Apa Enaknya Jadi Traveler?

travel by clipart

KALAU pertanyaan seperti ini diajukan kepada saya, apa sih enaknya/untungnya menjadi traveler, pergi ke tempat-tempat yang asing, bertemu orang-orang yang berbeda baik bahasa maupun budayanya dengan resiko kesasar, kecopetan bahkan untuk semua itu saya rela merogoh kocek untuk membiayai sendiri perjalanan saya. Bukannya mendingan uangnya dipakai buat hal lain yang berguna misalnya modal bisnis, beramal atau ditabung untuk masa depan? Hmmm….banyak orang bertanya seperti itu kadang bukan untuk mendapat jawaban yang jujur tetapi lebih karena muncul keinginan untuk meremehkan dan menghakimi.

Saat pertanyaan seperti itu dilontarkan dengan maksud tertentu maka ada kemungkinan komunikasi yang tadinya mau dibangun jadi macet. Kita tidak memungkiri bahwa setiap orang memiliki interest yang berbeda satu sama lain oleh karena seperti kita ingin dihargai maka sudah selayaknya kitapun mau menghargai orang lain yang berbeda. Dalam prakteknya ternyata tidak segampang yang dipikirkan.

Banyak konflik terjadi baik personal maupun komunitas karena ada perbedaan pandangan yang sangat lebar. Contoh-contoh di masyarakat saat ini cukup jelas. Sebut saja yang baru-baru terjadi; soal beras plastik, ijazah palsu, masalah pesepakbolaan, problem pengungsi, konflik cicak dan buaya, issue artis PSK sampai pada persoalan-persoalan berat negeri ini yang seolah tak ada habisnya.

Semua berawal dari benturan kepentingan dan perbedaan cara pandang. Dalam skup kecil, seorang boss pabrik sabun ternama melarang semua karyawannya menjual sabun yang diproduksi perusahaan secara perorangan demi keuntungan pribadi. Sementara para karyawan berpikir apa salahnya menjual brand perusahaan, toh sama-sama diuntungkan. Seorang direktur sekolah melarang para guru-gurunya memberi les pada anak muridnya diluar jam sekolah demi reputasi sekolah sementara guru-guru berpikir, toh ini dilakukan diluar jam kerja. Seorang OB yang merasa telah lama bekerja di sebuah perusahaan tidak mengakui keberadaan karyawan-karyawan baru dan ogah menghormati para pekerja baru kendati jabatannya lebih tinggi dari dirinya.

Apa yang salah di sini?

Manusia dalam perjalanan hidupnya telah dibentuk oleh berbagai macam peristiwa- entah menyakitkan, menyenangkan- sejak masa kanak-kanak hingga dewasa. Semua peristiwa itu tersimpan dalam pengalaman sadar dan bawah sadar otak kita. Pengalaman sadar kita ungkapkan secara sadar dengan orang lain. Tetapi respon sadar ini ternyata hanyalah setitik dari apa yang kita sebut bawah sadar.

Alam bawah sadar individu lebih besar dan dahsyat dari yang terlihat di permukaan. Mengapa dibalik sikapnya yang santun ternyata ia ternyata cenderung memberontak, mudah tersinggung, bersaing, tidak mau kalah, cepat menghakimi, tidak jujur, suka jalan belakang, keras kepala, kaku, tidak mudah bergaul, pemalu, penakut dan lain-lain?

Kecenderungan ini berasal dar sebuah pengalaman bawah sadar yang bersembunyi di balik respon sadarnya. Banyak orang terhambat untuk maju karena tidak menyadari pengalaman bawah sadar telah membelenggu kebaika-kebaikan dalam dirinya. Sehingga akhirnya yang kemudian timbul bukan hidup yang harmonis dan serasi melainkan konflik dan masalah.

Paulo Coelho dalam novel The Pilgrime menuliskan sebuah latihan untuk menghilangkan tekanan-tekanan bawah sadar yakni latihan benih. Latihan benih ini menggambarkan diri bagai benih di kedalaman bumi yang bertumbuh terus dan menemukan dunia baru “di atas sana”. Perjuangan untuk menembus lapisan-lapisan tanah yang gelap, kotor dan bau tenyata diganjar suatu pemandangan yang menghidupkan “di atas sana”. Si benih tumbuh menjadi tunas lalu menjadi pohon dan menikmati bagian dari keharmonisan alam semesta. Betapa indah perubahan ini. Latihan ini dapat dilakukan sesering mungkin sebanyak yang kita mau untuk merasakan “lahir baru” dari hidup lama ke hidup baru, apapun bentuknya.

Membaca ini membuat saya perlu juga mengevaluasi diri, mumpung masih libur dan tidak diganggu bisingnya pekerjaan kantor: apa saya juga berani memilih hidup baru saya dengan keluar dari pikiran-pikiran bawah sadar yang ternyata merugikan? Apakah saya berani? Atau beraninya saya hanya pada saat traveling saja sehingga orang-orang mempertanyakan apa sih untungnya jalan-jalan? Berani berhadapan dengan dunia asing tetapi tidak berani berhadapan dengan diri sendiri yang sarat dengan gunung es bawah sadar?

Mari direnungkan.

Selamat merayakan Hari Waisak, semoga lahir baru dengan kebajikan-kebajikan jiwa.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.