bisa dirasakan di tengah penderitaan? Pertama, mengalami pertolongan Tuhan tepat pada waktu-Nya sehingga penderitaan yang dialami tidak sampai menghancurkan atau membinasakan anak Tuhan (ayat 18, 21).  karena melihat dan mengalami kejahatan yang merajalela di dunia ini. Kalau begitu, kebaikan Tuhan seperti apa yang bisa dirasakan di tengah penderitaan? Pertama, mengalami pertolongan Tuhan tepat pada waktu-Nya sehingga penderitaan yang dialami tidak sampai menghancurkan atau membinasakan anak Tuhan . Kejahatan mereka tidak langgeng bahkan bisa berbalik menghancurkan mereka.


Karena dunia ini jahat dan bertolak belakang dalam segala hal dengan hidup orang benar, maka anak-anak Tuhan akan senantiasa mengalami masalah. Baik masalah yang secara otomatis mengganggu kita karena cara hidup kita yang melawan cara dunia ini, maupun yang secara sengaja dikenakan kepada kita untuk menekan dan menghancurkan iman kita. Alamilah kebaikan Tuhan dengan melihat pertolongan-Nya pada waktu-Nya dan lihatlah bagaimana Tuhan membalikkan kejahatan menimpa pelakunya.


Yesus bekerja bukan untuk mencari popularitas. Juga bukan untuk mengikuti kemauan banyak orang. Sebaliknya Ia senantiasa bekerja menuruti kehendak Bapa.


Hari Pondok Daun adalah hari berkumpulnya orang Yahudi di Bait Allah untuk mengucap syukur atas hasil panen. Sangat banyak orang yang akan hadir di sana. Saudara-saudara Yesus mendorong Dia menggunakan kesempatan itu untuk menampakkan diri kepada dunia. Mereka berkata demikian bukan karena ingin memotivasi Yesus, sebab mereka sendiri tidak percaya kepada Dia. Mereka mungkin hanya menyindir. Yesus memang tidak pergi karena tahu bahwa Ia harus melakukan segala sesuatu sesuai waktu yang Bapa tetapkan. Ia tidak mau mendahului waktu yang Bapa tetapkan sebab ada pekerjaan yang Dia harus lakukan, yaitu memberi kesaksian tentang pekerjaan-pekerjaan dunia yang jahat. Karena itulah Ia akan dibenci.


Walau tidak pergi bersama saudaranya, Yesus berangkat juga ke Bait Allah. Bukan karena Yesus terbujuk oleh saudara-saudara-Nya. Ia datang karena sebagai orang Yahudi, Ia patut ambil bagian dalam perayaan tsb. Untuk tidak menimbulkan kejutan, Ia datang diam-diam (ayat 10). Ternyata di sana, gaung popularitas Yesus sampai juga. Meski tidak berani bicara keras-keras karena takut terhadap orang-orang Yahudi, orang banyak tetap membicarakan Yesus. Opini publik terbagi dua. Ada yang menyebut Dia orang baik. Pendapat ini muncul mungkin karena telah melihat kebaikan yang Yesus lakukan kepada orang-orang sakit dan kepada semua orang yang memerlukan pertolongan. Namun ada juga yang tidak setuju. Mereka mencap Dia sebagai penyesat rakyat.


Bila Anda berada di tengah-tengah mereka saat itu, termasuk kelompok yang manakah Anda? Bila Anda berada di tengah-tengah ancaman, kelompok yang manakah Anda? Percaya Yesus dan mengikut Dia memang membuat kita harus menentukan sikap dan berani berbeda sikap dari orang-orang di sekitar kita. Beranikah Anda?


Mengetahui namun tidak mengenal. Kebanyakan orang Yahudi pada masa itu, beranggapan bahwa mereka mengetahui asal-usul Tuhan Yesus tetapi darimana asal-Nya mereka tidak tahu (27). Itulah sebabnya mereka menolak untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Padahal sebenarnya pengetahuan mereka tentang asal-usul Tuhan Yesus itu pun tidak benar. Mereka tidak mengetahui bahwa Tuhan Yesus diutus oleh Bapa-Nya. Begitu banyak orang dari masa ke masa mempunyai pengetahuan yang salah tentang Tuhan Yesus. Akibatnya mereka tidak mengenal dan tidak percaya kepada-Nya. Betapa menyedihkan!


Mencari namun tidak menemukan. Kecemasan mulai timbul ketika Tuhan Yesus mengatakan akan datang saatnya, mereka akan mencari Dia, namun tidak menemukan-Nya. Kehadiran Yesus sebagai manusia di dunia tidak untuk selamaNya, karena Dia akan kembali kepada Bapa di surga, setelah menyelesaikan misi-Nya sebagai Juruselamat. Bila kita tidak sungguh rindu mengenal Dia dalam kebenaran-Nya, akan datang saatnya, kita tidak lagi dapat menemukan Dia. Karena itu carilah Tuhan, selama dia berkenan di temui (bdk. Yes 55:6)



Renungkan: Apakah saya sudah mengenal dan bertemu Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saya sejati?


Doa: Ya Tuhan Yesus ajarlah aku untuk dapat bersyukur di setiap peristiwa dan pengalaman hidup yang kualami agar aku semakin merasakan cinta kasih-Mu yang tak terhingga dan kami rindu mengenal-Mu dengan sesungguhnya. Amin. (Lucas Margono)


Yohanes 7:1-2.10.25-30 “Orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”

Yohanes 7:1-2.10.25-30 “Orang-orang Farisi berusaha menangkap Yesus, tetapi tidak ada seorang pun yang menyentuh Dia, sebab saat-Nya belum tiba.”

Ya Tuhan Yesus,berilah aku kebijaksanaan,supaya aku mampu mengenal diriku,sesama,dan Engkau sendiri. Dengan itu aku dapat memperoleh kebenaran,keadilan,dan kedamaian. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.