Babak Baru Keuskupan Bandung: Peran Lembaga Pendidikan Khususnya Unpar (3)

Unpar Bandung

SALAH satu warisan Mgr. Artnz OSC yang sangat penting adalah Universitas Katolik Parahyangan yang usianya sudah melewati 59 tahun. Mungkinkah Unpar berubah menjadi universitas masa depan? Apakah mungkin selain OSC, Unpar juga melibatkan tarekat lain?

Dulu ada tiga orang OFM yaitu Mgr. Geise OFM (antropologi), Pater W.Hofsteede OFM (sosiologi), dan Pater MAW Brouwer OFM (psikologi) dan beberapa mantan imam Jesuit yang pernah mewarnai Unpar (Pak Poespoprodjo dan Pak Frans Wiryanto Yomo dalam bidang filsafat).

Apakah Unpar mungkin menggandeng tarekat lain (OP pernah menjajaki)?

Keuskupan Surabaya misalnya meminta bantuan OP untuk perguruan tinggi dan SDB untuk SMK. Semoga Unpar tidak lupa misi Unpar yang digagas pendiri Unpar yaitu Mgr. Geise OFM sebagai agen transformasi masyarakat.

Apakah Unpar mungkin misalnya membuka program-program studi yang baru yang sesuai kebutuhan masa depan. Misalnya saja Sophia University di Jepang yang dikelola SJ membuka 10 program studi pascasarjana dalam bidang Global Enviromental Studies, antara lain green economy, hukum lingkungan hidup, green science, green technology, dll.

Peran Keuskupan Bogor dan Keuskupan Bandung juga perlu ditingkatkan sebagai dua keuskupan yang uskupnya adalah pendiri Unpar.

Selain Unpar, ingat bahwa Keuskupan Bandung juga memiliki beberapa yayasan pendidikan yaitu Yayasan Salib Suci (termasuk Yayasan Putra Nirmala dan Yayasan Marga Asah Talenta), Yayasan Mardiwinaya-Satya Winaya (Aloysius), dan Yayasan Melania (selain sekolah juga punya lembaga kesehatan dan perawatan anak). Semoga semua lembaga pendidikan milik Keuskupan Bandung dikelola mereka yang sungguh mempunyai jiwa dan kompetensi dalam bidang pendidikan.

PR Mgr. Pujasumarta yang belum terlaksana adalah didirikannya SMK.

Peran di bidang  kesehatan
Warisan Keuskupan Bandung yang juga sangat penting adalah lembaga kesehatan yang dikelola PPSB (Borromeus) termasuk STIKES dan JPKM. Di berbagai daerah RS Katolik semakin menurun mutunya dan ditinggalkan masyarakat. Semoga Borromeus tidak mengalami yang seperti itu.

Maka evaluasi, peningkatan kualitas SDM, dll perlu dipikirkan serius. Yang penting adalah bagaimana bagaimana menghadirkan pelayanan kesehatan di daerah-daerah dengan RS yang kecil atau menengah. Di dekat Cirebon misalnya ada dokter Katolik (Dr. Suwanta) yang berhasil membuka RS yang sangat bagus. Mengapa tidak ada kerjasama dengan Borromeus? Mengapa Borromeus tidak sungguh memikirkan membuka cabang-cabang di semua daerah selain di Cigugur?

Lebih terlibat dalam Masyakarat
Sebagai Uskup KAJ, Mgr. Ignatius Suharyo sering mengatakan ada dua prioritas penting dimana Gereja harus terlibat yaitu pendidikan nilai dan lingkungan hidup. Kiranya kedua bidang itu perlu dipikirkan secara lebih serius dan kongkret. Bagaimana seluruh lembaga pendidikan kita terlibat dalam revolusi mental sebagaimana dicanangkan oleh salah seorang calon presiden kita? Seluruh lembaga pendidikan artinya harus mengedepankan pendidikan nilai atau pendidikan karakter.

Bagaimana juga dengan keterlibatan gereja dalam bidang lingkungan hidup? Hanya satu paroki di Sukajadi yang baru saja mempunyai komunitas lingkungan hidup. Di KAJ hampir setiap paroki punya seksi pendidikan dan seksi lingkungan hidup. Bagaimana kerja sama dengan Gema Pelikan, Semanggi, dan Eco Camp yang sebagian pendirinya adalah umat Katolik namun merupakan lembaga lingkungan hidup yang terbuka dan bersifat lintas agama?

Bidang lain yang juga penting adalah kebudayaan.

Keuskupan Bandung punya dua profesor, yaitu Prof. Jakob Soemardjo (sebenarnya ahli sejarah) dan Prof. Ign. Bambang Sugiharto (sebenarnya ahli filsafat) yang aktif dalam bidang kebudayaan termasuk sastra. Mungkinkah kita memikirkan agar Unpar membangun Pusat Kebudayaan dan menyiapkan orang-orang yang kompeten dan mencintai kebudayaan? Mungkinkan Unpar misalnya membangun gedung kebudayaan yang bisa mengakomodasi kegiatan kebudayaan, seni, sastra, teater, musik,lukis, dll semacam TIM di Jakarta?

Ketika berbagai lembaga dan perusahaan membangun mall dan convention center, sebaiknya Keuskupan Bandung lewat Unpar masuk jauh ke dalam bidang kebudayaan agar bisa memberi kontribusi bagi masyarakat.

Penutup
Demikian beberapa catatan yang muncul spontan karena terus membayangkan dan memimpikan Keuskupan Bandung sebagai Gereja yang makin mengakar, mekar, berbuah, dan berbunga bagi masyarakat di Jawa Barat bahkan Indonesia. Untuk menuju impian kita, kita harus bekerja sama.

Pengalaman masa lalu menjadi pelajaran berharga. Dinamika sekarang kita hargai. Namun perspektif masa depan harus kita pakai sebagai arah agar kita tidak berjalan mundur atau berputar-putar jalan di tempat.

Mari kita doakan Keuskupan Bandung. Mari kita bekerja keras untuk mengembangkan Keuskupan Bandung yang memasuki babak baru di bawah pimpinan uskup yang baru.
Selamat.

Keterangan foto: Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) di Bandung (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.