Ayo, Having Fun Lagi

18844580-family-enjoy-life-together-Stock-Vector-family

KAPAN kita terakhir kali ingat bahagianya masa kanak-kanak kita? Saat asyik bermain lumpur dan hujan-hujanan bersama teman masa kecil kita? Saat pura-pura menjadi dokter atau guru dan memakai atribut keren hasil pinjaman dari lemari ortu? Atau waktu rame-rame naik sepeda baru keliling kampung? Ataukah kita masih ingat rasa bangga saat berbagi tugas kelompok dan mendapat hasil terbaik? Senangnya ingat masa-masa indah dulu.

Nuansa keceriaan itu bisa saya rasakan kembali ketika mendampingi murid-murid mengikuti lomba Crossing the River Jumat lalu di sekolah. Mereka dibagi satu tim lima anak dan harus mencapai finish dengan menggunakan dua matras besar yang mesti diinjak dan dibentangkan sebagai pijakan selanjutnya. Kaki benar-benar harus dijaga jangan sampai menginjak tanah. Tak terbayangkan sulitnya bekerjasama supaya jangan ada yang melanggar aturan ini.

Saya ikut deg-degan melihat mereka berjuang mengangkat matras, meletakkannya di depan lalu bersama-sama lompat ke matras itu lalu mengangkat lagi matras di belakangnya dan seterusnya sampai selesai, Kompak dan hasilnya mereka menang! Wow!! Anak-anak kelas 2 SD ini langsung berpelukan dan berlari-larian senang.

Diam-diam saya iri melihat kekompakan mereka. Sebagai orang dewasa saya sepertinya sudah lama tidak menghirup udara kebersamaan seperti itu lagi. Pikiran jadi melayang ke sebuah novel keren yang pernah saya baca yakni Pangeran Pencuri karya Cornelia Funke. Novel 400 halaman ini menceritakan petualangan anak-anak yatim piatu yang bertemu anak laki-laki misterius yang menamai dirinya Pangeran Pencuri. Berlatar kota Venezia, novel ini menggambarkan imajinasi dan kepolosan pikiran anak-anak. Lucu, seru, heboh, sulit ditebak alur ceritanya.

Yang jelas setelah membaca novel tersebut saya berkaca dan sadar dalam diri manusia dewasapun masih terdapat jiwa keceriaan, kepolosan, kejujuran, kebaikan anak-anak. Tapi kemana semua itu sekarang? Yang saya dapati di sekitar saya bukan manusia dewasa dengan kepolosan kejujuran keceriaan kekompakan seperti anak-anak melainkan banyak manusia yang sudah mengenakan topeng-topeng menakutkan. Dunia orang dewasa seperti dunia yang asing: ketegangan, ketakutan, perpecahan, teror, perang dingin, saling tuduh, saling bongkar rahasia, saling menghancurkan, mencari keuntungan dan lain sebagainya. Huuftt….. kita bahkan jadi terkaget-kaget melihat orang dewasa berwajah “manis seperti bayi” tetapi berperilaku memprihatinkan : menyebar fitnah, bermain kata, menjilat dan tidak peduli dengan orang lain.

Benar istilah Latin yang terkenal Homo Homini Lupus yang artinya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Istilah yang pertamakali muncul dalam karya Plautus berjudul Asinaria (195 SM lupus est homo homini) ini dapat diartikan manusia sering menikam sesama manusia yang lain.

Tiba-tiba saya merasa ngeri. Tidak adakah sedikiiiit saja ketulusan, kejujuran, kebaikan, saling menghormati, menghargai, saling menolong tanpa pamrih dalam diri manusia zaman sekarang?
Mungkin ada baiknya kita belajar dari dunia anak-anak. Tidak usah muluk beridealis mau meneladan panutan dalam agama kita masing-masing. Masih jaauuuhh dari teladan itu. Sebab jika bicara dosa, setiap saat kita sudah melakukan pelanggaran terhadap perintah Allah baik dalam pikiran maupun perbuatan. Hidup ini sudah lekat antara dosa dan amal, mulut dan tangan sudah kotor.

Maka jalan sederhana untuk membangkitkan kembali kebaikan dan kepolosan adalah belajar dari anak-anak. Lihatlah cara mereka memaafkan teman, menolong, peduli dengan teman, melindungi teman, simpati dan empati pada teman, bersikap jujur dan iklhas, mau berkorban, bekerjasama, saling menghargai dan lain-lain.
Kita bahkan wajib ingat siapakah yang mengajarkan anak-anak nilai-nilai mulia itu. Manusia dewasa bukan? Lalu mengapa justru manusia dewasa itu alias kita-kita ini tidak mampu melaksanakan apa yang yang keluar dari mulut kita sendiri?
Kita….??? Sampai di sini saya tersenyum. Moga-moga tidak ada yang jawab :….Loe aja kali…! Hahaha…… Ayo ceria, ayo senyum, ayo fun lageee…..!!

Kredit foto: Ilustrasi (ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.