Asal Mula Nama “Cardoner” di Pertapaan Cardoner di Keuskupan Purwokerto (2)

< ![endif]-->

Pengantar Redaksi:

Redaksi menerima banyak bahan dari Bapak Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ tentang hal-ikhwal sejarah “berdirinya” Pertapaan Cardoner di Dusun Melung, Baturaden, Purwokerto, Jawa Tengah. Bahan tersebut dirangkum oleh Kuria Keuskupan Purwokerto dan kami mencoba menyusunnya menjadi rangkaian tulisan serial mengenai Pertapaan Cardoner, mengiktuti tulisan serial pertama tentang arah menuju ke lokasi pertapaan. Sekarang ini, proses pembangunan masih berjalan mengikuti tahapan pertama, yakni pembangunan infrastruktur jalan setapak  menuju ‘rumah’ para rahib Cardoner.  

————————

DALAM sebuah surel, Romo L. Sardi SJ yang kini tengah belajar spiritualitas Serikat Jesus di Spanyol menulis beberapa kata kunci mengenai makna rohani di balik kata ‘Cardoner’. Menurut mantan Pater Magister para novis  SJ Girisonta ini, pengalaman rohani yang ‘menimpa’ pada diri Santo Ignatius de Loyola itu terjadi di tepian Sungai Cardoner.

Jadi, menjadi jelas bagi kita bahwa ‘Cardoner’ hanyalah nama sebuah sungai di Spanyol. Namun, dalam konteks perjalanan peziarahan rohani Santo Ignatius, Sungai Cardoner memiliki arti khusus bagi sejarah Serikat Jesus. Di tepian Sungai Cardoner inilah, tulis Romo L. Sardi SJ, Ignatius mendapat ‘pencerahan rohani’ dimana Santo Ignatius Loyola terdorong untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk ‘membantu sesama’.

Dalam bahasa Spanyol, hasrat rohani untuk membantu sesama itu terumuskan dalam istilah ayudar a los demas dan persis di tepian Sungai Cardoner itulah hasrat jiwa itu muncul di lubuk terdalam Ignatius de Loyola.

Tentu saja, demikian penegasan Romo L. Sardi SJ, pengalaman rohani di tepian Sungai Cardoner ini tidak bisa dipisahkan dari serangkaian pengalaman-pengalaman rohani lain yang dijalani oleh Ignatius de Loyola selama di Manresa, sebuah kota di Spanyol. Pengalaman rohani yang layak dicatat sepanjang beberapa bulan tinggal di Manresa adalah jalan hidup Ignatius yang berkehendak untuk hidup ‘menyendiri’ dan ‘menyepi’ layaknya pada zaman dahulu para rahib hidup menyendiri ‘menjauhkan diri’ dari keramaian orang.

Dengan demikian, menjadi jelas bagi kita semua mengapa nama ‘Cardoner’ akhirnya dipakai sebagai nama resmi untuk sebuah pertapaan di Melung, Baturaden, Purwokerto ini.

Beberapa literatur buku yang bisa menjadi acuan untuk mengenal lebih dalam ‘peziarahan batin’ Ignatius de Loyola di tepi Sungai Cardoner adalah sebagai berikut:

  •  Pilgrim´s Journey – Autobiography of Ignatius of Loyola, karya Yoseph Tylenda dan kini masih dalam proses penerjemahan oleh Romo Is. Warnabinarja SJ, mantan Magister Novis SJ Girisonta beberapa tahun lalu.
  • Walking with Inigo, karya Gerald Coleman yang tengah dalam proses penerbitan oleh Serikat Jesus Provinsi Indonesia (Provindo).
  •  Ignatius Theologian (1977), karya Hugo Rahner.

Mengutip pendapat teolog kenamaan Karl Rahner SJ, demikian tulisan  Romo Krispurwono Cahyadi SJ, pengalaman Ignasius akan Allah berada dalam kesejajaran dengan gagasan kristologis Chalcedon dan antropologi kristiani. Menurut Rahner, pengalaman akan Allah tersebut mengajak orang untuk menemukan Allah di tengah segala keterbatasan ruang banalitas dunia sehari-hari tanpa menjadi budak akannya.

Dengan pengalaman itu, kata Karl Rahner, akan tumbuh kesatuan tanpa pemisahan dan keterpecahan antara yang ilahi dengan yang manusiawi, sehingga keterbukaan akan yang transendens menjadi terbangun. Di dalamnya aspek pengalaman akan Allah tidak saja membuahkan pengenalan akan Allah, namun pula pembangunan hidup di dalam serta bersamaNya.

Yang terbatas dan bertubuh terbuka akan realitas Ilahi yang transendens. Kedekatan akan Allah tersebut mewujud dalam kelepas-bebasan dan kesediaan hidup di tengah kemiskinan. Visi mistik tersebut membawa orang untuk mampu menemukan Allah di mana dan kapan pun, dalam arti menjadi mampu mengarahkan pandangan hati dan iman langsung pada Allah, sehingga menemukan peneguhan dari dan lewat kehadiran-Nya.

Ignatius dan Cardoner Ph

Lukisan seni karya Mark Esquibel menggambarkan pengalaman rohani Santo Ignatius Loyola di tepi Sungai Cardoner di Spanyol. (Courtesy of the Xavier School-Mary the Queen-Philippine General Hospital Jesuit community)

Mistik trinitaris

Menjadi tidak mengherankan, demikian Romo Krispurwana SJ,  kalau Hugo Rahner –adik kandung Karl Rahner SJ–   lalu menyimpulkan bahwa inti, arah serta ciri arah mistik Ignasius sebagai mistik trinitaris.  Allah Tritunggal adalah pusat dan dasar, bahkan puncak spiritualitasnya. Karenanya, kenyataan sejarah kemudian dipandangnya dalam perspektif keselamatan dan rahmat: menemukan Allah dalam segala dan segala dalam Allah.

Allah yang trinitaris tidak saja menjadi arah tatapan, sumber acuan, namun pula cermin serta kriteria dalam memandang dan menilai sesuatu, bahkan dalam bertindak dalam segala. Inti dasar dari itu semua adalah misteri iman, pengalamannya akan Allah yang mengajarnya bagai seorang guru mengajar anak kecil.

Seperti Paulus

Juga tidak mengejutkan, demikian tulis Romo Krispurwana SJ, kalau mendiang Pater Jenderal SJ Pedro Arrupe SJ lalu mengibaratkan pengalaman mistik trinitaris Ignasius yang dia alami sepanjang hidup beberapa bulan di Manresa –termasuk pengalaman rohani di tepi Sungai Cardoner—itu mirip dengan ‘pengalaman Damaskus’ bagi Paulus;  atau pengalaman menemukan semak yang terbakar bagi Musa.

Ignatius dan Sungai Cardoner

Lukisan artistik menggambarkan pengalaman rohani Ignatius Loyola di tepi Sungai Cardoner di Spanyol dimana muncul hasrat jiwanya untuk ‘berbuat banyak bagi sesama’ di tengah peziarahan batinnya hidup menyendiri bak seorang rahib pada zaman itu di Manresa. (Ilustrasi/Ist)

Itulah pengalaman mistik teophany yang memancarkan serta mengguratkan semangat panggilan dan perutusannya. Karena itu, Hugo Rahner lalu menyimpulkan gagasan ideal yang membentuk Latihan Rohani Ignasius terumus dalam kata senalarse mas en servicio, menjadikan diri semakin tersedia bagi pengabdian kepada Allah.

  • Ketaatan tersebut ditandai dengan ketersediaan untuk menerima apa pun, termasuk hal yang tak terduga sekalipun, sehingga tidak membuat sarang  yang aman bagi dirinya sendiri, melainkan menjadi semakin lebih tersedia bagi pengabdian.
  • Sedangkan kedisiplinan lebih menunjukkan pada aspek pembentukan diri agar memiliki cara bertindak yang mudah untuk digerakkan dan dipakai, dalam keterbukaan hati dan budi, roh dan badan. Disiplin, dengan demikian, berbicara tentang kesediaan untuk secara terus-menerus menapaki jalan kemuridan, untuk selalu sedia menjadi murid (discipulus yang artinya murid), sehingga proses pembentukan dan pembinaan tanpa henti menjadi bagian dari kenyataan pengalaman kemuridan tersebut.

Pengalaman rohani  tersebut berciri dinamis, karena hendak semakin mencari segala apa mengarah pada kemuliaan Allah yang lebih besar.

Karl Rahner menyebutnya sebagai pengalaman yang tak bergantung pada sistem, dimana senantiasa ada ruang tempat orang menapaki ziarah, tanpa ada suatu formalitas yang pasti dan baku, karena senantiasa berada dalam perjalanan. Ciri yang lebih mendasari adalah keterbukaan dan kesediaan untuk menemukan jalan, menekankan aspek subjek serta pengalaman eksistensial yang ditapakinya. Yang menarik kesemuanya itu tetap ditempatkan dalam kesetiaan pada Gereja yang hirarkis ini.

Ignatius dan Manresa

Manresa, sebuah kota kecil di Spanyol, dimana Ignatius Loyola memutuskan hidup menyendiri setelah ‘pertobatannya’ ingin hidup lebih layak di mata Tuhan dengan kehendak mau meninggalkan semua nafsu dan hasrat duniawi untuk kemudian hidup layaknya para kudus yakni mengabdi kepada Tuhan. (Courtesy of CovanManresa)

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.