Anjing Pelacak Sambut Kedatangan Penumpang di Bandara Hobart, Tasmania (13)

TASMANIA –satu pulau besar di ujung paling selatan Benua Australia–  merupakan negara bagian di Australia. Konon, sejak lama Tasmania memberlakukan pemeriksaan sangat-sangat ketat terhadap bagasi dan tas penumpang yang mendarat dari aneka wilayah di seluruh Australia di Bandara Hobart atau Launceston. “Jangan membawa makanan apa pun dan apalagi buah-buahan,” kata teman warga Australia asli dari Melbourne sebelum kami bertolak menuju Tasmania.

Pada  tahun 2007 silam, seorang teman nyaris ‘gagal’ masuk kawasan Tasmania dari akses utama melalui udara di Bandara Hobart. Begitu keluar dari apron terminal untuk kemudian memasuki entrace gate dari sisi taxy way, dia sudah ‘dihadang’ galak oleh seekor anjing.

Seorang petugas customs memberitahu agar semua tas dan ranselnya diletakkan di bawah.  Ini agar anjing pelacak bisa menjejaki  benda-benda mencurigakan dan semua barang yang konon dilarang dibawa masuk Tasmania.

Hobart Watermans Dock malam hari 2

Tragedi buah apel

Merasa tidak membawa apa-apa, teman saja dibuat jadi grogi. Tas dan ransel sudah ditaruh di bawah untuk bisa diendus mesra oleh anjing pelacak, namun tetap saja dia tak bisa melanjutkan langkahnya ke depan karena anjing pelacak itu ‘mencegat’ dia di pintu masuk.

Kontan saja dia kaget bukan kepalang: dicegat oleh anjing pelacak. Sedikit grogi karena jangan-jangan dicurigai membawa barang terlarang, maka dia dengan ramah bertanya, “What’s wrong with me? Why is the dog still sniffing at me?,” katanya kepada petugas customs.

Dengan amat ramah namun tegas, petugas customs pun bertanya: “Do you bring something in your bag? Possibly a fruit or some refreshment?,” ujarnya.

Kali ini, dengan gagahnya teman saya ini mengatakan: tidak.

 Ia berkata benar, karena memang tidak membawa barang terlarang secuil apa pun di tasnya. Namun, lagi-lagi anjing pelacak itu tetap saja tidak berhenti mengendus tasnya.  Kemana pun langkap kaki bergerak, mulut anjing pelacak itu tetap mengikutinya dan mengendus tasnya.

Setelah terjadi diskusi, barulah ketahuan oleh kedua belah pihak bahwa di dalam tas itu masih “tersisa” bau apel. Aroma buah apel inilah yang membuat teman saya ini ‘dicegat’ anjing dan tidak boleh memasuki exit gate di sisi arrival terminal di Bandara Hobart.

Ternyata usut punya usut, teman saya ini punya kebiasaan suka membawa apel untuk jeda makan selama mengikuti kuliah di University of Melbourne pada tahun-tahun itu. Saking lamanya melakukan ‘ritual’ pribadi berupa tradisi membawa buah apel di tasnya saat kuliah itu, dia lupa bahwa aroma bekas buah apel tidak begitu saja hilang dari tas yang dicangklongnya masuk Bandara Hobart.

Ya, ndilalah saja kena batunya: anjing pelacak itu pun tetap bisa mengendus bau apel dan kemudian mencegat jalan dia masuk arrival gate.

Hobart di antara tiang layarAnjing beagle

Tiga hari menjelang berakhirnya tahun 2013, saya terbang dari Bandara Tullamarine di Melbourne menuju Hobart di Pulau Tasmania. Terus-terang, saya sedikit tegang menjalani rute penerbangan ini, terutama setelah mendengar cerita lawas dari teman yang kena ‘razia’ anjing pelacak di Bandara Hobart. Soalnya, saya punya pengalaman sama di Bandara International Perth, West Australia pada tahun 2001 dan kemudian di Bandara Tullamarine Melbourne tahun 2007.

Maka dari itu, agar tidak terjadi hal sama maka jauh-jauh hari semua hal terlarang yang diharamkan masuk Pulau Tasmania sudah saya bersihkan dari ransel dan tas perjalanan. Kapsul-kapsul obat-obatan saya bungkus rapi dengan plastik dalam kemasan ketat. Bau-bau buah-buahkan yang mungkin saja tertinggal di dalam tas saku saya bersihkan.

Pesawat kami mendarat dengan sempurna di Bandara Hobart pada pukul 19.20 waktu setempat. Meski sudah malam hari, namun summer time kali ini tetap menyisakan light saving day yang begitu murah hati: sinar matahari masih bersinar garang menerangi jalur taxy way di bandara ini.

Di ujung jalan masuk menuju entrance gate, sudah ada anjing kecil jenis beagle yang menunggu kami. Untunglah, saya termasuk seorang penyanyang binatang dan suka dengan anjing. Tidak ada rasa grogi sedikit pun menyembul di sudut-sudut emosi saya.

Anjing beagle itu pun kemudian mengendus tas punggung dan tas merah perjalanan saya. Satu kali endusan dirasa sudah cukup dan sedetik kemudian anjing beagle itu pun mengarah pada tas-tas berikutnya milik para penumpang yang lain.

Saya sukses dan selamat dari pemeriksaan ketat sang anjing pelacak di Bandara Hobart. Sejurus kemudian, saya sudah sukses berada di bangku shuttle bus menuju kawasan city di Hobart kurang lebih 20 menit perjalanan dari bandara.

Malam semakin terasa di Ibukota Tasmania ini, ketika akhirnya saya turun di Sandy Beach dimana saya akan tinggal semalam di pusat kota Hobart di Tasmania ini.

Photo: Kawasan wisata di Hobart, Pulau Tasmania (Mathias Hariyadi)

Tautan: 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.