Anak Raja Hati Hamba

Ayat bacaan: Matius 20:26
=====================
“Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu; dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu”

Seperti apa rasanya menjadi anak raja? Kita tentu membayangkan akses bebas keluar masuk istana, hidup penuh kemewahan, tidak ada yang berani melawan, punya kuasa besar yang mungkin hanya raja yang bisa melebihi dan sebagainya. Dalam banyak kasus, anak-anak petinggi negara seolah kebal hukum. Jangankan anak raja, anak menteri saja kalau sudah melanggar hukum dan/atau mencelakakan orang tidak ada aparat yang berani menangkap. Hari ini diberitakan, besok menguap entah kemana. Tidak heran kalau banyak dari anak-anak petinggi ini kemudian menjadi arogan, punya gaya hidup mewah dan merasa berhak berbuat seenaknya. Perilaku ini yang agaknya diadopsi oleh banyak anak-anak Tuhan, termasuk yang melayani sekalipun. Mengaku hamba Tuhan, mengaku terlibat dalam pelayanan, tapi perilakunya masih sangat duniawi. Iri hati, dengki, sombong, kasar masih saja menjadi penyakit yang menjangkiti banyak pelayan Tuhan di mana-mana. Bisa jadi mereka yang seperti ini keliru mengartikan nilai-nilai kasih menurut iman mereka, mungkin mereka lupa diri karena berada pada posisi lebih tinggi dibanding orang biasa. Atau mungkin juga, mereka menyalah artikan status. Bingung menyikapi posisi antara hamba Tuhan dan anak Raja. Kebingungan bisa timbul kalau kita mengadopsi prinsip-prinsip pemahaman dunia tentang status seseorang, tetapi sesungguhnya itu tidaklah sulit kalau kita mengacu kepada firman Tuhan. Menjadi anak Raja bukan berarti kita bisa berlaku seenaknya, bukan berarti kita bisa tinggi hati, tetapi justru harus punya hati bagai seorang hamba.

Mari kita lihat perikop dalam Matius 20:20-28. Pada suatu hari datanglah ibu dari anak-anak Zebedeus bersama kedua anaknya, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang keduanya diberi Yesus julukan Boanerges atau anak-anak guruh. (Markus 3:17). Kedatangan sang ibu saat itu adalah untuk memohon kepada Yesus agar kedua anaknya bisa beroleh kedudukan yang baik kelak di Kerajaan surga. Ini adalah hal wajar yang dilakukan seorang ibu terhadap anak-anaknya. “Kata Yesus: “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” (Matius 20:21). Mendengar ucapan ibu ini, Yesus lalu menjawab: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (ay 22a). Yesus ternyata menjawab dengan mengacu kepada kesanggupan mereka untuk menderita dalam mengikuti Kristus, turut memikul salib, turut minum dari cawan penderitaan yang harus Dia minum. Ini sejalan dengan pesan Kristus bahwa siapapun yang mau mengikuti Kristus haruslah siap untuk menyangkal dirinya sendiri dan memikul salib. (Markus 8:34,Lukas 9:23). Sebab, “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku.” (Matius 10:38).

Setelah Yohanes dan Yakobus menyatakan kesanggupannya, Yesus lalu menegaskan bahwa perihal siapa yang duduk di kiri dan kanan Kristus itu bukanlah hakNya, tapi merupakan hak Tuhan sepenuhnya. (ay 23). Meski demikian, Yesus menyampaikan sebuah hal penting. Yesus berkata, “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (ay 26-27). Para pemerintah di dunia merasa punya otoritas absolut sehingga bisa menindas rakyatnya dengan tangan besi, menjalankan kekuasaan dengan keras bahkan kejam, tetapi menyandang predikat sebagai murid Yesus tidaklah berarti bahwa kita berhak seperti itu. Yesus menegaskan bahwa untuk mencapai posisi yang baik, seseorang haruslah rela menjadi pelayan dan memiliki hati seorang hamba. Sebab, “sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (ay 28).

Status yang kita sandang adalah anak Raja, berhak sebagai ahli waris yang artinya menerima janji-janji Allah. Itu disebutkan dalam Roma 8:17. Tapi jangan lupa bahwa seperti yang dikatakan Yesus di atas, status anak Raja kita bukan berarti kita boleh tinggi hati melainkan harus memiliki hati hamba. Saya suka menyebut status ini sebagai anak Raja berhati hamba.

Jika kita ingin besar dan terdepan di antara pengikut-pengikut Kristus, kita bukannya harus meninggikan diri kita dalam kekuasaan, tapi justru kita harus semakin merendahkan diri kita hingga menjadi seorang pelayan dan hamba. Petrus dikemudian hari mengingatkan kembali tentang hal ini, “Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (1 Petrus 5:6). The only way up is by going down. If we humble ourself under God, He’s promised that He will exalt us in due time. Dunia tidak mengenal hal inni, tapi inilah prinsip Kerajaan Surga. Kita anak-anak Tuhan menyandang status sebagai anak Raja, anak dari Raja diatas segala raja. Tapi Kerajaan Surga tidaklah seperti kerajaan di dunia, dimana siapa mereka bisa berkuasa secara absolut sesuka hatinya karena punya kuasa untuk itu. Dalam Kerajaan surga justru kita diminta untuk memiliki kerendahan hati, mau melayani orang lain yang paling hina sekalipun dengan sebentuk hati seorang hamba.

 Memiliki hati hamba dan kerendahan hati untuk melayani berarti pula bahwa kita harus melakukannya dengan penuh kasih, yang menjadi dasar kekristenan. Paulus mengingatkan hal ini: “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!” (1 Korintus 16:14). Seperti apa bentuk kasih itu? “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran.a menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.” (1 Korintus 13:4-7). Inilah bentuk kerendahan hati yang harus dimiliki seorang hamba yang mengabdi kepada Tuhan.

Tidak ada syarat lain untuk mengabdi kepada Tuhan di KerajaanNya selain rela untuk menjadikan diri kita sebagai pelayan yang merendahkan diri di bawah tangan Tuhan dan menjalankan semuanya berdasarkan kasih Bapa surgawi. It’s not about how high we rise, but it’s about how low we go down. Sudahkah kita memiliki sikap anak Raja yang benar menurut Kerajaan Allah, yaitu sikap yang melayani dengan hati hamba?

Pelayan yang baik akan mendahulukan kehendak tuannya ketimbang kepentingan diri sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.