Ayah Frankenstein

Ayat bacaan: Mazmur 27:10
====================
 “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.”

Hari ini saya menonton sebuah film tahun 1994 berjudul Frankenstein yang dibintangi oleh Robert De Niro. Film ini menyadur novel gothik karya Mary Shelley tahun 1817 menceritakan tentang seorang ilmuwan bernama Victor Frankenstein yang menciptakan sosok raksasa yang berasal dari potongan-potongan tubuh yang berbeda-beda. Kisah ini sangat terkenal dan sudah berulang kali difilmkan sebelumnya. Saya pun teringat tentang sebuah majalah yang memberikan sebuah kesaksian hidup seseorang yang ditinggal ayah kandungnya sejak masih di dalam kandungan. Begitu ia lahir, ibunya meninggal, dan ia pun kemudian diangkat anak oleh teman ibunya, seorang wanita karir yang tidak menikah. Dalam majalah itu ia bercerita bahwa kehilangan figur ayah membuatnya terus mencari sosok ayah dari berbagai sumber. Di masa SMA, ia bertemu dengan beberapa pembimbing rohani yang mengajarkan bagaimana seharusnya ia berperilaku sebagai seorang pria yang beranjak dewasa. Tahun berganti, pembimbing rohaninya pun berganti-ganti. Sifatnya berbeda-beda, pengalaman hidup mereka yang mereka bagikan pun berbeda. Dan ia pun berkata bahwa para pembimbing rohani ini bagaikan potongan-potongan yang membentuk figur seorang ayah baginya, seperti Frankenstein yang terbentuk dari potongan tubuh yang berbeda-beda pula. Satu hal yang membuat saya kagum, ia tidak menganggap hal ini sebagai sebuah “nasib buruk”, karena ia melihat dari sisi positif. Ia bersyukur karena meski tidak sempurna dan berasal dari potongan-potongan yang berbeda, sosok “ayah Frankenstein” ini mengajarkan banyak hal yang baik dan mengenalkannya pada kehidupan dan Tuhan.

Saya merasa kagum terhadap reaksi dan kebesaran hatinya menyikapi hal ini, karena ada banyak orang lain yang mengalami masalah yang sama kemudian mengalami kepahitan dan sulit bertumbuh akibat kehilangan figur ayah atau ibu atau sekaligus keduanya. Ada pula anak-anak yang sebenarnya berasal dari keluarga yang lengkap dan baik-baik saja, tetapi mereka bersikap bandel dan tidak menghormati orang tuanya. Terus melawan, ribut dan tidak bersyukur, seolah-olah mereka berharap kalau bisa orang tuanya biar hilang ditelan bumi saja. Bagi narasumber diatas hal seperti ini sangatlah menyedihkan, karena baginya mereka tidak menyadari seperti apa sakitnya tumbuh tanpa kehadiran ayah.

Daud mengalami masa kecil yang cukup pahit. Ia tidak dianggap ada oleh orangtuanya dan hanya disuruh menggembalakan ternak. Sementara saudara-saudaranya yang lain disayangi dan dibesarkan dengan penuh perhatian dan keistimewaan, ia bagai dianak tirikan. Bayangkan bahayanya menggembalakan ternak sendirian, karena ada banyak binatang buas yang bisa memangsanya setiap saat. Tapi justru dalam situasi seperti itulah Daud kemudian mengenal Tuhan dengan baik. Ia menyadari bahwa biar bagaimanapun Tuhan selalu ada melindunginya. Itulah yang kemudian yang membuat Daud sama sekali tidak takut menghadapi raksasa Goliat. Perhatikan reaksinya ketika disepelekan oleh Saul dan para prajurit Israel yang ketakutan melihat raksasa dengan tinggi 10 kaki dilengkapi peralatan perang lengkap. “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.” (1 Samuel 17:34-36). Daud bukannya membanggakan kekuatannya sendiri, tetapi ia menyatakan bahwa semua itu adalah berkat adanya Tuhan bersamanya. “Pula kata Daud: “TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu.” (ay 37a). Kelak dikemudian hari Daud menyatakan kembali pengalaman kehidupan masa kecilnya antara ditolak orang tua dan hidup bersama Tuhan. “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku.” (Mazmur 27:10).

Ya, Tuhan senantiasa ada bersama kita dengan sepenuh kasih. Orang lain boleh tidak mengerti, atau bahkan menolak kita. Tapi satu hal yang harus kita sadari dengan pasti adalah bahwa Tuhan tidak akan pernah menolak kita. Dia akan selalu menerima kita apa adanya, melindungi dan menjaga kita dengan kasihNya yang luar biasa besar. Daud tidak membenci orang tuanya, narasumber di atas tidak membenci ayahnya. Jika ada diantara teman-teman yang mengalami masa kecil yang pahit sama seperti mereka ini, belajarlah untuk mengampuni. Mengampuni dan belajar menghormati orang tua yang sudah melakukan banyak kesalahan itu tidaklah mudah. Tetapi itu akan membawa kita keluar dari pengaruh negatif dan berbagai godaan untuk berbuat dosa. Faktanya ada banyak dari mereka yang kehilangan figur ayah ini kemudian tumbuh menjadi orang-orang yang kepribadiannya rusak, dan tidak jarang pula mereka kembali melakukan hal yang sama terhadap anak-anaknya sendiri. Karena itulah penting bagi kita untuk belajar mengampuni dan menghormati orang tua tanpa syarat. Kita harus mau melembutkan hati dan mengalami pemulihan dari Tuhan meski pengalaman masa kecil mungkin tidak seberuntung orang lain. Kekristenan selalu berbicara mengenai pengampunan tanpa batas dan tanpa syarat. Lihatlah apa yang diajarkan Yesus berikut: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Matius 6:14-15). Atau “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)” (Markus 11:25-26). Bukan hanya mengajarkan, tapi Yesus sendiri sudah menunjukkan keteladanan akan hal itu. Lihatlah apa yang dikatakan Yesus setelah mengalami siksaan tak terperikan hingga menjelang ajal di atas kayu salib. “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34). Dunia boleh mengajarkan bentuk-bentuk dendam dengan pembalasannya, tetapi kekristenan akan selalu berbicara soal pengampunan. Terhadap orang lain saja kita harus seperti itu, apalagi terhadap orang tua yang melahirkan kita. Mungkin ada diantara teman-teman yang mengalami nasib sama, belajarlah dari Daud. Ia tertolak dalam keluarga, dan dicemooh ketika harus berhadapan dengan raksasa, tapi ia tetap mengandalkan Tuhan dan keluar sebagai pemenang. Besok saya akan melanjutkan dengan mengajak teman-teman untuk melihat mengapa kita harus menghormati orang tua dengan sepenuhnya.

Orang boleh menolak kita, tapi percayalah bahwa Tuhan akan selalu menerima kita apa adanya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: