Bacaan dan Renungan Jumat 01 Maret – Pekan Biasa VII

Warna Liturgi: Hijau



Sahabat yang setia tiada ternilai.


Pembacaan dari Kitab Putera Sirakh:


Tutur kata yang manis mendapat banyak sahabat,dan keramahan diperbanyak oleh lidah yang manis lembut. Mudah-mudahan banyak orang berdamai denganmu,
tetapi dari antara seribu hanya satu saja menjadi penasehatmu.Jika engkau mau mendapat sahabat, ujilah dia dahulu,dan jangan segera percaya padanya.
Sebab ada orang yang bersahabat hanya selama menguntungkan,tetapi di kala engkau mendapat kesukaran, ia tidak bertahan.


Ada juga sahabat yang berubah menjadi musuh,lalu menistakan dikau dengan menceriterakan percekcokanmu dengan dia. Ada lagi sahabat yang ikut serta dalam perjamuan makan,tetapi tidak bertahan pada hari kemalanganmu.Pada waktu engkau sejahtera ia sehati sejiwa dengan dikau dan bergaul akrab dengan seisi rumahmu.
Tetapi bila engkau mundur ia berbalik melawan dikau serta menyembunyikan diri terhadapmu.


Jauhilah para musuhmu,dan berhati-hatilah terhadap para sahabatmu.Sahabat yang setia merupakan pelindung yang kuat;yang menemukannya, menemukan suatu harta.
Sahabat yang setia, tiada ternilai,dan harganya tiada terbayar.


Sahabat yang setia laksana obat kehidupan;hanya orang yang takwa akan memperolehnya.Orang yang takwa memelihara persahabatan dengan lurus hati,
sebab sebagaimana ia sendiri, demikianpun sahabatnya.



Ref:Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu.

Terpujilah Engkau, ya Tuhan;ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.Ketetapan-ketetapan-Mu akan menjadi sumber sukacitaku,firman-Mu tidak akan kulupakan.Singkapkanlah mataku,supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari hukum-Mu.Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu,supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.Buatlah aku mengerti, maka aku akan memegang hukum-Mu;dengan segenap hati aku hendak memeliharanya.Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu,sebab aku menyukainya.

Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran.Kuduskanlah kami dalam kebenaran.



Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.


Inilah Injil Yesus Kristus menurut Markus:


Pada suatu hari Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang sungai Yordan.di situ orang banyak datang mengerumuni Dia, dan seperti biasa Yesus mengajar mereka. Maka datanglah orang-orang Farisi hendak mencobai Yesus.Mereka bertanya,
“Bolehkah seorang suami menceraikan isterinya?”Tetapi Yesus menjawab kepada mereka,”Apa perintah Musa kepada kamu?”Mereka menjawab,”Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.”


Lalu Yesus berkata kepada mereka,”Karena ketegaran hatimulah Musa menulis perintah untukmu.Sebab pada awal dunia, Allah menjadikan mereka pria dan wanita;karena itu pria meninggalkan ibu bapanya dan bersatu dengan isterinya.Keduanya lalu menjadi satu daging. Mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu apa yang dipersatukan Allah,janganlah diceraikan manusia.”


Setelah mereka tiba di rumah, para murid bertanya pula tentang hal itu kepada Yesus. Lalu Yesus berkata kepada mereka,”Barangsiapa menceraikan isterinya lalu kawin dengan wanita lain, ia hidup dalam perzinahan terhadap isterinya itu.Dan jika isteri menceraikan suaminya dan kawin dengan pria yang lain,ia berbuat zinah.”


Salah satu topik penting yang terus dibicarakan dan diperdebatkan di kalangan Kristen adalah perceraian. Dari dulu, gereja menggumuli bagaimana mengatasi persoalan ini. Namun, persoalan ini semakin pelik dan sulit dicarikan titik temunya karena masing-masing gereja memiliki persepsi sendiri. Bagaimana Alkitab memandang hal ini?


Dengan tujuan hendak menguji apakah Yesus sepandangan dengan Musa, orang Farisi bertanya tentang perceraian. Namun usaha pengujian ini menjadi sia-sia karena ternyata Yesus justru balik bertanya mengenai apa yang Musa perintahkan. Kemungkinan besar, Yesus sudah tahu maksud orang-orang Farisi yang ingin mengadunya dengan pandangan Musa. Tetapi, orang-orang Farisi itu tidak menjawab apa yang diperintahkan tetapi apa yang diperbolehkan Musa. Memang, menurut Ulangan 24:1, Musa memperbolehkan perceraian dengan syarat ada surat perceraian. Yesus tidak menyangkal hal itu, tetapi ketentuan itu diberikan bukan berdasarkan perintah Allah, yang diberikan sejak awal penciptaan, tetapi untuk memuaskan kedegilan hati orang-orang zaman itu.


Yesus menjelaskan dua hal penting tentang cita-cita Allah menciptakan laki-laki dan perempuan (lih. Kej. 1:27 dan 2:24). Pertama, pernikahan adalah rencana Allah. Di dalamnya laki-laki dan perempuan hidup dalam suatu persekutuan yang tak terpisahkan, saling berbagi, saling mengisi, saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing, dan harus berlangsung seumur hidup. Kedua, laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya untuk menjadi “satu daging” dengan istrinya. Artinya, mereka berada dalam persekutuan hidup yang utuh dan permanen. Karena itu tidak mungkin dipisahkan, bahkan dengan alasan apa pun!



Renungkan: Pernikahan Anda dengan istri atau suami Anda adalah cita-cita Allah untuk Anda. Karena itu peliharalah perkawinan Anda sebagai bentuk syukur Anda kepada Allah.


DOA: Tuhan Yesus, aku mohon ampun untuk cara-caraku yang telah menyebabkan perpecahan di dalam tubuh-Mu. Ampunilah sikap tidak berterima kasih yang kupertontonkan selama ini. Dalam belas kasih-Mu, sembuhkanlah kerusakan apa saja yang telah kusebabkan. Dengan bebas aku juga mengampuni semua orang yang pernah menggerutu terhadap aku. Aku ingin agar semua relasiku bertandakan belas kasih dan cintakasih dari-Mu saja. Amin. (Lucas Margono)


 

Yang dipersatukan Allah, janganlah diceraikan manusia.

Allah Bapa yang berbelas kasih,sanggupkanlah aku untuk hidup dalam kesetiaan akan nilai-nilai injil, dan akan apa yang kupilih untuk dihidupi. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: