Apakah Iman = Agama? (2)

MENGAPA di Indonesia tempat ibadah makin menjamur, tetapi tindak kekerasan dan korupsi juga tak kalah meningkatnya?

Pertanyaan tersebut kerap dialamatkan kepada Mgr. Ignatius Suharyo, demikian ‘pengakuan’ Uskup Agung Jakarta kepada publik pendengar program pencerahan di Unika Atma Jaya, 12 Maret lalu.

Beriman, jelas Mgr. Suharyo,  berarti pertama-tama mengikuti Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah. Mengikuti, tentu tidak sekedar menerima kebenaran, tetapi perlu mengetahui dulu siapa Yesus Kristus.

Maka ada dua pendekatan yang bisa dilakukan. Pertama,  kristologi dari atas yaitu dogma bahwa Yesus itu adalah Anak Allah, Sang Penebus. Kedua, kristologi dari bawah: Yesus sebagai manusia yang lahir di Palestina.

Dibaptis Yohanes Pembaptis

Menurut Mgr. Suharyo, ada dua keputusan besar dilakukan  Yesus yang begitu berpengaruh terhadap sejarah manusia. Keputusan pertama ketika Dia menyediakan diri dibaptis oleh Yohanes Pembaptis pada usia 28 tahun.

Kenapa memilih Yohanes Pembaptis, tidak yang lain, padahal saat tersebut banyak sekali pembaptis yang bermunculan. Sebelum menjawab dengan serius, Mgr. sempat berkelakar, karena untuk jawaban yang pasti kita bisa tanyakan pada Yesus Kristus sendiri.

Tidak eksklusif dan konsekuensi moral

Analisis beliau, ada dua alasan yang mendasari pemilihan Yesus menyediakan diri dibabtis oleh Yohanes Pembaptis . Pertama, karena baptisan Yohanes Pembaptis tidak eksklusif. Pembaptis lain mengkhususkan diri pada komunitas tertentu seperti misalnya hanya Yahudi, atau hanya Saduki.

Yohanes Pembaptis berpandangan universal.

Alasan kedua adalah baptisan Yohanes menuntut konsekuensi moral, sedangkan yang lain sekedar seremonial atau ritus belaka. Seperti termaktub dalam Kitab Suci, dimana umat menanyakan kepada Yohanes Pembaptis: “Apa yang harus kami buat?

Yohanes Pembaptis menjawab, “Barangsiapa mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan barangsiapa mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.” (Lukas 3:10-11)

Yohanes Pembaptis bahkan memberi pengarahan spesifik kepada bidang-bidang pekerjaan tertentu seperti kepada pemungut cukai “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu” (Luk 3:12-13)

Dan kepada prajurit-prajurit yang bertanya juga kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka:“Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Luk 3:14).

Yesus berhenti membaptis

Setelah dibaptis, Yesus mulai melakukan pembaptisan juga (Yohanes 3:22). Tetapi pada satu saat, hal tersebut berhenti dilakukanNya; Yesus berhenti membaptis. Dia memulai karya baru yaitu mewartakan Kerajaan Allah.

Ini merupakan keputusan kedua yang dimasud Mgr. Suharyo.

Alasan perubahan bentuk karya tersebut bisa dilihatkembali pada konteks masyarakat di Palestina pada waktu itu. Masyarakat miskin dan orang yangmenderita akibat suatu penyakit malah menjadi sasaran penindasan oleh lembaga keagamaan.

Miskin diartikan tidak dicintai Allah, sedangkan orang sakit adalah akibat dikutuk Allah. Maka transformasi sosial sebagai perwujudan Kerajaan Allah kemudian mulai dilakukan Yesus pada saat itu.

Photo credit: Royani Lim

Tautan:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.