Antara Percaya dan Tidak (1)

Ayat bacaan: Markus 9:24
=====================
“Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!”

“Saya sih percaya, tapi apa benar pertolongan Tuhan bisa datang tepat pada waktunya bagi saya?” Begitu kata seorang bapak kepada saya yang secara kebetulan duduk disamping saya dan bercerita tentang masalah yang tengah ia hadapi. Meski mengaku percaya, tampaknya ia masih dilanda keraguan bahwa ia bisa mengalami secara langsung uluran tangan Tuhan melepaskannya dari kesulitan yang menimpanya. Bapak ini bercerita bahwa ia sudah berkeliling minta didoakan, tetapi jawaban atas permasalahannya belum juga tampak. Ketika saya tanya mengapa harus mencari orang lain untuk berdoa dan tidak melakukannya sendiri, ia dengan polos berkata bahwa ia tidak yakin doanya punya kekuatan untuk mendatangkan pertolongan dari Tuhan. “Tentu pendeta lebih tahu doanya harus bagaimana, mereka kan wakil Tuhan, ya pasti lebih didengar ketimbang saya yang hanya manusia biasa.” Ini adalah pemikiran yang keliru, karena pengorbanan Yesus sudah membelah tabir pembatas antara manusia dengan Tuhan yang diakibatkan dosa. Yesus menebus dosa, memberi kesempatan bagi kita untuk mengalami sebuah hidup baru, dimana hubungan dengan Tuhan dipulihkan dan perseteruan dengan Tuhan akibat dosa sudah dihapuskan. Dengan demikian, semua orang percaya bisa langsung berhubungan dengan Tuhan tanpa harus lewat perantara imam besar atau pendeta.

Penulis Ibrani mengatakan bahwa kita selalu bisa menghampiri tahtaNya dan meminta pertolongan tanpa harus lewat orang lain.  “Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16). Itu bisa kita lakukan lewat Yesus, dan itupun sudah disampaikan oleh Penulis Ibrani: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah.” (Ibrani 10:19-21). Hal ini masih jarang dipahami orang percaya dan mengira bahwa doa mereka kurang besar kuasanya dibanding hamba-hamba Tuhan. Padahal yang menentukan bukanlah orangnya, melainkan benar-tidaknya seseorang di mata Tuhan. Sebab firman Tuhan sudah berkata: “Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yakobus 5:16b).

Cara pemahaman keliru sang bapak tadi mewakili pemahaman banyak orang percaya. Saya lalu teringat pada sebuah kisah yang tertulis dalam Alkitab yang menggambarkan kejadian kurang lebih sama. Itu bisa kita baca dalam Markus 9:14-29 yang menceritakan tentang kisah seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh jahat ke hadapan Yesus.

Seperti halnya kita apabila mengalami hal yang sama, si ayah tentu sangat panik ketakutan.Bukan saja roh itu membisukan anaknya sejak kecil, tapi juga terus menyerang anaknya secara kejam. “Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang.” (Markus 9:18). Pada saat itu tidak satupun murid Yesus yang sanggup berbuat sesuatu. Si ayah pun berkata: “Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” (ay 22). Perhatikan si ayah mengatakan “sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu.” Apakah ada hal yang Tuhan tidak sanggup lakukan? Tentu kita semua tahu jawabannya. Itu pula lah yang dikatakan Yesus. “Jawab Yesus: “Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!” (ay 23). Lihat bahwa Yesus menekankan kepada kata “percaya.” Percaya merupakan sebuah kunci yang sangat penting untuk mendapatkan jawaban atas doa. Dan jawaban selanjutnya dari si ayah sungguh menarik untuk kita renungkan. Perhatikan kalimat ini. “Segera ayah anak itu berteriak: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (ay 24). Jika anda baca baik-baik, anda akan menemukan sebuah kontradiksi dalam jawaban si ayah. “Aku percaya, tolonglah aku yang tidak percaya ini.” Itu diucapkan dalam satu nafas dan satu kalimat. Sebenarnya ia percaya atau tidak?

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.