Babak Baru Keuskupan Bandung: Peran Historis OSC di Keuskupan Bandung (2)

Kumpulan para pastor

SEJARAH Keuskupan Bandung dimulai di Cirebon di mana terdapat beberapa umat Katolik orang Belanda yang bekerja di perkebunan. Mereka dilayani imam-imam dari Batavia. Tahun 1871 Mgr. AC Claessens, Vikaris Apostolik Batavia, membutuhkan waktu 36 jam dari Batavia, melalui pengunungan di Priangan untuk menuju Cirebon dengan naik kereta yang ditarik kuda untuk memberikan sakramen pengurapan orang sakit.

Imam pertama yang menetap di Cirebon mulai tahun 1878 adalah seorang imam diosesan dari Belanda yaitu Pastor Adolphus Philippus Caspar van Moosel. Gereja pertama di Keuskupan Bandung yaitu Gereja St. Yusuf di Cirebon diresmikan 10 November 1880 oleh Mgr. AC Claessens. Pastor van Moorsel melayani umat sampai tahun 1886. Ia pulang ke Eindhoven, Belanda. Ia digantikan imam-imam Serikat Yesus (Jesuit) yang antara lain membangun Gereja St. Ignatius di Cimahi (1908), Gereja St. Maria di Garut (1917), dan Gereja Katedral St.Petrus di Bandung (1922).

Baru tahun 1927 tiga imam OSC pertama datang di Bandung. Gereja pertama yang dibangun OSC adalah Gereja Salib Suci Kamuning di Bandung yang diresmikan tahun 1929.

Sejak tahun 1927 itulah sejarah Keuskupan Bandung tidak bisa dilepaskan dari peran OSC. Mayoritas imam yang bekerja di Keuskupan Bandung adalah OSC. Hampir 70 anggota OSC masih tinggal dan berkarya di Keuskupan Bandung. Ada 8 paroki dari 23 paroki dilayani OSC. Hampir semua lembaga milik Keuskupan Bandung, yaitu lembaga kesehatan (Borromeus) dan lembaga pendidikan (Salib Suci, Aloysius, Unpar) dilayani imam-imam OSC.

Kongregasi religius lain di Keuskupan Bandung

Masih ada beberapa imam SSCC, SMM, dan OAD yang bekerja di wilayah Keuskupan Bandung. SSCC melayani dua paroki. SMM hanya mempunyai satu imam yang bekerja sebagai pastor pembantu di Cirebon selain mempunyai provinsialat di Bandung. OAD hanya mempunyai rumah studi. Dapat disimpulkan bahwa dinamika dan perkembangan Keuskupan Bandung selama ini dan di masa depan masih sangat banyak diwarnai oleh OSC.

Dua uskup pertama Keuskupan Bandung yaitu MGR. JH Goumans OSC (1932-1942) dan Mgr. PM Artnz OSC (1942-1984) adalah dari kalangan OSC. Yang menarik adalah bahwa pihak OSC pada dua periode uskup yang berasal dari OSC, ketika mendirikan berbagai lembaga termasuk Unpar dan Yayasan Salib Suci, menyerahkan kepemilikan lembaga-lembaga tersebut ke tangan pihak keuskupan.

Dengan demikian praktis OSC tidak mempunyai hak milik apa pun di Keuskupan Bandung selain kompleks rumah retret Wisma Pratista termasuk pabrik lilinnya, kompleks biara Sultan Agung, biara OSC di Cigugur, serta kompleks biara OSC di Pandu dan Gereja Pandu.

OSC praktis tidak mempunyai sumber penghasilan dari wilayah Keuskupan Bandung yang bisa diandalkan selain pemasukan rumah retret Wisma Pratista yang hanya cukup untuk membiayai biara dan rumah pembinaan di Pratista. Kemurahan hati dan kebesaran hati pihak OSC untuk merawat, membesarkan, melengkapi, dan mendukung sekuat tenaga perkembangan Keuskupan Bandung tersebut kiranya tidak pernah boleh dilupakan oleh siapa pun.

Saat ini Keuskupan Bandung memiliki 37 imam diosesan.

Warisan bapak uskup terdahulu

Ketika Mgr. A.Djajasiswaja (1984-1999) menjadi Uskup Bandung tahun 1984 hanya ada 3 imam diosesan di Keuskupan Bandung. Tahbisan imam diosesan di Keuskupan Bandung berturut-turut adalah 1948 (Pastor Oedjoed yang meninggal 1974), 1956 (Pastor Gani, pindah ke OSC tahun 1974 dan sekarang menjadi OSC), 1968 (Pastor Limijarta), 1971 (Pastor JB Sahid), dan 1982 (Pastor J.Sukarna). Dengan demikian sebagian besar imam diosesan masih berusia muda.

Imam diosesan Bandung pernah menjadi misionaris di Keuskupan Agung Merauke dan sampai sekarang di Keuskupan Tanjung Selor.
Di masa depan babak baru Keuskupan Bandung sebaiknya tidak dilepaskan dari keterlibatan OSC. Masa depan Keuskupan Bandung tetap ditentukan bagaimana mengolah hubungan Keuskupan Bandung dengan OSC menjadi hubungan yang saling menghargai dan mengembangkan.

Sebaiknya Keuskupan Bandung dan OSC duduk bersama dan merumuskan bagaimana hubungan masa depan Keuskupan Bandung dengan OSC dengan terpilihnya seorang uskup yang berasal dari OSC. Kontrak OSC dengan Keuskupan Bandung sudah lama tidak diperbaharui.

Mgr. Anton dengan menjadi uskup diosesan sekarang memang sudah menjadi seorang diosesan yang harus berpikir dalam perspektif keuskupan, namun ia juga tetap seorang yang dibesarkan dan mempunyai jiwa OSC karena ia pun tetap seorang Krosier dengan status khusus.

Bagaimana semangat dan jiwa OSC yang ada di dalam diri Mgr. Anton justru menjembatani hubungan Keuskupan Bandung dengan OSC ? Masa depan OSC di seluruh dunia akan sangat diwarnai perkembangan OSC di Indonesia. Masa depan Keuskupan Bandung juga masih akan diwarnai perkembangan OSC. Bila OSC tumbuh menjadi ordo yang berkualitas dan mandiri, Keuskupan Bandung juga akan menerima dampak dan manfaatnya.

Selain peran OSC, sebaiknya Keuskupan Bandung juga duduk bersama dengan SSCC dan SMM serta merumuskan hubungan di masa depan di babak yang baru bagi Keuskupan Bandung. Apakah SSCC selain dua paroki di Paroki Waringin dan Paroki Sumber Sari juga mau terlibat lebih luas dan dalam? Selain di Paroki Bunda Maria Cirebon dan rumah pimpinan, apakah SMM juga mau lebih terlibat dengan Keuskupan Bandung? Bagaimana peran OAD yang punya rumah studi di Bandung?

Apakah mungkin ada tarekat imam lain yang juga mau masuk Keuskupan Bandung? Misalnya OP dan OCD yang sudah mempunyai suster-suster di Keuskupan Bandung? Keuskupan Bandung akan lebih diperkaya dengan kehadiran banyak tarekat religius. Bukan hanya yang imam, namun juga tarekat suster atau bruder.

Fungsi DPP dan PGAK
Ada warisan Mgr. Ignatius Suharyo yang sangat penting dan mengubah wajah DPP dan PGAK di Bandung. Seandainya kita tidak memasalahkan lagi proses dan sebab-sebabnya, maka dengan dirangkapnya peran DPP Harian sekaligus sebagai PGAK, maka manajemen paroki khususnya keuangan di babak baru Keuskupan Bandung tidak bisa lagi tidak transparan dan akuntabel.

Keuangan paroki harus diketahui dan diurus oleh DPP yang pengurus hariannya juga adalah PGAK. Di masa lalu bisa terjadi DPP dipilih umat dan tidak mengetahui kondisi keuangan paroki. Lalu PGAK dipilih pastor paroki dan hanya PGAK yang tahu masalah keuangan.

Di babak baru Keuskupan Bandung diandaikan DPP dan PGAK sungguh dipilih oleh umat bersama pastor parokinya. Tidak mungkin lagi hanya pastor yang memilih personalia DPP dan PGAK. Harus ada pemilihan yang melibatkan umat seluruh paroki. Tidak mungkin dipilih seseorang yang tidak dikenal dan tidak dipilih oleh umat. Peran pastor paroki dalam ikut menyeleksi calon-calon tentu diandaikan yaitu yang memenuhi syarat dan bisa bekerja sama.

Mgr. Pujasumarta juga meninggalkan kebiasaan supervisi yang penting bagi tiap paroki. Kalau kebiasaan supervisi itu diteruskan maka diharapkan manajemen paroki akan makin lama makin baik. Tidak ada lagi pembiaran atau terserah pastor. Tim supervisi sebaiknya dipimpin oleh uskup beserta kuria namun bisa dilengkapi personalia lain yang dinilai berpengalaman dalam manajemen paroki.

Mgr. Djajasiswaja meninggalkan warisan yang penting dalam konteks altar dan pasar. Paroki tidak boleh hanya sibuk di sekitar altar atau internal gereja melainkan juga harus terjun ke pasar atau masyarakat. Program-program paroki harus menjangkau bukan hanya umat, melainkan masyarakat pada umumnya. Yang dilayani paroki bukan umat Katolik saja yang jumlahnya terbatas, melainkan seluruh masyarakat yang ada di wilayah paroki. Dalam babak baru Presiden RI yang sebentar lagi terplih di mana siapapun yang terpilih akan sungguh berjuang untuk masyarakat, maka paroki-paroki pun harus menjadi paroki yangs selain sibuk di sekitar altar, juga sibuk masuk pasar dan berperan dalam masyarakat.

Tahun kebangsaan 2014 ini menjadi saat refleksi sejauh mana umat Katolik sudah jadi bagian bangsa dan masyarakat luas.

Keterangan foto: Kumpulan para pastor (Ilustrasi/Mathias Hariyadi)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.