Andai Ibu Arman Mendengar

Arman / Foto : Anis Dewanti

SIANG begitu terik ketika aku harus mengendarai “si butut” pulang dari tempat kerja.Berharap cepat sampai di rumah, aku pacu “si butut” melebihi batas kecepatan maksimal yang disarankan pemilik bengkel langganan. Belum genap 1 kilometer perjalanan, pandangan mataku tertuju pada sesosok pria yang duduk di tengah jalan di samping “kendaraannya” yang khas.

Segera kuinjak rem mendadak agar bisa berhenti tepat di seberang pria itu. Segera kuambil kamera saku dan kubidikkan padanya. Satu, dua, tiga jepretan tak membuat pria itu bergeming. Tapi saat bidikan keempat, dia mulai sadar bahwa aku memperhatikannya. Tak ingin membuatnya bertanya tanya, dengan susah payah aku menyeberang untuk menghampirinya.

“Hai…” sapaku. Dia tersenyum manis.

“Siapa namamu?” tanyaku padanya.

“Arman,” Jawabnya masih dengan senyum yang manis. Sapaan yang berlanjut pada obrolan itu sungguh mengasyikkan di tengah keramaian jalan.

Satu hal yang membuat aku sangat terkesan adalah saat aku bertanya padanya: “Arman… apa yang ingin kamu lakukan yang bisa membuatmu bahagia?”

Dan, jawaban pemuda 20 tahun itu adalah : “Aku di sini sedang belajar jadi ‘Polisi Cepek’. Aku mau bekerja supaya ibuku bahagia”.

Aku pandangi kedua kakinya yang hanya beberapa sentimeter saja dari pangkal pahanya. Aku pandangi sebelah tangannya yang bentuknya sangat jauh berbeda dengan kedua tanganku. Sungguh prihatin aku dengan keadaan pemuda ini. Tapi mataku sungguh tidak bisa melihat sesuatu yang lain yang dimiliki oleh pemuda ini.

Satu pertanyaan lagi kuajukan padanya untuk bisa lebih memahaminya. “Arman….. Kenapa kamu ingin ibumu bahagia?”

Aku tatap matanya yang tampak sangat tulus saat dia menjawab: “Ibuku sangat baik hati…..” Tak perlu aku minta lagi penjelasan darinya seberapa besar kebaikan hati ibunya itu karena aku sudah bisa melihatnya dengan jelas pada pribadi seorang Arman yang berada tepat dihadapanku.

Mataku memandang Arman dengan penuh keprihatinan. Tapi hatiku sungguh kagum dengan niat tulus Arman untuk membahagiakan ibunya.

Aku raih bahunya agar aku bisa sampaikan sedikit pesan untuknya di tengah deru kendaraan yang lalu lalang.

“Arman…. jika kamu nanti tidak mendapatkan uang dari pekerjaanmu sebagai “polisi cepek’, Arman jangan putus asa ya…. Terus berusaha karena pasti akan ada jalan bagi semua orang yang mau berjuang. Jika aku adalah ibumu, aku akan merasa sangat bangga dan bahagia punya anak sepertimu.” Kalimat itu langsung nyerocos aku tujukan kepadanya.

Arman hanya memandangiku tanpa mengucapkan sepatah katapun. “Aku mau pulang Arman…. Ada yang ingin kamu katakan??” tanyaku penasaran.

“Terimakasih bu….” jawabnya terbata. Dia mengulurkan tangannya yang tidak berbentuk sempurna itu untuk menyalamiku. Tentu saja secepat kilat aku jabat dengan erat.

“Terimakasih Arman, senang bertemu denganmu” kataku sambil berlari menyeberang untuk segera pulang.

Keterangan Foto : Arman di atas sepedanya / Foto : Anis Dewanti

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.