Bacaan dan Renungan 17 Februari 2019|Hari Minggu Biasa VI

Beginilah firman Tuhan: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan!
Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.


Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan!
Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.


R:40:5a



Berbahagialah orang yang mengandalkan Tuhan.

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik,yang tidak berdiri di jalan orang berdosa,dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh;
tetapi yang kesukaannya ialah hukum Tuhan,dan siang malam merenungkannya.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,yang menghasilkan buah pada musimnya,dan tak pernah layu;apa saja yang diperbuatnya berhasil.Bukan demikianlah orang-orang fasik:mereka seperti sekam yang ditiup angin.
Sebab Tuhan mengenal jalan orang benar,tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati?


Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan.
Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.


Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus.
Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia.


Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.


Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.
Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.


Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.
Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.


Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”


Apa atau siapa sesungguhnya sumber hidup kita? Jangan lekas mengatakan Tuhan! Mari jujur melihat kedalam diri, bagaimana kita hidup sehari-hari. Apa yang paling kita kejar? Apa yang paling kita utamakan? jika kita sudah mengutamakan Tuhan, pastilah kita memberikan waktu terbaik untuk-Nya. Kalau mau jujur, sesungguhnya kita hanya menggunakan waktu-waktu sisa untuk menjalin relasi dengan Tuhan. Sabda Tuhan pada hari ini mengingatkan dengan jelas hidup ini. Hidup kita menjadi bermakna dalam Tuhan. Hidup kita pula akan berbuah segar dalam Tuhan. “Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak khawatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah, “kata Nabi Yeremia.


Injil hari ini mengungkapkan rahasia hidup bahagia. Kebahagian hidup tampaknya tidak terletak pada kesuksesan atau keberlimpahan. Rahasia hidup bahagia rupanya ada relasi yang terjalin dengan Tuhan. Dalam kelimpahan dan kesuksesannya, manusia kerap mengandalkan diri sendiri. Sedangkan dalam kekurangannya, manusia justru lebih mengandalkan sesama dan Tuhan. Hal terakhir ininilah yang memungkinkannya untuk berbahagia dan menikmati hidup.


Luk 6:17.20-26


Sumber Renungan:Ziarah Batin 2019, Halaman Minggu, 17 Februari 2019



Tuhan, semoga aku senantiasa bijaksana dalam segala usaha dan perjuanganku. Semoga apa yang kucari akhirnya adalah apa yang Engkau kehendaki untukku. Amin


Sumber: Carekaindo.wordpress.com

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: