Awal Pemulihan Ketaatan

Ayat bacaan: Lukas 5:5
==================
“Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dogs are man’s best friend, demikian kata pepatah. Kenapa? Karena anjing setia sampai mati. Selain itu anjing juga bisa diajar berbagai hal, dan mereka bisa sangat disiplin dan patuh kalau dididik dengan baik. Anjing yang terlatih bisa mengekang keinginan-keinginan termasuk yang secara naluriah seperti saat berhadapan dengan anjing lain, kucing atau hewan lain.

Pertanyaannya, kalau anjing yang tidak berakal budi bisa, mengapa sebagai manusia kita sulit sekali untuk taat? Kalau dihadapkan pada posisi harus tetap taat atau menikmati keinginan daging, kebanyakan orang akan segera memilih kesenangan tanpa pikir panjang, meski tahu bahaya yang mengancam disana. Atau, mungkin mudah bagi kita untuk taat ketika kita sedang baik-baik saja, tetapi lihatlah betapa mudahnya kita menyimpang ketika sedang berhadapan dengan situasi yang pelik. Ada banyak orang yang tergiur untuk mengambil jalan pintas ketika berada dalam keadaan tertekan meski mereka tahu bahwa alternatif-alternatif tersebut mengarah pada kejahatan di mata Tuhan.Dalam kehidupan kita tidak akan pernah selamanya berada dalam keadaan tenang. Ada waktu dimana kita mengalami kesulitan, dan disanalah sebenarnya iman kita akan diuji. Mampukah kita terus taat, tetap bersabar dan mempercayakan sepenuhnya kepada Tuhan, atau kita justru semakin tersesat akibat ketidaksabaran kita dalam menghadapi masalah? Kita sering melihat orang-orang yang terdesak secara ekonomi akhirnya mencuri atau korupsi, atau orang yang dengan santai pergi menemui dukun atau paranormal ketika kehilangan sesuatu.

Untuk itu mari kita lihat sepenggal kisah yang dialami Simon Petrus ketika masih berprofesi sebagai seorang nelayan. Siapa Simon Petrus sebelum mengikut Yesus sebagai murid? Simon jelas adalah nelayan ulung, yang sudah hidup dengan menangkap ikan sejak lama. Tetapi pada suatu hari Simon mengalami kesulitan. Sepanjang malam ia berusaha membentangkan jalanya di laut tapi anehnya ia tidak mendapatkan apa-apa. Sebagai nelayan ulung tentu ia tahu persis kapan waktu yang terbaik untuk menangkap ikan, yaitu di malam hari. Aneh rasanya jika ada nelayan yang pergi melaut di pagi atau siang hari. Di pagi itu para nelayan baru saja turun dari perahu mereka dan sedang mencuci jala mereka dengan tangkapan nihil.

Simon kemudian mengutarakan kesulitannya kepada Yesus. Lalu dengarlah apa kata Yesus berikut. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” (Lukas 5:4). Apa yang dikatakan Yesus tentu aneh bagi seorang nelayan yang tahu persis bahwa pagi hari itu bukanlah waktu yang ideal untuk menjala ikan. Tapi sungguh menarik melihat apa jawaban Simon. “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” (ay 5). Dalam bahasa sehari-hari Simon kira-kira menjawab begini: “malam saja kami mencoba dengan keras kami tidak menangkap apapun, apalagi pagi.. tapi jika Engkau yang menyuruh, aku akan patuh.” Dan itulah yang dilakukan Simon. Ia memilih untuk taat sepenuhnya, tanpa banyak tanya, tanpa berbantah-bantah dan bertolak kembali ke tengah dan menebarkan jalanya. Kita tahu apa yang terjadi kemudian. “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.” (ay 6). Begitu banyak yang ia dapatkan sehingga ia masih bisa membagi-bagikan hasil tangkapannya kepada teman-temannya. Akankah Petrus bisa memperoleh ikan sebegitu banyak hingga jalanya terkoyak jika ia tidak taat? Tentu ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Tapi pilihan yang dia ambil adalah untuk percaya dan taat sepenuhnya tanpa banyak tanya sehingga ia pun menuai berkat Tuhan.

Dari kisah ini kita melihat bahwa ketaatan bukan saja membuka pintu berkat tetapi juga merupakan sebuah kunci dari terjadinya pemulihan. Yesus tentu bisa memberikan langsung ikan langsung pada saat itu juga, tapi ternyata Yesus ingin melihat terlebih dahulu sampai sejauh mana ketaatan dari seorang nelayan kawakan bernama Simon Petrus. Dan ketaatannya itulah yang akhirnya mendatangkan mukjizat baginya. Contoh sebaliknya, jika menilik perjalanan bangsa Israel pada Perjanjian Lama, maka kita akan melihat bahwa ketidaktaatan bangsa ini kemudian justru membuat mereka harus mengalami banyak kesulitan. Mereka harus mengalami masa penjajahan tidak kurang dari 430 tahun, dan harus pula melewati masa padang gurun selama 40 tahun lamanya. Ini semua harus mereka alami akibat ketidaktaatan mereka. Sedikit saja mengalami kendala, mereka akan segera bersungut-sungut, mengeluarkan sindiran dan ejekan, mengeluh, mengomel bahkan sempat berkata ingin kembali lagi ke Mesir. “dan mereka berkata kepada Musa: “Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir?Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini.” (Keluaran 14:11-12). Inilah bentuk ketidaktaatan dari bangsa Israel yang masih sering pula kita lakukan hingga saat ini.

Ketaatan sungguh penting dan merupakan kunci penting untuk terjadinya pemulihan dalam hidup kita. Dalam keadaan seperti apapun kita tetap dituntut untuk taat dan setia sepenuhnya kepaa Tuhan. Dia mampu melepaskan kita pada waktunya dan selalu sanggup melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun, seperti halnya yang terjadi pada Petrus. Tetapi ingatlah bahwa dari sisi kita dituntut sebuah bentuk ketaatan yang sepenuhnya. Ketaatan dianggap Tuhan sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah. “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2).

Bentuk ketaatan penuh bisa kita teladani dari sosok Yesus sendiri. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8). Inilah bentuk keteladanan dari Yesus yang hendaknya bisa kita jadikan sebuah cerminan seperti apa sebenarnya bentuk ketaatan kepada Tuhan yang tanpa syarat itu. Ketaatan Yesus kepada kehendak Tuhan hingga akhir membuat kita semua diselamatkan. Dan karenanya sudah sepantasnya jika kita pun harus taat penuh kepadaNya agar kita semua dilayakkan untuk memperoleh keselamatan kekal tepat seperti yang dijanjikan Tuhan. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya,dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” (Ibrani 5:9-10). Ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk mengalami ujian. Janganlah itu membuat kita patah semangat. Jangan menyerah, jangan putus pengharapan, tapi jadikanlah itu sebagai sebuah momentum untuk membuktikan iman kita. Tetaplah taat, percayalah sepenuhnya, maka pada saatnya apapun yang kita alami saat ini akan dipulihkan Tuhan dengan luar biasa.

Jadikan ketaatan sebagai kunci dari proses pemulihan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.